Setiap tanggal 28 Oktober, kita mengenang Sumpah Pemuda: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia. Ikrar itu lahir dari keberanian anak-anak muda membayangkan sebuah bangsa yang belum sepenuhnya terwujud.
Kini, hampir seabad kemudian, pertanyaannya bukan lagi apakah kita berani bermimpi tentang Indonesia, melainkan apakah kita sungguh-sungguh bekerja untuk mewujudkannya.
Dari Ikrar Menuju Kenyataan
Semangat itu mengingatkan kita pada lagu Iwan Fals, " Bangunlah Putra Putri Pertiwi". Lagu ini bukan sekadar ajakan untuk bangun pagi, melainkan teguran agar bangsa ini terjaga dari tidur panjangnya.
BACA JUGA:Bangga Main Biola di Hadapan Presiden Prabowo, Siswa SMKN 2 Cibinong Ungkap Makna Pancasila
Kita boleh memiliki Garuda yang perkasa, Merah Putih yang berkibar megah, dan Pancasila yang dihafal di luar kepala. Namun, apa artinya semua itu jika keadilan masih menjadi harapan, kejujuran sering dikalahkan kepentingan, dan persatuan hanya ramai diucapkan saat upacara?
Garuda tidak cukup dipuji karena kegagahannya. Ia harus dibebaskan dari kutu yang menggerogoti sayapnya. Merah Putih tidak cukup dikibarkan di tiang tinggi. Ia harus dijaga agar tidak kehilangan makna di tangan mereka yang mengutamakan kepentingan pribadi.
Begitu pula Pancasila: bukan mantra politik, bukan hiasan pidato, melainkan pedoman untuk memperlakukan manusia secara adil dan bermartabat.
Di sinilah Sumpah Pemuda menemukan relevansinya pada 2026.
Bangkit dari Tidur Panjang
Tantangan generasi muda bukan hanya kemiskinan, pengangguran, ketimpangan kesempatan, dan korupsi, tetapi juga banjir informasi, ujaran kebencian, serta kebiasaan menghakimi sebelum memahami.
Teknologi membuat kita semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin mampu menghargai perbedaan.
Kita bisa begitu fasih berbicara tentang nasionalisme, tetapi lupa mempraktikkan kesantunan. Kita bisa mengaku mencintai Indonesia, tetapi ikut menyebarkan fitnah yang merusak persaudaraan sesama anak bangsa.
Karena itu, bangkit bukan sekadar soal usia muda. Bangkit adalah keberanian membersihkan diri dari prasangka, kemalasan berpikir, mentalitas koruptif, dan kebiasaan menyalahkan orang lain.