Djauhari Irawan

Djauhari Irawan

--

Tidak saya sangka: masih bisa bertemu Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun di Beijing. Bulan lalu saya baca berita: Presiden Prabowo sudah menunjuk duta besar baru yang akan menggantikannya. Namanya: Irawan Ronodipuro, putra seorang diplomat legendaris Indonesia, M. Yusuf Ronodipuro, pengurus pusat Gerindra.

Memang untuk jabatan duta besar tidak bisa langsung bertugas. Setelah diangkat ia masih harus diusulkan ke pemerintah negara yang akan ditempati. Dalam hal Irawan, pemerintah Tiongkok harus lebih dulu menyetujui penempatannya. Itu perlu waktu. Bisa cepat, bisa lambat. Rata-rata perlu proses enam bulan.

Berarti Dubes Djauhari masih akan tetap di Beijing, setidaknya, mungkin, sampai April tahun depan. Karena itu ketika saya dan rombongan pengusaha ke Beijing masih bisa bertemu.

Ada yang baru di Kedubes RI di Beijing. Kini ada jabatan baru di sana: wakil duta besar. Wanita. Muda. Langsing. Tinggi. I-nyi lima. Namanyi satu kata: Irene.

"Saya lahir di Jayapura," ujar wadubes. Bapaknyi orang Pekanbaru. Ibunyi wanita Jakarta. Dia seorang dokter yang jadi diplomat. Pendidikan S-2 nyi di Universitas Pertahanan: bidang diplomasi pertahanan.

Dokter Irene unik: pendidikan SMA-nyi di kota Dalian –satu kota cantik di provinsi Liaoning –di seberang Korea. Dalian adalah kota pertama di Tiongkok yang berhasil mengubah kekumuhan menjadi kota yang amat cantik. Setelah Dalian berubah barulah kota-kota lain di seluruh Tiongkok mengikuti jejak kecantikannya.


Irene saat dilantik Presiden Prabowo Subianto, Desember tahun lalu.--

Djauhari Oratmangun memang legenda hidup. Ia duta besar terlama dalam sejarah diplomasi modern Indonesia: sembilan tahun.

Dua tahun lalu, ketika bertemu dengannya, saya menyangka ia sudah tercatat sebagai duta besar terlama. Ternyata ia mengoreksi penilaian saya itu. "Duta besar yang di UEA masih lebih lama. Beda satu bulan," katanya.

Satu bulan setelah pertemuan itu sang duta besar UAE diganti. Berarti dua bulan kemudian Djauhari sudah pemegang rekor terlama. Apalagi dua tahun berikutnya pun belum diganti. Akan kian sulit mengejar rekornya.

Selama Djauhari menjabat duta besar, hubungan perdagangan Indonesia-Tiongkok naik tiga kali lipat. Menjadi yang terbesar. Pun bila dibanding dengan seluruh negara Eropa dijadikan satu. Yang lebih hebat lagi: kini perdagangan Indonesia surplus dari Tiongkok –seperti mustahil dicapai mengingat banjirnya barang Tiongkok ke Indonesia.

Saya amat jarang mampir ke salah satu kedutaan kita di luar negeri. Lain dengan Beijing. Saya tergolong sering ke Keduataan Besar Republik Indonesia di Beijing. Ada saja urusan. Pernah karena sulit cari tempat berlebaran Idul Fitri –saat kami kebetulan di Beijing. Ke Kedutaanlah yang pasti ada ketupat Lebaran.

Pernah karena diundang untuk mengisi acara Ramadan di situ –ketika didengar saya sedang di Beijing. Pernah juga karena harus mengantar pasien transplantasi hati untuk minta legalisasi dokumen.

Selasa malam kemarin kebetulan ada acara penting di Kedubes RI Beijing: resepsi diplomatik. Yang diundang kedutaan seluruh dunia di Beijing. Rombongan Disway Business Adventures Vol. 5 kebetulan ke Beijing. Sekalian diundang.

Meski acara itu mundur satu minggu kami tetap dijadwalkan ke Kedubes: makan malam. Horeee. Gratis. Kebetulan sudah tiga hari rombongan dibombardir masakan setempat. Sudah kangen masakan Indonesia. Bu Wiwik Oratmangun, istri duta besar, pandai sekali masak –di samping sangat pandai menyanyi.


--

Yang terakhir itulah yang kadang membuat saya takut ketemu pak Dubes Djauhari: takut disuruh menyanyi. Pernah saya harus ada acara di Kedubes RI di Beijing. Saking takutnya saya terpaksa mengajak teman yang bisa menyanyi: suami Janet. Aman.

Selasa malam kemarin saya lebih aman. Dalam rombongan kami banyak yang bisa menyanyi. Bahkan, salah satunya bisa menyanyi lagu yang saya belum pernah mendengar, pun judulnya: Sesuatu di Jogja. Ia seorang doktor ahli politik kesultanan Indonesia. Ia peneliti sultan-sultan yang pernah dan masih ada. Termasuk mengapa ada sultan yang bisa terpilih jadi DPRD/DPR/DPD di Pemilu. Mengapa pula tidak. Bahkan ada sultan yang di Gowa yang sudah enam kali ikut Pemilu selalu kalah dari keluarga dinasti baru Syahrul Limpo.

Nama anggota rombongan yang satu ini: Dr Bayu Dardias Kurniadi. Ia tahu jerohan kesultanan di seluruh Indonesia. Sangat mendalam. Apalagi kesultanan Jogja dan Solo.

Keluarga Bayu pengusaha pasir batu yang besar di Sumedang. Istrinya juga ilmuwan langka: doktor antropologi kedokteran. Dua-dua dari UGM. Mereka tinggal berdua di rumahnya di Jogja. Dua anaknya kuliah dan kerja di Belanda. Sudah setahun Dr Bayu menjabat asisten staf khusus Mas wapres.

Anggota rombongan lainnya, Sumantoro Radjiman, menyanyi lagu My Way yang dipelesetkan jadi Disway. Danishara Maria Ulfa, putri pengusaha Demak Bu Mur, menyanyi lagu mandarin. Dengan jilbab hitamnya dia menyanyikan lagu Qing Fei De Yi.

Di barisan depan saya lihat Yosephin, putri pengusaha AC kereta dari Solo menggerak-gerakkan kaki saat Danishara menyanyi. Saya tarik Yosephin ikut nimbrung. "Saya tidak bisa menyanyi," katanyi. Banyaknyi yang memaksanyi tampil. Ia cantik. Lulusan dan masih tinggal di Brisbane, Australia. Begitu dia mau tampil ternyata hot: dia yang geraknya paling atraktif.

Tentu kita semua menunggu tuan rumah menyanyi. Bu dubes menyanyi lagu Jawa dan Mandarin. Pak dubes menyanyi Yue Liang. Wadubes dr Irene yang sudah hampir setahun menjabat wakilnya Pak Djauhari, menyanyikan lagu Killing Me Softly.

"Saya senang sempat berguru ke Pak Djauhari," ujar dr Irene merendah. "Beliau adalah guru saya. Mentor saya," tambahnyi.

Menu malam itu istimewa: pepes ikan, rendang, pecel Wonosobo, dan aksesorinya.

"Lho ada ya Pecel Wonosobo," tanya saya ke Bu dubes. "Saya pikir di dunia ini hanya ada Pecel Madiun," tambah saya.

"Ini dinamakan Pecel Wonosobo hanya karena yang masak saya," jawab Bu dubes lantas tersenyum.

Ada yang terasa aneh di Pecel Wonosobo made in Bu dubes ini: sayurnya kacang panjang, kecambah, irisan wortel, dan daun yang sangat hijau. Belum pernah ada pecel dengan sayur seperti itu. "Maafkan, sulit cari sayur seperti di Madiun. Ini pakai sayur kale," ujar Bu dubes.

Ups... pecel dengan sayur kale. Di Indonesia sayur kale itu mahal sekali. Biasanya untuk salad. Inilah kali pertama makan pecel dengan sayur kale. Ternyata sangat cocok dengan bumbu pecelnya. "Saya akan minta istri kalau bikin pecel pakai sayur kale," kata saya kepada Bu dubes.

Ludes.

Saya bangkit dari meja makan. Saya ingin tambah pecel dengan sayur kale. Sudah habis. Rupanya semua memperebutkan pecel. Sejauh-jauh bangau terbang akhirnya pecel juga. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 28 Oktober 2026: Djauhari Irawan

alasroban

Pak DI dulu cita-citanya cuma 2. Beli sepatu sama sepeda. Sepatunya masih terlihat. Kemana-mana selalu pake sepatu kets. Itu artinya beliau selalu siap siaga jika suatu saat ada yg mengajak main bola voli. Nah sepedanya itu sampe sekarang tak kelihatan. Justru cucunya pak Iskan yg terlihat sering sepedaan. Entah dulunya pernah punya cita-cita beli sepeda atau sepatu? :)

Ima Lawaru

Beberapa minggu ini saya baru tersadar: persamaan saya dengan Abah adalah tidak suka pakai jam tangan, cincin, dan segala macam perhiasan lainnya yang bikin risih.

Juve Zhang

Pak Guru Ahmed coba main ke sekolah kebangsaan di Johor Bahru mungkin kaget sekolah Katolik saya lupa namanya misal Santo Yoseph tapi murid nya 70% muslim....itu sekelas SMA dikita....ada lagi ini sekolah kebangsaan Infant Jesus murid nya bera ga m agama setingkat SD di Melaka....sila mampir ke sekolah unik ini saya cuma jalan kaki lihat siswa beragam dan papan nama sekolah nya mengagetkan....

Ahmed Nurjubaedi

Selasa kemarin, saya & siswa-siswi SMP Khadijah Surabaya berkunjung ke International Islamic School Malaysia di daerah Gombak. Tim guru yang menyambut kami begitu lugas & penuh semangat. Kami diajak berkeliling ke penjuru sekolah primary sampai secondary dengan mode setengah berlari hampir 1 jam. Serasa bersenam ala Abah DI. Acara dilanjutkan dengan penampilan budaya. Murid2 kami menampilkan lagi Surabaya o, Surabaya dan Rek Ayo Rek dengan penuh penghayatan. Sampai mata saya terasa hangat, padahal bulan asli arek Suroboyo. Siswa-siswi kami lantas dibagi dalam kelompok kecil untuk mengikuti kegiatan English immersion dengan para siswa IISM hingga menjelang sore. Saya sebenarnya sudah menghubungi Datuk Diraja untuk mampir ke salah satu supermarket beliau, sayangnya waktu keluar dari IISM sudah terlalu sore. Semoga lain waktu bisa mampir, ya Datuk... Saya bertanya ke murid2 Saya: Apa yang membedakan KL dan Surabaya? Jawaban mereka: lebih bersih; tidak ada kabel semrawut di tiang-tiang sepanjang Jalan; dan, semua wilayahnya hampir seperti daerah Tunjungan-enak buat jalan2 ...

Wilwa

Saya menemukan bahwa asam Jawa yang merupakan bumbu utama sayur asam yang saya sukai ternyata berasal dari pohon di kanan kiri jalan raya Daendels. Tamarindus Indica yang berasal dari benua Afrika yang dibawa pelaut untuk mencegah sariawan ternyata ditanam Daendels sebagai pohon serba guna. Asam Jawa kaya vitamin dan mineral adalah “pocari sweat” alami untuk tentara yang tentu kecapaian berjalan 1000 km dari Batavia ke Surabya. Pohon Asam juga membuat teduh jalanan sepanjang tahun dengan daun-daun yang kecil-kecil (tak seperti pohon Jati/Teak yang daunnya besar namun berguguran saat musim kemarau). Akarnya tumbuh vertikal ke bawah sehingga tidak merusak jalan (seperti Beringin yang akarnya tumbuh horizontal sehingga merusak jalan). Batang dan dahannya lentur dan tak mudah patah (seperti akasia). Pemilihan phon asam di sepanjang jalan Daendels benar-benar cermat secara ekosistem. Sayang kini banyak yang ditebang untuk pelebaran jalan. Pohon yang mempengaruhi kuliner tanah Jawa. Yang kayu bakarnya minim asap. Yang buah dan daunnya penuh nutrisi untuk memulihkan tenaga manusia maupun kuda saat itu. Yang akarnya begitu dalam menembus bumi mencegah erosi dan longsor. Dulu ssam dipakai untuk mengawetkan makanan di Eropa sono. Sebuah komoditi yang sangat cuan untuk Belanda. Simak youtube ini: Daendels’ Secret Tactic: Why Was Every Highway in Java Planted with Tamarind Trees? 17 Oct 2026. Javanese Studies.

sigit

Xiong An dibangun bukan untuk menjadikan sebagai ibukota Tiongkok ang baru, melainkan sebagai kota masa depan, agar tidak menjadi padat di Beijing, beberapa departemen dan instansi pemerintah yang dipindahkan. Xiong An dibangun dengan konsep peradaban tehnologi tinggi yang ramah lingkungan. Dijadikan sebagai kota kembarnya Beijing.

Bahtiar HS

Alah-alah ternyata baru dewasa kali ini. Berarti wingi2 iku isih bocil nakal ya? Layak ke IKN yg di tengah hutan itu kemarin dulu pipis sembarangan di semak2 di bawah pohon. Maklum masih bocil. Gak masalah. :))

ALI FAUZI

Di Indonesia hampir semua program pemerintah pusat targetnya disesuaikan dengan berakhirnya priode jabatan presiden. Pun program pemda. Targetnya seiring dengan habisnya masa jabatan gubernur/bupati/walikota. Untuk program pemerintah pusat saat ini, lihat saja 8 Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN --penjabaran dari Asta Cita). Bidang kesehatan, misalnya, stanting dan kesehatan ibu-anak turun di bawah 10% pada 2029; cek kesehatan gratis mencapai 60 juta penduduk pada 2029. Untuk program berkelanjutan, seperti pembangunan IKN, Presiden Jokowi ngos-ngosan mesti meresmikan dimulainya pembangunan sebelum habis masa jabatannya. Untuk program pembangunan pemda, misalnya yang terjadi Pemprov Jakarta. Dulu Gubernur Anies Baswedan juga "berlari" untuk bisa meresmikan pembangunan Jakarta International Stadion (JIS) sebelum masa jabatannya berakhir. Mereka, presiden/gubernur/bupati/walikota, memang bermental pedagang. Karenanya programnya lima tahunan.

Sugi

Pembangunan Xiong An yang dari delapan tahun yang lalu dan baru benar2 difungsikan tahun 2050 mengingatkan saya pada masa awal pembangunan Batavia oleh VOC setelah kota tsb (Jayakarta) direbut. Hampir 30an tahun juga hingga kota tsb benar-benar berfungsi dan dapat memenuhi kebutuhan warga kotanya. Padahal teknologi lebih maju pada era saat ini. Membangun ibu kota memang harus bertahap, akan kacau kalau kesusu. Bukan begitu, Bah?

Tiga Pelita Berlian

Cawapres terpopuler bulan ini : Bahlil Lahaladia itu saja .. Seklangkong

Achmad Faisol

yang menarik dari ucapan pak ferry latuhihin di YT forum keadilan tv kurleb: asing takut sama pemerintah indonesia... itu kenapa mereka ambil duit dan kabur... ####### benar nih ucapan presiden, "kita tidak takut..." karena yang justru takut adalah asing...

djokoLodang

-o-- Mati Lampu, Pada hari pertama sekolah, bu Guru mengadakan permainan untuk mencairkan suasana bagi para murid baru. Setiap murid yang terpilih harus mengutarakan pekerjaan ayah mereka dengan singkat, tidak boleh lebih dari lima kata. Murid-murid lain harus menebak apa pekerjaan tersebut, dan siapa pun yang menjawab dengan benar akan mendapat giliran berikutnya. Bu Guru memulai permainan dengan memanggil Susi kecil. Susi maju ke depan kelas, menegakkan bahunyi, lalu dengan bangga berkata, "Ayahku mengiris orang pakai pisau." Banyak tangan langsung teracung di seluruh kelas, namun sang guru menyadari bahwa hanya Joni kecil yang tidak mengangkat tangannya. Seorang murid yang biasa dipanggil Si Gendut berhasil menebak dengan benar bahwa ayah Suzy adalah seorang dokter bedah; lalu ia pun mendapat giliran. Ia berdiri di depan kelas dan berkata, "Ayahku mengurung orang." Sekali lagi, banyak tangan teracung ... kecuali tangan Joni. Permainan berlanjut, sampai semua murid kecuali Joni kecil mendapat giliran. Bu Guru bertanya, "Joni, apakah kamu ingin teman-temanmu menebak apa pekerjaan ayahmu?" "Ya!" jawabnya, lalu ia melompat maju ke depan kelas. "Ayahku makan bola lampu." Sang guru terkejut mendengarnya dan bertanya, "Ia makan bola lampu? Benarkah? Bagaimana kamu tahu?" "Begini, Bu Guru, setiap malam aku dengar ia bilang ke Mama, 'Matikan lampunya! Aku mau makan punyamu itu!'" --0-

pak tani

Justru kalau putar2 pakai aplikasi, jadi bingung. Karena Aplikasi memerlukan tujuan dan rute untuk menentukan tarif. Dari tujuan dan lokasi awal tersebut ada perhitungan dari sistem untuk admin, dll. Tidak segampang argo yang hitung per Km. Jadi keputusan untuk putar2 menggunakan taxi offline sudah tepat. OK GAS

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

  1. PETA MATI, ARGOMETER TETAP HIDUP Bagian ini justru paling menarik. Pak DI dan sopir taksi tidak banyak bicara. Peta digital dimatikan. Argometer tetap berjalan. Urusan pembayaran pun belum dibicarakan. Di zaman serba digital, ternyata masih ada teknologi yang sangat sederhana: kepercayaan. Meski, tentu saja, argometer tetap perlu diawasi. Peta digital membantu menentukan arah. Argometer menghitung ongkos. Keduanya punya fungsi berbeda. Yang satu menjawab, “Kita mau ke mana?” Yang lain menjawab, “Sudah habis berapa?” Sopir itu mungkin ingin menunjukkan bahwa ia tidak perlu dipandu peta. Tetapi ia tetap menggunakan alat ukur tarif. Artinya, pengalaman boleh menggantikan teknologi navigasi, tetapi perhitungan biaya tetap memerlukan ukuran yang jelas. Ada humor kecil di sini. Peta boleh dimatikan, tetapi ongkos tidak ikut tersesat. Dalam perjalanan hidup pun begitu. Kita boleh tidak selalu memakai peta. Kadang pengalaman cukup menjadi penunjuk arah. Namun, untuk urusan biaya, janji, dan tanggung jawab, sebaiknya jangan hanya mengandalkan perasaan. Sebab, arah bisa dicari sambil jalan. Tetapi tagihan biasanya datang setelah perjalanan selesai.

mas piet

hari ini 98 tahun yg lalu sumpah pemuda digaungkan, menyatukan perbedaan, melepas egosentrisme menjadi kekuatan melawan kolonialisme... saat ini segala bentuk perbedaan ditonjolkan, bahkan yang penting asal bisa tampil beda sumpah kehilangan maknanya bermetamorfosis jadi sampah, lihatlah sumpah jabatan yang diinjak² cuma sebatas ritual seremonial belaka... sampai kapan kita terjebak dalam kubangan hipokrisi alih2 bisa menghargai heroisme para pahlawan?

Irary Sadar

Saya orang yang paling tidak setuju IKN dibangun waktu itu, hingga saat ini. Terlalu kesusu. Entah untuk apa. Tapi jika negeri sudah makmur, jalan antar lintas Kalimantan sudah aspal sampai kepelosok. Jembatan di desa-desa sudah tidak gemeretak lagi jika dilewati pejalan kaki. Dermaga atau pelabuhan kampung nelayan sudah pakai tonton, bukan dari kayu yang dikat tali. Transoprtasi antar pulau sudah layak sehingga tidak ada pasien yang meninggal hanya tidak ada kapal unutk ke puskesmas. Pendidikan sudah murah, bahkan buku sudah disubsidi. Papua jalannya sudah aspal dimana-mana. Pesawat perintis seperti Susi air semakin banyak. Natuna tidak kesulitan solar dan pertlite. Kampung di Kepri sudah tidak pakai genset yang hidup jam 6 sore, mati jam 6 pagi. Jika sudah makmur seperti itu, silahkan bangun IKN. Seperti China, mereka membangun kota baru setelah hidup rakyatnya bercukupan.

Wilwa

Akibatnya muncul fenomena meledaknya”gig job” yaitu menjadi pengemudi ojol. Pekerjaan informal yang di T sana digeluti oleh lulusan S1 hanya untuk survival. Persis di sini.

Wilwa

@Eksan. Betul rakyat T yang tinggal di kota raksasa seperti Beijing, Shanghai, Shenzhen, dll terutama generasi mudanya sangat-sangat stress. Kompetisi di sekolah hingga kerja sungguh luar biasa. Makanya sekitar seperlima dari generasi muda itu hanya rebahan. Karena tak mendapat pekerjaan. Walau lulusan S1. Apalagi kini mereka harus bersaing dengan AI dan Robotisasi. Rebahan 躺平 (tang ping, baca: thang phing ) bahkan sampai membusuk 摆烂 (bai lan, baca: pai lan). Ini adalah masalah sosial generasi muda T yang bikin pening Xi Jinping.

pak tani

Pak Bos keren abis. Naik taxi offline di T ngga pakai tawar menawar. 1. Sepertinya taxi scam di T sudah 'mendingan' dengan adanya teknologi peta digital. Medsos Lebih banyak memberitakan taxi scam di Istanbul. Terlebih Pak Bos fasih berbahasa T. Supir taxi akan pikir 2x kalau mau melakukan scam. 2. Dompet tebal, bukan kaum mendang mending hhh Lalu, kira2 habis berapa ya ongkos taxi putar2 Xiong An? Perkiraan saya masih dibawah 200RMB. Mungkin kurang dari 500k rupiah. Enteng, itung2 buang receh buat Pak Bos. Pembayarannya? tentu Alipay / Wechat Pay. Tapi melihat isi tulisan, tersirat ada kekhawatiran HP Pak Bos belum terkonek internet. Tenang, masih bisa kok bayar cash ke supir taxi, apalagi jika diikuti kata2 mutiara : 'Ambil saja kembaliannya' :) Lalu, berapa rekor ongkos taxi termahal di T? setahu saya : 30.000 RMB sekitar 65Juta! Oopps. Bukan scam, tapi itu perjalanan dari Hainan Ke Harbin :) Ya. Influencer Perancis yang sudah lama tinggal di T membuat challenge. Perjalanan dari ujung selatan ke utara T. Sekitar 4.000 Km! Uniknya, sang supir taxi bahkan belum pernah pergi keluar dari Pulau Hainan :) Perjalanan 4hari tersebut sangat menyentuh. Layak disimak dan dinikmati oleh para perusuh. Sedikit membuka mata, bagaimana potret kehidupan masyarakat T, dari sisi seseorang yang berprofesi sebagai supir taxi. Tertarik untuk menonton? Saya yakin anda bisa mencari sendiri di internet. Jangan kalah dengan Bocah tua nakal yang bisa keliling dunia meskipun ATM disita :)

Er Gham 2

Banyak kasus keracunan. Namun tidak diketahui akar penyebabnya. Apakah ada unsur kesengajaan. Atau sekedar kelalaian akibat ketidaktahuan. Kalau disebutkan karena makanan basi, itu bukan penyebab. Itu fakta. Harus ditelusuri mengapa basi: apakah lalai, tidak tahu, atau sengaja. Awal awal dimaklumi jika tidak tahu. Tapi ini sudah diperbaharui prosedur nya. Mungkin diperbaiki. Mosok akar masalahnya hanya karena lalai terus. Sampai kapan.

pak tani

Kalau saya lebih milih Alon alon asal kesusu

Gregorius Indiarto

T, membangun IKN barunya dengan perencanaan yang matang. Meski banyak duit, T membangun IKN nya tetap dengan prinsip Jawa, "alon alon asal kelakon" Beda dengan negeri Q, membangun IKN dengan kesusu. Anda pasti sudah tahu, susu tidak jauh dengan sikut. Jika Anda kesusu kalau tidak hati hati bisa kesikut. Pun ketika membangun IKN dengan kesusu, akhirnya kesikut, nyikut sana nyikut sini, utang sana utang sini. T, membangun IKN dengan terencana. I, membangun IKN lebih terkesan untuk mengukir sebuah nama. Tampaknya, nama itu benar terukir, terukir diatas pasir. Met siang, salam sehat, damai dan bahagia.

David Kurniawan

sesuai filosi ngawur jowo "mending kesusu - daripada kesikut".

riansyah harun

ASAP BAWAH LAUT Jika Pak Dahlan sekian hari lalu ada Tiongkok, mungkin akan gagap jika tidak ada internet. Apalagi tidak ada yang menjemput beliau di Bandara kedatangan. Namun karena gara gara asap, sampai internet bawah laut pun terancam akan di cut (potong). Ini baru berita hangat. Yang mengangkat ide potong kabel ini adalah seorang politikus Singapura Calvin Cheng Ern Lee. Ramai. Sampai sampai ibu Menteri kita yang mengepalai Komunikasi dan Digital itu, angkat bicara lewat akun Instragram resminya. Berbalas pantun sudah dimulai.., dan sayapun tidak akan bisa membayangkan jika ini benar benar terjadi. Efek yang paling awal terasa, justru ketika bangun pagi hari, kita tidak bisa lagi melacak tulisannya Pak Dahlan yang terbit pada pukul 04.00 pagi. Mungkin akan banyak orang yang ramai ramai pindah ke Ibukota Baru milik Tiongkok yang masih sepi itu.., namun ibarat sebuah Kota yang sangat maju yang siap menampung pendatang yang hengkang gara gara putusnya saluran kabel bawah laut..., ekh salah.., saluran internet.

Liáng - βιολί ζήτα

CHDI : "Bisakah antarkan saya muter-muter Xiong An? Setengah jam cukup?" kata saya kepada sopir taksi. "Setidaknya satu jam," jawabnya. "Dari sini ke Kota Baru memakan waktu 20 menit. Baliknya nanti 20 menit lagi" tambahnya. "好的。可以。谢谢. 走吧," kata saya. Xióng ān itu terletak di Tiongkok utara..... kalau menyesuaikan dengan gaya bahasa di Utara, maka yang lebih familiar adalah : 行,我們走吧。 Itu lebih menunjukkan tercapainya kesepakatan secara cepat, antara perkiraan Abah DI dan usulan Pak Sopir Taxi tersebut.....

Wilwa

@AgusS3. Netanyahu sukses. Deadlock semacam ini sudah terjadi berkali-kali dan membuatnya tetap berkuasa sejak 2009. Alamat perang dengan Iran terus berlanjut.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

  1. JAM 13.30: BAGAIMANA KELANJUTAN NETANYAHU..? Pemilu Israel kali ini menyajikan ironi. Benjamin Netanyahu memang unggul. Partai Likud miliknya tetap yang terbesar. Tapi ia gagal meraup mayoritas. Penantangnya, Gadi Eisenkot, setali tiga uang. Keduanya sama-sama mandek di kisaran 51 kursi. Padahal butuh minimal 61 kursi untuk menguasai parlemen, Knesset. Lalu di mana kunci kemenangannya? Rupanya ada di tangan partai-partai Arab Israel. . Mereka sukses meraup 18 kursi. Sebuah lonjakan suara yang bikin kaget. Secara matematis, mereka kini jadi penentu. Siapa pun yang didukung partai Arab, dialah yang akan berkuasa. Namun politik selalu punya egonya sendiri. 1) Netanyahu menolak mentah-mentah. Ia ogah berkoalisi dengan partai Arab. 2) Eisenkot pun sama saja. Ia sudah lebih dulu menutup pintu. Keduanya terkunci oleh sentimen internal. Israel pun terancam jalan buntu. Di tengah panasnya situasi Timur Tengah, mereka butuh pemerintahan yang solid. Nyatanya, pembentukan kabinet malah tersandera. Netanyahu masih akan duduk sebagai perdana menteri sementara. Ia kini harus menunggu lobi-lobi politik yang pasti berjalan sangat alot. Kunci kekuasaan itu sebenarnya sudah ada di depan mata. Hanya saja, dua kubu utama yang berseteru tersebut sama-sama enggan memungutnya.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

  1. ANAK PADANG JADI WALI KOTA DI KANADA.. Alvin Tedjo terpilih menjadi Wali Kota Mississauga, Ontario, Kanada. Ia mengalahkan wali kota petahana Carolyn Parrish dan mantan wali kota Bonnie Crombie. Hasil sementara mencatat Alvin meraih 74.479 suara. Jauh meninggalkan dua pesaing utamanya. Di balik kemenangan itu, ada kisah perantauan yang menarik. Alvin berdarah Tionghoa-Indonesia. Ayahnya, dr. Anto Tedjo, seorang dokter gigi kelahiran Padang, Sumatera Barat. Tahun 1978, ketika Alvin berusia empat tahun, keluarganya hijrah ke Kanada. Tentu bukan perjalanan ringan. Di negeri baru, sang ayah bahkan pernah bekerja sebagai pencuci piring dan pengantar makanan. Dari bawah, keluarga itu membangun kehidupan. Alvin kemudian terjun ke politik. Pada 2022, ia terpilih menjadi anggota Dewan Kota Mississauga. Ia pernah mencoba menjadi wali kota dalam pemilihan sela 2024, tetapi kalah. Ia tidak menyerah. Tahun ini, ia maju lagi. Dukungan warga terus menguat hingga mengantarkannya menang. Kini, anak Padang itu bersiap memimpin sebuah kota besar di Kanada. Kisahnya mengingatkan kita pada daya juang para perantau. Berangkat dari tanah leluhur, meniti jalan panjang, lalu dipercaya memimpin di negeri orang. ### Rantau boleh jauh. Akar tetap punya cerita.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 121

  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
    • pak tani
      pak tani
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
    • Liáng - βιολί ζήτα
      Liáng - βιολί ζήτα
    • Liáng - βιολί ζήτα
      Liáng - βιολί ζήτα
    • Wilwa
      Wilwa
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Edi Susanto
    Edi Susanto
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
  • Jhel_ng
    Jhel_ng
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
  • pak tani
    pak tani
  • pak tani
    pak tani
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
    • yea aina
      yea aina
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • IZHAR FRANDY KUSUMA
    IZHAR FRANDY KUSUMA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • sinung nugroho
    sinung nugroho
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
  • Lukman Nugroho
    Lukman Nugroho
  • Lukman Nugroho
    Lukman Nugroho
  • Lukman Nugroho
    Lukman Nugroho
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Lukman Nugroho
    Lukman Nugroho
  • kukak_papam
    kukak_papam
  • kukak_papam
    kukak_papam
  • kukak_papam
    kukak_papam
  • kukak_papam
    kukak_papam
  • kukak_papam
    kukak_papam
  • kukak_papam
    kukak_papam
  • Aviv Setiawan
    Aviv Setiawan
    • yea aina
      yea aina
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • yea aina
      yea aina
    • mario handoko
      mario handoko
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • yea aina
      yea aina
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • yea aina
      yea aina
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Gerring Obama
    Gerring Obama
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Nimas Mumtazah
    Nimas Mumtazah
  • Nimas Mumtazah
    Nimas Mumtazah
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • yea aina
      yea aina
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Nimas Mumtazah
      Nimas Mumtazah
  • Warung Faiz
    Warung Faiz
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • yea aina
      yea aina
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Leong Putu
    Leong Putu
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • Nimas Mumtazah
    Nimas Mumtazah
    • Nimas Mumtazah
      Nimas Mumtazah
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Turrachman Rachman
    Turrachman Rachman
  • Muhammed Khurmen
    Muhammed Khurmen
    • xiaomi fiveplus
      xiaomi fiveplus
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • Sugi
    Sugi
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • DeniK
    DeniK
  • ALI FAUZI
    ALI FAUZI
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
  • rid kc
    rid kc
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • satria tomat
    satria tomat
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Muh. Hidayat
    Muh. Hidayat
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • alasroban
    alasroban
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • Gregorius Indiarto
    Gregorius Indiarto
    • Gregorius Indiarto
      Gregorius Indiarto
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺