Survei Synology: Hanya 2 dari 10 Perusahaan Yakin Bisa Pulihkan Data

Kamis 22-10-2026,23:20 WIB
Reporter : Marieska Harya Virdhani
Editor : Marieska Harya Virdhani

Berdasarkan survei Synology, hampir 88 persen responden di Indonesia mengkhawatirkan inefisiensi penyimpanan akibat peningkatan volume data AI dan duplikasi data.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak cukup hanya menambah kapasitas penyimpanan.

Mereka juga perlu memastikan data dikelola secara efisien, performa sistem tetap terjaga, dan infrastruktur dapat dikembangkan sesuai kebutuhan bisnis.

Synology mengembangkan berbagai solusi penyimpanan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dari berbagai skala, mulai dari usaha kecil dan menengah (UKM) hingga perusahaan besar.

BACA JUGA:Serangan Ransomware 'Tidak Bisa Dicegah', Ini Jurus Jitu Zerto Jaga Keamanan Data Perusahaan

Untuk kebutuhan enterprise, Synology memperluas portofolio melalui PAS7700 yang menggunakan teknologi penyimpanan NVMe untuk mendukung kebutuhan operasional kritis.

Perusahaan tersebut juga mengembangkan fitur Synology Tiering dan reduksi data pada sistem operasi DSM 7.4. Teknologi ini membantu mengoptimalkan kapasitas penyimpanan melalui pengaturan penempatan data berdasarkan pola akses dan pengurangan duplikasi yang tidak diperlukan.

Joshua Nathanael, Sales Manager Synology, mengatakan perusahaan perlu mempertimbangkan efisiensi dan kemudahan pengelolaan ketika volume data terus meningkat.

“Seiring bertambahnya volume data, perusahaan tidak cukup hanya menambah kapasitas penyimpanan. Infrastruktur juga harus mampu menjaga performa, meningkatkan efisiensi, dan tetap mudah dikelola meskipun kebutuhan semakin kompleks,” ujar Joshua.

BACA JUGA:Bio-RV, Vaksin Rotavirus Neonatal Kolaborasi Bio Farma dan MCRI, Peroleh Izin Edar BPOM RI

Backup Saja Tidak Cukup untuk Menghadapi Ransomware

Ancaman ransomware membuat perusahaan perlu mengevaluasi strategi pencadangan dan pemulihan data.

Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah ketika sistem backup masih berada dalam lingkungan infrastruktur yang sama dengan sistem utama yang diserang.

Dalam kondisi tersebut, salinan data cadangan berpotensi ikut terdampak sehingga proses pemulihan operasional menjadi lebih sulit.

Karena itu, perusahaan perlu menerapkan strategi perlindungan berlapis, termasuk menyimpan beberapa salinan backup di lokasi berbeda, melindungi data agar tidak dapat diubah sembarangan, serta menguji proses pemulihan secara berkala.

Pendekatan seperti strategi 3-2-1-1-0, immutable backup, dan air-gap dapat membantu memperkuat perlindungan data serta meningkatkan kesiapan perusahaan menghadapi insiden siber.

BACA JUGA:Jangan Asal Sapu Kotoran Tikus, Pakar Entomologi Peringatkan Risiko Hantavirus

Kategori :