Di samping mengeluh dan marah, apa yang dilakukan orang Singapura selama dapat kiriman asap dari kebakaran hutan di Indonesia?
Dari enam orang yang makan bersama saya di salah satu restoran Sichuan Singapura tidak satu pun yang tidak beli penjernih udara. Itu untuk dipasang rumah masing-masing. Harga mesin purifier pun langsung naik dua kali lipat. Yang paling laris merek Xiaomi. Enam orang enam Xiaomi.
"Sekarang AC di rumah saya hidup 24 jam sehari," ujar Robert Lai, sahabat Disway di sana. Ia warga Singapura kelahiran Hong Kong. "Itu karena kami tidak berani buka jendela agar tidak ada asap masuk rumah. Kalau AC tidak menyala ruangan jadi panas," tambahnya.
"Juga beli purifier?"
"Iya."
"Juga merek Xiaomi?"
"Iya."
Perubahan hidup lainnya: kian banyak orang yang ke ''bilik O2''. Ukuran biliknya tidak sampai 1x1 meter. Hanya cukup untuk satu orang. Ke dalam bilik itu dimasukkan oksigen murni. Yakni setelah orang masuk ke dalamnya.
Ada sekitar 10 stasiun ''bilik O2'' di seluruh Singapura. Satu stasiun ada yang punya enam bilik. Awalnya bilik O2 untuk kebugaran paru dan kulit. Juga untuk kelengkapan klinik kecantikan. Tapi sejak ada kiriman asap dari Indonesia, bilik itu juga untuk pasok oksigen tambahan ke dalam paru.
"Satu jam SGD500," ujar seorang wanita yang sudah beberapa kali masuk bilik O2.
Ketika dia mengucapkan itu otak saya berhitung: sebelum ada kiriman asap apakah dia juga bayar O2 sebanyak 500x24 ke alam. Saya tidak berani mengucapkannya.
Masih ada kebiasaan baru lainnya orang Singapura: lebih rajin minum madu. Maka madu Selandia Baru jenis Manuka laris –dipercaya mengandung anti oksidan tinggi. "Sudah sebulan tiap hari kami sekeluarga minum madu," katanyi.
Itu belum cukup. Masih harus rajin minum obat herbal dari Tiongkok. Sudah berbentuk kapsul. Ditambah satu obat batuk non herbal –yang warnanya stabilo mencolok.
Tidak hanya paru dan tenggorokan orang Singapura yang terganggu asap. Banyak restoran yang juga batuk-batuk: begitu aplikasi penanda kualitas udara menunjukkan angka 270 psi banyak orang tidak mau keluar rumah: restoran ikut sepi.
Maka bertambahlah yang marah-marah di medsos. Marah ke Indonesia. Sebaliknya banyak juga orang Indonesia yang balas marah-marah ke Singapura. Saling berbalas marah.
Maka ketika ada berita Indonesia menghentikan pasok gas ke Singapura dibilang itu bagian dari marah-pembalasan dari pihak Indonesia.
Tanggal 24 Oktober kemarin Indonesia memang memangkas pasok gas ke Singapura. Mulai berlaku hari itu juga. Jumlah pangkasannya 31 juta kaki kubik per hari. Yakni dari Natuna 15 juta dan dari Sumatra 16 juta kaki kubik.
Gas itu sampai di Singapura untuk pembangkit listrik milik swasta di sana. Jumlah itu bisa untuk menghasilkan listrik 120 MW. Itu memang tidak ada artinya dibanding kebutuhan listrik seluruh Singapura sekitar 8.500 MW.
Memangkas pasok gas itu mudah: tinggal menutup atau mengecilkan kran di pipa di percabangan ke arah Singapura. Di bawah laut sana pipa gas itu bercabang-cabang. Tiap percabangan dipasang kran buka-tutup.
Pipa gas dari Indonesia ke Singapura itu datang dari dua arah: dari arah Natuna dan dari arah Sumatera. Ratusan kilometer panjangnya. Yang dari Sumatera datang dari dua arah pula: dari Lampung-Palembang dan dari arah Riau. Di dekat Batam ada cabang pipa ke Batam.
Yang dari arah Natuna ke Singapura juga ada cabang ke Batam. Yang dari arah Natuna itu tersambung pula dengan pipa yang dari arah Riau.
Di Lampung sana pipa itu tersambung ke arah Cilegon, Jakarta, Cirebon, Semarang, Cepu, Gresik, sampai ke ujung Madura. Di Gresik bercabang ke Surabaya sampai mentok di Probolinggo (Leces).
Idealnya, yang dari arah Lhokseumawe, Aceh, menuju Medan juga tersambung dengan jaringan pipa Riau. Sekarang masih terputus di Bagansiapiapi.
Maka ketika pemerintah memutuskan menghentikan pasok gas ke Singapura, petugas tinggal menutup kran di percabangan ke Singapura.
Apakah Singapura tidak tambah marah?
Saya mengamati itu selama di Singapura. Belum ada reaksi keras dari pihak Singapura. Yang ada baru sebatas pernyataan bahwa penyaluran gas ke Singapura itu ada perjanjian kontraknya. Pun baru diperpanjang tahun 2022. Singapura masih sebatas minta agar semua pihak menghormati kontrak.
Di medsos ada omelan: Indonesia kelihatannya ketularan Donald Trump. Begitu kepentingan dalam negeri terganggu, keputusan sepihak dilakukan.
Indonesia memang lagi kekurangan gas. Agak akut. Batam kekurangan gas. Pabrik pupuk Sriwijaya kekurangan gas –untuk diubah jadi amoniak dan akhirnya jadi pupuk. Industri di Jawa Barat menjerit-jerit tidak ada kepastian harga maupun pasokan gas.
Indonesia bikin keputusan sepihak. Kali ini semua pihak di Indonesia kelihatannya memuji keputusan Prabowo-Bahlil dalam mengatasi kekurangan gas dalam negeri.
Bahwa Singapura teriak-teriak biarkan saja. Toh pasokan gas dari Indonesia itu tidak sampai 1 persen kebutuhan gas Singapura. Karena itu Singapura tidak mau menunjukkan rasa panik untuk menjaga ketenangan kalangan bisnis mereka.
Sebagian besar gas untuk negeri itu didatangkan dari Qatar dan Australia. Qatar sudah lama punya terminal LNG kelas raksasa. Australia punya terminal LNG baru di dekat Darwin.
Bagi Singapura kehilangan gas dari Indonesia tinggal menambah permintaan ke Qatar –kalau Iran tidak sedang blokade selat Hormuz. Masalahnya: bagaimana kalau harga gas Qatar lebih mahal dari gas Natuna. Mungkin akan terjadi kompromi. Selisih kemahalan tersebut dibuat sharing pain.
Atau Indonesia tidak mau tahu. Pokoknya produksi gas dalam negeri diutamakan untuk keperluan dalam negeri. Bisa juga dalam kontrak memang ada klausul seperti itu.
Apakah Indonesia juga akan berani menyetop pasok gas dari LNG Tangguh ke Tiongkok –lewat terminal LNG di pantai Putian, Fujian? Dengan alasan toh investasi Tangguh sudah terbayar kembali? Dan harga jual gas di zaman Presiden Megawati tersebut dianggap kelewatan murahnya?
Juga beranikah menghentikan ekspor gas dalam bentuk LNG ke Jepang –dari terminal LNG Donggi Senoro dekat Luwuk Banggai?
Perang sosmed soal asap kelihatannya akan berlanjut ke perang medsos soal gas. Tidak ada pabrik senjata yang diuntungkan ketika yang meletus adalah perang di medsos.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 26 Oktober 2026: Perang Hujan
riansyah harun
Asap di Singapura konon akibat ekspor dari negara tetangganya, Indonesia. Betapa marahnya warga disana sampai pada level 9, jika diurutkan dari angka 1 sampai 10. Tapi level yang tinggi itu, sangat tidak berpengaruh terhadap salah satu warganya, Pak Robert Lai. Seorang pencinta Golf, namun bukan warga negara pengimpor asap tadi. Beliau begitu amat sangat bersahaja dalam bersahabat. Sampai begitu rela, menunggu detik detik seseorang berjuang antara mati dan hidup saat operasi ganti hati itu. Turut mengatur dengan sangat kerasnya disipilin pasien dan tamu tamu yang berkunjung pasca operasi. Saat ini.., apa masih banyak kah persahabatan warga antar negara seperti itu...??? Jangan jangan ibarat tetangga bakar sate, yang baunya ke mana mana serta asapnya yang pekat itu, namun tetangga sebelah dibagi satenya pun tidak.
djokoLodang
-o-- *) Abah, begitu susah kah buka hp untuk melihat level psi? Sehingga selalu minta cucu yang melihat. --0-
alasroban
Di Pulau Jawa, matahari terbit sudah agak ke selatan dari posisi semula. Di Eropa, CEST sudah berganti menjadi CET. Di Amerika latin juga sudah terjadi pergantian waktu. Konsekuansinya, iana.org dalam seminggu terakhir sibuk melayani pembaharuan waktu pada komputer di seluruh zona yang berubah waktunya. Saat ini, Angin Muson Timur sedang bertransisi ke Angin Muson Barat. Sebentar lagi tentu musim hujan akan datang.
riansyah harun
Singapura dan Indonesia sudah lama bersahabat. Lokasinya berdekatan pula. Apalagi jika di lihat dari Pulau Batam. Hanya selemparan batu yang dilepas dari katapel. Saking dekatnya dengan Singapura, sehingga Kilauan lampu di kejauhan akan sangat terasa sekali cahayanya. Apalagi jika dipandang dari tempat yang gelap. Pandang memandang dari gelap ke tempat terang inilah sampai menyebabkan seekor kera menjadi terdakwa. Disana terang disini gelap. Tapi kali ini, Singapura tidak bisa terang sendirian, karena disana juga bisa sama sama gelap walaupun tidak total. Gelap karena asap Karhutla. Asalkan tidak sampai membuat gelap mata dan gelap hati, yang membuat emosi bisa naik.
xiaomi fiveplus
coba gantian orang singapura nya diajak ke kalimantan. barangkali bisa mendatangkan hujan.
Bahtiar HS
Cakep sekali dan bernas mahfudhotnya pagi ini Bu Nyai Nimas Mumtazah. Saya catat. Matur nuwun.
Nimas Mumtazah
Cucu putra Pak Iskan.. Tumbuh besar dengan hijab anggun Menemani kakek, menyambung hati dengan kawan² kakek. Pelajaran hidup sedang di ajarkan. Perbincangan CHDI hari ini tidak hanya tentang asap yang menyesakkan saudara kita di kalimantan. Barangkali ini yang di namakan لسان الحال افضل من لسان المقال Abah tidak hanya mengajari cucu tercinta, sayapun mendapat pelajaran berharga.untuk kemudian di tularkan ke anak² cucu. الصدق لا يحتاج الى صوت والقدوة الصادقة تحكي كل شئ Ketulusan tak membutuhkan suara Keteladanan menceritakan segalanya.
Jo Neka
Robert Lay disebut Belahan Hati.Mantunya pak Iskan pun sudah pasti disebut belahan hati.Walau tidak pernah ditulis di sini..Semoga dua orang itu saja yang mendapat julukan itu.Atau adakah belahn hati² yang lain.Anda belum tahu
Irary Sadar
@MH: Jangan ge-er duluan Pak. Oksigen di Bumi ini tidak dihasilkan oleh hutan saja, Pak. Sebagian besar Oksigen yang ada justru dihasilkan oleh lautan. Hutan hanya menghasilkan 30% saja. Jadi jangan ikut-ikutan halu seperti pejabat di Konoha itu. Sombong, tapi salah...
Kak Idam
Indeks kualitas udara secara internasional memakai AQI (Air Quality Index). Singapura memakai PSI (Pollutant Standard Index). Indonesia (BMKG) menggunakan ISPU (Index Standar Pencemaran Udara). AQI biasanya dihitung dari beberapa polutan, terutama PM2.5 dan PM10, serta ozon (O₃), karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO₂), dan sulfur dioksida (SO₂). Nilai indeks ditentukan oleh polutan yang menghasilkan indeks paling buruk pada saat/periode tersebut. Contoh di tempat saya saat ini AQI sbb. : PM10 (51.1) - Warna Hijau: Partikel debu yang lebih besar. Angka ini masih dalam batas aman (Hijau). · SO₂ (2.5) - Warna Hijau: Sulfur Dioksida (biasanya dari asap pabrik/bahan bakar fosil). Sangat aman/rendah. · NO₂ (25.1) - Warna Hijau: Nitrogen Dioksida (biasanya dari asap kendaraan bermotor). Masih dalam batas aman. · O₃ (19.0) - Warna Hijau: Ozon permukaan. Masih dalam batas aman. · CO (10.1) - Warna Oranye: Karbon Monoksida (gas buang kendaraan). Meskipun warnanya oranye, angkanya relatif kecil, namun tetap perlu diwaspadai.
Sadewa 19
Kakak saya di Malaysia juga kena dampak kabut asap. Warung makan yg ia punya jadi sepi pengunjung. Orang enggan keluar rumah. Kabut asap lebih parah dari Covid. Ketika lockdown, covid nggak akan masuk rumah. Kalau kabut asap, sudah di "lockdown" pun, kabut asap masih bisa masuk kedalam rumah. Warung, resturant rumah makan sama saja, asap pada masuk bikin pelanggannya kabur. Saking kesalnya kakak saya ini. "Perasaan saya sudah kabur ke negara lain. Eh tetap kena tulah pemerintah". WNI dan ex WNI dituntut punya kesabaran yg luar biasa. Sampai sampai katanya nanti ada masuk surga jalur WNI. Entahlah...
Jokosp Sp
Lihatlah perjuangan Para Relawan dalam memadamkan api yang sedang berperang melawan kepungan api dan asap. Berjuang kadang sampai lupa, kalau nyawanya adalah yang paling utama. Silahkan lihat di https://youtube.com/shorts/iogyGf7nWnl?si=DsuQug5D71y-XeDD dan di https://youtube.com/shorts/lgm_Ja8682k?si=owgmpyluQ6RTotoT
Jokosp Sp
Skala ISPU (0-500) Udara. 0 - hijau artinya sehat. 100 - Kuning - Orange artinya kurang sehat. 200 - Merah artinya sudah tidak sehat. 300 - Merah darah artinya sudah sangat-sangat tidak sehat (kritis). Per kemarin pagi sempat indek ISPU ada di 4.773 di jam 06.00 pagi. Betapa beratnya yang kami rasakan, pernafasan dan paru-paru berjuang mendapatkan O2 bersih yang bebas dari Polutan. Particulate PM2.5 standard <=2,5 um, actual ada di 1.568 um (1.833 ug/m3). PM10 Particulate <=10 um actual 4.773 um (2.209 ug/m3). SO2 (Sulfur Dioksida) ada di 57 (69 ug/m3). CO (Carbon Monoksida) ada di 123 (9.608 ug/m3). O3 (Ozon Troposfer ada di 3 (6 ug/m3). NO2 (Nitrogen Dioksida) ada di 15 (24 ug/m3). Jadi kalau Singapura ada di 200-300 dalam indikator ISPU maka matahari sudah tidak tembus sinarnya ke permukaan bumi (remang-remang sore suasananya), terjadi sangat panas dan pengap. Ditambah adanya bau menyengat kebakaran itu yang bikin menyesak dalam gangguan pernafasan. Di Borneo sudah tiga bulan ini kami rasakan. Singapura teriak ketika dapat supply asap dari Indonesia, ketika dapat supply Oksigen mereka diam saja. Seperti diamnya ketika para konglomerat menyimpan kekayaan hasil bisnisnya dalam Dolar Singapura (S$). Pemerintahnya toh diam namun menikmatinya dalam segala bisnisnya. Kalau saya menuntut harusnya O2 yang terkirim ke Singapura dari Indonesia itu dipajaki. Selama ini kan gratis. Ah....ndak usahlah.....paling dipalak juga masuk kantong sendiri sama pegawai pajaknya. Amsiong lagi.
Ahmed Nurjubaedi
Minggu pagi kemarin, saya dan murid2 saya mendarat di KLIA2 jam 7 waktu setempat. Gerimis. Udara begitu sugar. Tidak ada asap sama sekali. Steven, sopir keturunan India yang menjemput kami bilang sudah beberapa waktu terakhir Malaysia diguyur hujan. Kabut asap sudah menghilang. Tentu saja saya menyampaikan permohonan maaf, setulus yang saya bisa. Dia tersenyum dan menjawab: Anda dan warga Indonesia tidak salah. Kami mengerti Anda tidak dapat berbuat apa2. Pemerintah Anda yang salah. Para politisi itu memang sama saja dimanapun. Saya mencoba berbasa-basi: tapi politisi Anda baik-baik. Buktinya rakyat Malaysia makmur. Steven: Tidak ada politisi yang baik. Orang baik tidak akan mau jadi politisi. Disini, mereka mengambil 100. Membagikan 80 until rakyat, 20 mereka simpan. Di Nevada Anda, mungkin mereka mengambil 100, dan membagi 10 untuk rakyat.... Dan sepanjang perjalanan menuju hotel, dengan pujian saya untuk negaranya, dia justru menyampaikan hal-hal yang tidak terlihat mata.... Ah... Kami mampir sarapan Nasi Lemak yang cukup maknyusss... Nasi lemaknya mengingatkan saya dengan nasi uduk Lasem, gurihnya ringan dan tidak pulen... Besok Rabu kami akan ke Singapura... Semoga Abah DI masih di sana. Berkenan' bertemu kami, dan mentraktir kami makan.... Berharap boleh, kan? Wkwkwk
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
60. KALAU HUJAN BISA JADI PRESIDEN.. Pak Dahlan datang ke Singapura. Hujan turun. Orang Singapura senang. Angka PSI ikut turun. Kebetulan yang menyenangkan, meski belum tentu bisa dijadikan program kerja pemerintah. Kalau peristiwa itu terjadi di Indonesia, jangan-jangan Pak Dahlan langsung ditawari jabatan Kepala Badan Pengendalian Cuaca. Modalnya sederhana: datang, rapat, hujan. Sayangnya, urutan itu belum tentu bisa diulang. Yang menarik, Singapura kebagian hujan, sementara Kalimantan masih menunggu. Seolah-olah awan pun punya agenda perjalanan sendiri. Sayang, awan tidak bisa ditanya soal prioritas. Apalagi diminta menjelaskan mengapa jadwal kedatangannya meleset. Coba bayangkan jika hujan bisa dipesan seperti taksi daring. Tinggal masukkan koordinat titik api, pilih intensitas, lalu tekan tombol pesan. Beberapa menit kemudian, hujan datang. Kebakaran selesai. Hubungan antarnegara kembali mesra. Sayangnya, teknologi secanggih itu belum tersedia. Kita masih harus mengandalkan ilmu pengetahuan, pencegahan kebakaran, dan keseriusan pemerintah. Jadi, Pak Dahlan belum tentu punya kemampuan mendatangkan hujan. Tetapi beliau berhasil mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih penting: jangan sampai urusan yang bisa dicegah sejak awal akhirnya hanya bisa diserahkan kepada cuaca.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
62. KETIKA HUTAN DIKIRA KOMPLEKS PERUMAHAN.. “Kan gampang. Tiap rumah kan punya hydran. Masing-masing rumah memadamkan lingkungan masing-masing,” begitu CHDI mengutip cara berpikir orang Singapore. ### INI menarik. Bukan karena jawabannya benar, melainkan karena cara berpikir di baliknya. Orang Singapura membayangkan kebakaran Kalimantan seperti kebakaran di kompleks perumahan. Ada rumah, ada hidran, ada lingkungan. Tinggal padamkan satu per satu. Selesai. ### Padahal, hutan bukan kompleks perumahan. Tidak semua titik api punya hidran. Tidak semua lokasi bisa dijangkau mobil pemadam. Apalagi jika api merambat di bawah permukaan tanah gambut. Di sinilah pengalaman sehari-hari bisa menjadi jebakan berpikir. Sesuatu yang mudah di lingkungan sendiri belum tentu mudah di lingkungan yang berbeda. Saya jadi membayangkan, kalau kebakaran hutan bisa diselesaikan dengan hidran per rumah, mungkin kita perlu membangun perumahan di tengah hutan. Lengkap dengan jalan beton dan jaringan air. Tapi tunggu dulu. Jangan-jangan setelah perumahannya jadi, hutannya malah habis duluan. Kadang, masalah bukan kekurangan solusi. Melainkan terlalu cepat merasa punya solusi sebelum memahami masalahnya. Di situlah bedanya melihat kebakaran dari balik jendela dengan menghadapinya langsung di tengah hutan.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
63. MASALAH LINGKUNGAN DI "LUAR SANA"; >>>UANG Rp154 JUTA TAK MAMPU MEMBELI LINGKUNGAN"<<< Warga Hazle Township, Pennsylvania, ditawari Rp154 juta per rumah tangga untuk menyetujui pembangunan data center raksasa seluas 1.300 hektare. Ada pula janji dana komunitas Rp231 miliar dan 2.000 lapangan kerja. Ternyata, warga tetap menolak. Mereka khawatir tarif listrik naik, pasokan air terganggu, suara mesin pendingin berisik sepanjang hari, dan harga rumah merosot. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Di Archbald, kota tetangganya, rencana pembangunan enam kompleks data center memicu kemarahan warga. Proyeknya disebut mencakup hingga 14% wilayah kota. Pejabat yang mendukungnya pun kehilangan kursi. Ironisnya, hampir 17% warga Hazle Township hidup di bawah garis kemiskinan. Tetapi, mereka tak silau oleh uang. Rupanya, ada yang lebih berharga daripada kompensasi. Investasi memang menjanjikan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi. Namun, siapa yang menikmati hasilnya? Siapa yang menanggung dampaknya? ### DATA CENTER boleh menjadi masa depan teknologi. Tetapi, masa depan itu jangan dibangun dengan membuat warga membayar mahal lewat listrik, air, kebisingan, dan lingkungan yang rusak.
kukak_papam
Saestu, saya terharu lihat foto Abah dan om Robert lie, rangkulan, saling memandang. Masyaalloh. Begitulah bersahabat. Semoga njenengan berdua diparingi panjang umur. Agar kelak saya bisa melihat foto seperti ini beberapa tahun lagi.
Irary Sadar
'Memang, kalau di tingkat awal dulu masih mungkin dikendalikan. Tapi kini sudah sangat meluas...' Betul, Abah. Karena kurang gesit dan lambatnya action pemerintah, maka kini begitu luasnya karhutla ini. Lamban berpikir, lamban bergerak -padahal menteri sudah paling banyak- dan merasa mampu mengatasi sendiri, inilah punca kebakaran di Kalimantan itu hingga 4 bulan. Dan bahkan sekarang untuk meningkatkan menjadi Bencana Nasional dia tidak mau... (Amsiong lah..) Jadi, warga Kalimantan, bersabarlah. Kini Pemerintah kalian tidak bisa apa-apa, hanya bisa mengharap batuan dari Langit.
Juve Zhang
Presiden 2029 harus menyetop ekspor batubara karena itu satu satunya energi listrik yg dipunyai Indonesia....dan stok batubara sudah tipis sisa dikit ..kini saatnya menyelamatkan Diri sendiri....jangan sok gaya gaya ekspor batubara ke Tiongkok...ke India ....mereka cadangan batubara masih banyak cuma sengaja disimpan....untuk anak cucu mereka ... Tiongkok cadangan batubara banyak jauh lebih banyak dari Indonesia mereka punya 150 milyar Ton... dibiarkan saja gak di keruk....pun India banyak.... Tiongkok beralih ke energi Air PLTA Energi Matahari.... energi nuklir....itu yg mereka genjot habis habisan....kalau batubara disimpan saja....kalau Indonesia cadangan batubara dikit sok gaya gaya jual ke Luar negeri begitu habis nangis lah Anak Cucu Cicit sudah habis Batubara dikeruk Datuk dikeruk Pak Haji dikeruk Ada...dikeruk semua orang....tangisan anak cucu akan anda dengar disertai sumpah serapahnya ketika anda sudah berbaring sendirian di kuburan....anda baca via WhatsApp....gelap gulita semua ...siapa yg bisa stop batubara ini???? presiden yg gak punya urusan sama batubara....siapa dia ???? Lihat saja nanti 2029....
Juve Zhang
Peta energi listrik konon 2060....saat itu batubara sudah habis ....apa andalan energi listrik Indonesia??? Gak ada yg bisa jawab ... nuklir katanya keliru uranium tak ada banyak ....air keliru sedikit apalagi kemarau....Gas keliru sedikit gak banyak....saat 2060 penduduk Indonesia taksiran tembus 400 juta manusia.... kebutuhan energi listrik akan naik....jadi solusi terbaik stop ekspor batubara...hemat hemat lah sampai bertahun-tahun syukur kuat sampai 2100.......ingat batubara bukan pohon yg tunas dan tumbuh baru .. batubara keruk habis...tak punya anak cucu....itu satu satunya energi listrik yg dipunyai....selain itu tak ada....
Bahtiar HS
Singapura tertutup asap sebetulnya tdk kali ini saja. Dan bukan krn karhutla Indonesia saja. Harusnya mrk belajar dari sejarah. Bila membuka kembali sejarah, kita dapati satu peristiwa Kejatuhan / Pertempuran Singapura, 7-15 Feb 1942. Bagian dari WW2, di mana Singapura jatuh ke tangan Jepang dari genggaman Inggris, dan merupakan peristiwa penyerahan diri terbesar pasukan Inggris dlm sejarah. Sekitar 80 ribu tentara Inggris / Britania Raya, India, Australia jadi tawanan Jepang, menyusul 50 ribu tawanan saat Pertempuran Malaya. Menariknya, kekaisaran Jepang pakai taktik Smoke Screen (tabir asap buatan) utk menyamarkan pergerakan pasukan mereka menyeberangi Selat Johor menuju pantai Singapura. Sembari memborbardir tangki2 minyak di pelabuhan2 menyebabkan Singapura tertutup asap tebal hitam pekat berhari2. Klepepeken dengan asap menyebabkan pasukan dan warga Singapura terlena, sehingga Singapura jatuh ke tangan Jepang dengan mudah. Saat ini, sebenarnya Singapura itu sangat tergantung pd Indonesia. Setidaknya di sisi pemenuhan Gas Alam melalui pipa ke Spore. Sebab 95% pasokan listrik Spore digenerate dari gas alam ini. Kalau pasokan gas alam ini dimatikan, mereka harusnya bakalan keok. Yg kedua, Spore termasuk pengonsumsi dan tergantung bahan pangan segar dari Indonesia. Baik dari Batam, Bintan, atau Riau. Yg ketiga lain2, import Pasir Laut dan Batu alam, serta Tenaga Kerja/TKI. Kalau ketiga resource tsb distop, maka Spore akan klepek2 jg shg mudah ditaklukkan.