Lelucon Trump soal Nama 'Mohammad' Buka Perdebatan tentang Islamofobia di AS

Sabtu 17-10-2026,19:25 WIB
Reporter : Derry Sutardi
Editor : Derry Sutardi

JAKARTA, DISWAY.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah melontarkan lelucon mengenai popularitas nama Mohammad di kalangan umat Muslim. 

Komentar tersebut disampaikan saat Trump berpidato dalam sebuah kampanye politik di Dalton, Georgia, pada Jumat, menjelang pemilihan umum sela Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November.

Dalam pidatonya, Trump menyebut nama Mohammad sebagai nama yang bisa digunakan ketika seseorang merasa ragu dengan nama orang yang berasal dari Timur Tengah. Ia bahkan melontarkan klaim bahwa kemungkinan nama tersebut benar mencapai sekitar 65 persen.

"Anda tahu, jika Anda ragu dengan nama seseorang dari Timur Tengah, sebut saja 'Mohammad'," ujar Trump kepada massa di Dalton, Georgia, seperti dilaporkan Reuters.

BACA JUGA:Prabowo Ulang Tahun ke-75, Ini Doa Mensesneg, Dasco, hingga Raffi Ahmad

Trump kemudian melanjutkan komentarnya dengan mengatakan bahwa ia telah menggunakan cara tersebut selama bertahun-tahun dan mengaku tidak pernah salah.

Mohammad memang merupakan salah satu nama laki-laki yang banyak digunakan oleh umat Muslim di berbagai negara. Nama tersebut berasal dari nama Nabi Muhammad, sosok sentral dalam agama Islam.

Meski demikian, komentar Trump tersebut mendapat perhatian karena disampaikan dalam konteks pembahasan mengenai Timur Tengah dan hubungan Amerika Serikat dengan Iran.

Lelucon mengenai nama Mohammad itu muncul ketika Trump membahas situasi politik Iran dalam rapat umum yang digelar di sebuah hanggar di Bandara Kota Dalton, Georgia.

Dalam kesempatan tersebut, Trump menyebut Iran sebagai satu-satunya negara yang menurutnya tidak memiliki orang yang ingin menduduki jabatan presiden.

"Iran adalah satu-satunya negara di mana tidak ada seorang pun yang ingin menjadi presiden," kata Trump.

Ia kemudian berpura-pura bertanya kepada sejumlah orang bernama Mohammad apakah mereka bersedia menjadi presiden Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Iran masih menjadi salah satu fokus kebijakan luar negeri pemerintahan Trump. Padahal, sejak 2024, jabatan Presiden Iran telah dipegang oleh Masoud Pezeshkian.

BACA JUGA:BMKG Keluarkan Peringatan Gelombang Tinggi dan Banjir Rob, Ini Daftar Wilayah Terdampak

Dalam laporan mengenai pidato tersebut, massa yang hadir di Georgia disebut memberikan reaksi yang relatif dingin terhadap lelucon Trump. Respons itu menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dari kampanye tersebut.

Kategori :