Bangkit berarti berani bertanya, berani mengoreksi, dan berani bekerja tanpa harus menunggu pujian.
Pemuda tidak harus selalu berada di panggung kekuasaan untuk mengubah Indonesia. Mereka dapat memulainya dari ruang kelas, laboratorium, desa, tempat kerja, komunitas, hingga ruang digital tempat gagasan dipertukarkan.
BACA JUGA:BULOG Jamin Kesiapan Beras Jelang Nataru, Stok 4,5 Juta Ton Mencukupi, Aman hingga 10 Bulan ke Depan
Nasionalisme di Tengah Banjir Informasi
Sumpah Pemuda juga mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling meniadakan.
Indonesia berdiri bukan karena semua orang memiliki pikiran yang sama, melainkan karena keberagaman dipertautkan oleh cita-cita bersama.
Kritik bukan pengkhianatan terhadap bangsa, sebagaimana pujian bukan bukti otomatis kecintaan kepada negara.
Hal terpenting ialah keberanian menjaga akal sehat, menyampaikan kritik dengan tanggung jawab, dan menilai segala sesuatu berdasarkan kenyataan, bukan semata-mata kebencian atau fanatisme.
Hampir satu abad setelah para pemuda mengikrarkan persatuan, tugas kita belum selesai. Indonesia tidak kekurangan simbol kebesaran; yang selalu dibutuhkan adalah manusia yang bersedia menghidupkan maknanya.
Sebab, sebuah bangsa tidak menjadi besar hanya karena lambangnya gagah, benderanya tinggi, atau semboyannya indah.
Bangsa menjadi besar ketika rakyatnya memperoleh kesempatan yang adil, pemimpinnya dapat dimintai pertanggungjawaban, dan warganya tidak kehilangan kepedulian terhadap sesama.
BACA JUGA:BRIN Bakal Uji Coba Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla
Hampir Seabad Tugas Belum Selesai
Maka, pada 28 Oktober 2026 ini, mari kita dengarkan kembali pesan Iwan Fals: #bangunlah, putra-putri Pertiwi!# Jangan biarkan nasionalisme berhenti sebagai upacara tahunan.
Jangan biarkan Sumpah Pemuda menjadi hafalan yang kehilangan daya hidupnya.
Bersihkan negeri ini, mulai dari diri sendiri. Rawat persatuan tanpa membungkam perbedaan.