Imlek Banteng

Imlek Banteng

--

SAYA buka seluruh kancing baju. Saya bergegas ikut duduk di atas rumput –sebelum wanita itu berdiri untuk menyalami kedatangan saya. Beberapa orang di sebelahnyi sudah terlihat mulai berdiri. Saya tidak mau wanita itu bersusah berdiri. Lebih baik saya segera ikut duduk di rumput –sama-sama lesehan di situ. Toh rumputnya tebal. Rata. Bersih. Enak juga duduk di atasnya. Menghadap panggung. Ada pertunjukan di panggung malam itu –lagi menampilkan band mahasiswa ITB.

Wanita itu muda. Bukan wanita biasa. Dia wakil menteri. Tapi tidak seperti pejabat pada umumnya. Dia hanya pakai kaus. Celana jeans. Khas gaya anak muda masa kini. Dia wakil menteri ekonomi kreatif: Irene Umar. Buddha. Vegetarian. Summa Cum Laude. Pernah di banyak negara sebagai eksekutif Standard Chartered Bank.

Saya duduk agak jauh dari Irene, satu-satunya anggota kabinet yang beragama Buddha itu. Dia adalah ketua panitia Imlek Nasional di Lapangan Banteng ini.

Saya sendiri datang terlambat. Saya harus lebih dulu hadir di acara Imlek yang lain: di studio pusat Metro TV. Di acara inilah teman-teman tokoh Tionghoa bertanya: apakah saya sudah ke Lapangan Banteng. Ketika saya berterus terang ''belum'' mereka menyesalkan.

"Harus ke sana," kata Gandi Sulistiyanto Suherman, petinggi Sinar Mas yang juga mantan duta besar RI untuk Korea Selatan itu.

"Harus," ujar Wani Sabu, vice president Bank BCA dan GM Djarum yang duduk di sebelah saya.

Tomy Suryopratomo, komisaris Metro TV yang baru mengakhiri tugas sebagai dubes di Singapura juga hadir di situ.

Aneh, pikir saya. Acara Imlek Nasional kok di Lapangan Banteng. Biasanya kan di gedung berbintang dan ber-AC. Aneh. Saya pun ingin ke sana. Malam itu juga.

"Dari sini kita langsung ke Banteng," bisik Helga Abraham. "Saya panitia di sana," tambahnyi.

Helga saya tahu: dia panitia di mana-mana. Muda. Cantik. Cekatan. Biasa acaranya sukses. Paguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMTI) juga sering menyerahkan acara besar ke Helga.

Maka begitu Dirut Metro TV Arief Suditomo dan pejabat Kedubes Tiongkok di Jakarta selesai berpidato, saya menengok ke Helga. Mengedipkan mata. Yang dikedipi merasa waktunya tiba. Dia bangkit dari kursi. Saya menunggu lampu di studio diredupkan dulu. Akan ada acara tari setelah itu.

Sudah begitu lama saya tidak masuk lapangan Banteng. Sesekali hanya melewatinya. Yakni kalau dari Pasar Baru. Atau kalau ke Hotel Borobudur. Tapi tidak tahu lagi seperti apa dalamnya.

Ingin sekali melihat hebatnya pedalaman Lapangan Banteng sekarang –sampai acara Imlek Nasional pun diadakan di situ. Acaranya satu minggu. Puncaknya nanti malam: dihadiri Presiden Prabowo Subianto.

Tentu saya punya kenangan khusus di Lapangan Banteng. Tahun 1975. Ketika Anda dan Anda belum lahir. Lapangan itu masih kumuh. Masih jadi pusat terminal bus kota Jakarta.

"Datang saja ke terminal Lapangan Banteng": ke mana pun Anda ingin ke pelosok Jakarta ada bus jurusan ke sana. Yang dominan: bus Mayasari Bhakti. Selebihnya saya lupa. Tidak ada yang ber-AC. Kernetnya teriak-teriak sambil berdiri satu kaki di pintu bus: "Bios! Bios! Bios!" kaki satunya berayun-ayun di luar bus.

Saya baru sekali itu dengar kata ''Bios''. Diteriakkan terus oleh kernet. Keras sekali. Saya tidak tahu artinya. Tapi terdengar menggoda.

Saya loncat ke dalamnya. Saya berniat dalam satu hari itu akan naik bus kota ke semua jurusannya. Bus jurusan Bios itu pasti akan balik lagi ke terminal Lapangan Banteng. Lalu pindah bus jurusan lain. Balik lagi ke Lapangan Banteng. Naik jurusan lain lagi. Balik lagi. Makan di terminal. Minum di terminal. Salat di terminal. Ke toilet di terminal.

Makannya nasi bungkus. Minumnya air dalam kantong plastik yang diikat karet gelang. Status saya masih wartawan magang di Majalah TEMPO. Yakni saat ikut pendidikan jurnalistik yang diadakan LP3ES yang dipimpin Nono Anwar Makarim.

Sebagai wartawan dari Samarinda saya harus segera memahami jalan-jalan Jakarta. Dalam tempo sesingkat-singkatnya. Agar kapan pun dapat tugas liputan sudah tahu arahnya ke mana: harus naik bus kota jurusan itu. Jadilah saya wartawan yang cari berita naik bus kota! Lalu jalan kaki mencari lokasi liputan.

Kalau ada slogan ''sekejam-kejam ibu tiri masih lebih kejam ibu kota", maka pusat kekejaman ibu kota itu ada di Lapangan Banteng. Saya lihat kehidupan sangat keras di situ. Copet, tipu, bentak, tinju, teriak, tangis, lenguh, semua ada di sana.

Sekian tahun kemudian saya dengar kekejaman yang lain terjadi di Lapangan Banteng: kekejaman politik.

Kala itu baru ada dua partai politik: PDI dan PPP. Lalu ada satu golongan: Golkar. Tiga itulah yang boleh ikut Pemilu. PPP terlihat kian menguasai ibu kota. Kampanyenya selalu dibanjiri pendukung. Lalu akan ada kampanye akbar PPP di Lapangan Banteng. Itulah kampanye penutup seminggu sebelum Pemilu 1977. Golkar sangat terancam kalah telak.

Di akhir kampanye besar itu, menjelang senja, terjadilah bentrokan fisik yang sangat berdarah. Pemilu tinggal tujuh hari di depan. Nama PPP diharapkan hancur.

Saya sudah lupa: apakah akhirnya Golkar bisa menang di ibu kota –yang biasanya selalu kalah.

Sekian tahun lagi kemudian saya dengar Lapangan Banteng dibenahi. Jadi taman kota. Di zaman gubernur DKI Anies Baswedan Lapangan Banteng dipercantik. Tapi saya tidak tahu apakah bisa secantik Helga.

Akhirnya saya tahu. Malam itu. Baru malam itu. Kamis malam lalu. Bersama Helga saya ke Lapangan Banteng. Mobil berhenti di depan gerbang depan Hotel Borobudur.

Saya terpana.

Sepanjang jalan depan hotel itu dihias. Gemerlap. Penuh lampion. "Kita buat seperti Orchard Road," ujar Helga. Maksudnyi: Orchard Road Singapura di waktu malam di waktu Imlek.

Lalu kami memasuki gerbangnya. Ada plasa luas di situ. Plasa itu diubah: dijadikan semacam museum Imlek. Museum terbuka. Saya merasa sayang kalau semua ini dibongkar dan dibuang setelah bazar imlek ini selesai. Saya perhatikan pengerjaannya bagus-bagus. Profesional.

Kami terus melangkah ke tengah lapangan bertaman itu. Ternyata ada danau buatan. Penuh air jernih. Danaunya kecil tapi cantik. Sekecil-kecil danau masih lebih besar dari kolam besar. Ada plasa beratap artistik di salah satu sisinya. Ada panggung besar di seberangnya.

Air adalah lambang kelembutan. Damai. Teduh. Kekejaman Lapangan Banteng di masa lalu seperti sudah lama ditenggelamkan ke dalam air danau buatan itu.

Di plaza yang di tepi danau itulah puncak acara imlek dilaksanakan nanti malam. Di panggung seberang danau itulah Presiden Prabowo akan berpidato. Di panggung itu pula sejumlah tari dan nyanyi dipertunjukkan –jangan-jangan presiden akan nyanyi spontan malam nanti.

Danau itu dibangun di dekat ikon utama Lapangan Banteng: patung pembebasan bangsa. Salah satu dari banyak patung yang pembangunannya diprakarsai Bung Karno.

Patung di situ menggambarkan seorang laki-laki yang dengan semangatnya mematahkan rantai besi yang membelenggu kedua tangannya: bebas dari penjajahan Belanda.

Di sisi lain dari patung itulah dibangun panggung gembira. Menghadap lapangan rumput. Menampilkan kreativitas anak-anak muda.

Wamen Irene sedang duduk di atas rumput menyaksikannya. Ketika saya tiba di sebelah wamen, band dari Universitas Indonesia sedang mengakhiri penampilannya. Diganti band dari ITB.

Lagu pertama band ITB itu yang bikin lapangan rumput histeris: Bohemian Rhapsody dari Queen. Dokter ahli jantung Jagaddhito Probokusumo yang menemani saya sampai ikut ber-Rhapsody. Lagu berikutnya masih dari Queen: Dont Stop Me Now.

Baju saya sangat tidak cocok dengan itu: batik merah yang dibuat istri khusus untuk acara imlek. Maka saya copot semua kancing baju: biar tidak terlalu ditertawakan rumput yang bergoyang. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 27 Februari 2026: Petir Ngambek

Murid SD Internasional

Saya penasaran, Boy The @Liam Then pakai AI yang mana? Sepertinya ChatGPT, yang bertipe "yes, yes, yes" untuk setiap ide / pemikiran yang dilemparkan. 1. Astra dan Krama Yudha dibilang banner lokal, tapi jeroan asing. Astaga... Padahal nenek-nenek ambeyen di pelosok terpencil Sumbawa pun tau, TKDN di industri otomotif Indonesia itu cukup tinggi. Komponen besar memang masih impor, tapi komponen kecil seperti body, interior, ban, kaca, kabel, dan tenaga kerja mayoritas, jelas lokal. 2. Masuk BEI disebut parah. Waduh apa lagi ini?? Perusahaan yang listing di BEI justru membuka kesempatan bagi investor lokal -- masyarakat Indonesia -- untuk bisa memiliki saham dan menikmati laba dividen dari perusahaan tersebut. Kalok mereka ndak listing, kepemilikan tetap asing penuh. Dengan listing, jadi ada distribusi kepemilikan ke publik Indonesia. Ternyata @Liam Then dan AI-nya sama-sama kompak halu berjamaah. 3. Mereka ekspansi pakai uang kita. Lah? Perusahaan IPO pakek duit kita kan memang untuk ekspansi, dan itu ndak sepihak. Kita sebagai inpestor yang lempar duit ke mereka kan juga berharap return. Jadi ini adalah kontrak finansial yang sah. Kalok perusahaannya tumbuh, nilai saham meroket, dividen dibagikan, kan kita sebagai inpestor juga yang senang. Jadi bukan "remah-remah fluktuatif", melainkan "risk-return trade-off" yang normal di pasar modal. Duh, camana pikiran Boy dan AI-nya ini? Dah lah, capek kali aku...

Liam Then

Tahun 2025, Jardine dapet dividen interim triliunan. Uang itu hasil dari orang Indonesia yang nyicil mobil pakai bunga bank yang tinggi. Duit itu terbang ke Singapura. Pas sawit kita diblokir, apa Jardine bantu lobi ke Inggris/Eropa? Enggak! Mereka tetep minta bayaran cash. Inilah kenapa pemerintah pilih India. India mau barter sawit, Jardine cuma mau sikat devisa. Siapa yang sebenernya 'Halu'?"

Udin Salemo

masih lebih baik memberikan lapangan pekerjaan untuk penduduk lokal, daripada memberikan cuan koper-koper pada perusahaan mobil bollywood yang tentu saja mempekerjakan penduduknya sendiri. nehi, nehi... wkwkwk...

Liáng - βιολί ζήτα

iseng-iseng saja Maka ilmu manajemen dan bisnis harus memperbaiki teori-teorinya: mengapa selama ini tidak mengajarkan teori ngambek dalam literaturnya.(Dahlan Iskan) ada yang lebih heboh koq, Abah DI..... ssttt..... bisik-bisik saja ya Abah..... konon, zaman dahuluuuuu..... ada seseorang, sekarang sudah menjadi Mantan Sesuatu..... sepertinya Beliau tidak pernah mendalami ilmu manajemen dan bisnis, apalagi dengan ilmu per-ngambek-an-nya segala..... tetapi..... di gerbang tol..... kursi pun melayang terbang..... maka..... kecipratanlah ilmu kungfu, dengan bertambah satu jurus baru..... dan..... sayang sekali, literatur ilmu kungfu hingga kini tidak/belum mengajarkan jurus-baru tersebut..... wkwkwkwkwk..... sudah ah..... mendingan nyanyi saja.....

Liáng - βιολί ζήτα

selingan Masih anget nih..... belum lama keluar dari dapur rekaman..... Sebuah lagu baru yang lembut, baik musiknya maupun liriknya..... Dan..... pada bagian paduan suaranya, sepertinya menjadi bagian yang memiliki daya-pikat tersendiri..... (lagu ini ada versi solo-nya juga). 想和你見一面 (Xiǎng hé nǐ jiàn yīmiàn) ---> I want to meet you https://youtu.be/SauqlPY-gOY Liriknya ditulis oleh 李守俊 (Lǐshǒujùn), sedangkan komposisi musiknya oleh 歐陽尚尚 (Ōuyáng shàng shàng), dan aransemennya oleh 裴禹鋒 (Péiyǔfēng). Dirilis pada tanggal 13 Januari 2026, oleh penyanyi 洋瀾一 (Yáng lán yī). 想和你見一面 (Xiǎng hé nǐ jiàn yīmiàn) ---> I want to meet you 想和你見個面你是否會方便 (xiǎng hé nǐ jiàn gè miàn nǐ shìfǒu huì fāngbiàn) 這麼久不見你有沒有改變 (zhème jiǔ bùjiàn nǐ yǒu méiyǒu gǎibiàn) 你過得好與壞本來與我無關 (nǐguò dé hǎo yǔ huài běnlái yǔ wǒ wúguān) 但這顆心拗不過想念 (dàn zhè kē xīn niùbuguò xiǎngniàn) [1/2]

Irary Sadar

Kalau main-main, tentu mereka bilang bahwa buka koperasi sebanyak itu adalah gampang. Tapi bagi mereka yang pernah mengelola warung atau pun minimarket, tentu tau betapa susahnya jualan saat ini. Apalagi sekarang ada Mart-alfa dan IndoApril, yang ada dimana-mana. Koperasi belum jalan, eh sekarang berani beli kendaraan untuk operasional? Herman saya, diluar Nurul...

mario handoko

selamat pagi bp thamrin, bp agus, bp udin, bp jokosp, sobat yea, bp em ha dan teman2 rusuhwan. "kemenperin soal pekerja mie sedaap dirumahkan. tidak ada phk, bukan modus thr." demikian berita di detik.com. mie sedaap mulai kurang sedap beritanya. apakah karena kalah sedap dengan menu mbg. atau karena kondisi ekonomi yg tidak sedap.

yea aina

Kampanye 2029 sudah dimulai, pun sejak hari pertama menjabat. Berbagai bentuk konsolidasi diupayakan, dari bentuk koperasi sampai makan bergizi. Mereka pura-pura buta dan tuli ketika muncul banyak resistensi dan kritik. Mungkin dianggap kerikil kecil tak berarti, yang menghalangi. Padahal dampak ekonominya mulai terasa. Inflasi mulai merangkak tinggi, akibat kontraksi rantai pasok dan distribusi kebutuhan pokok. Pun korban keracunan MBG, hanya dianggap barisan 0,00 sekian persen, angka statistik saja. Miris.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Beli impor karena produksi lokal kemahalan. Sebuah langkah BUMN yang "nggak mikir". Harusnya pemerintah "jadi mikir" kenapa produsen lokal nggak bisa murah. Oh ternyata banyak pungli. Oh ternyata banyak pajak. Oh ternyata banyak ormas minta duit. Oh ternyata banyak demo. Oh ternyata masih banyak bahan yang diimpor. Oh ternyata banyak tenaga kerja asingnya sehingga mahal. Oh ternyata banyak pejabat daerah juga suka minta jatah. Oh ternyata banyak preman sehingga tenaga keamanannya harus banyak. Oh ternyata banyak pengeluaran di luar HPP yang membuat biayanya tinggi. Kalau kemudian pemerintah mau mikir, ya itu diberesin dulu. Bukan kemudian: "Ya sudah, kita impor saja karena lebih murah!"

Fendi Njau

Perencanaan cepat dan senyap agar tidak heboh (打草惊蛇). Realisasi secepat kilat agar tidak masuk angin (夜長夢多).

Milyarder Setia

Kenapa KDMP tetap seberani itu dijalankan? Menurut saya karena, kdmp itu adalah dana desa yang sekarang berbentuk bangunan usaha(KDMP). Karena ketika KDMP dibangun, dana desa porsinya mengecil(atau bahkan hilang), jadi si pembuat kebijakan percaya diri saja. Harapannya agar KDMP jalan, kalaupun enggak ya gak masalah banget, kan juga selama ini dana desa diberikan cuma-cuma. Hanya saja masyarakat harus siap mungkin pembangunan infrastruktur desa ,jalan, parit, dll mundur. Bahwa, harus punya mobil bagi tiap KDMP (bahkan dipaksakan impor) itu penstandaran bukan berasal dari analisa kdmp yang sudah jalan. Lalu ketika KDMP itu nanti gak jalan, itu barang akan dikemanakan? Masak bank himbara suruh tarik itu semua? Mungkin orang pemerintahan bilang, "jangan pesimis bro, harus optimis". Seoptimis-optimisnya usaha, harus menyisipkan skenario terburuk. Dan ketika hal terburuk itu terjadi, siapkah? Atau cukup lepas tangan?

Jairi Deep

Saya tau pak Joao dari tulisan pak Dahlan , dari kejadian yang saat ini terjadi pendapat saya mungkin pak Joao sebenarnya tidak masalah dengan bran mobil atau pengadaan mobil dari mana saja asalkan programnya berjalan , kalo yang saya tau spesifikasi mobil yang dibutuhkan pak Joao jika itu memang harus di beli dari pabrikan japan yang memang sudah ada pabriknya di indonesia itu harganya tergolong MAHAL dan jauh sekali dengan harga mobil dari pabrikan india yang lebih MURAH itu . Keadaan yang sangat dilema Beli dengan pabrikan sendiri/pabrik yang ada di indonesia dengan harga yang MAHAL atua membeli dari impor dengan harga yang MURAH disitulah alasan Nasionalisme aka menjadai perdebatan tersendiri oleh sekelompok orang . Apapun hasilnya nanti impor atau lokal , saya berharap progaram yang ada harus tetep BERJALAN dengan baik dan amanah "tidak masalah kucing itu hitam atau putih yang penting bisa menangkap tikus"

Kujang Amburadul

Ssssst... Kucingnya merangkap tikus hehe.

Captain Bejo

Andaikan dirut ESEMKA ngambek Mungkin tender 105K pickup ini bisa jadi berlabel ESEMKA. ⚡️⚡️⚡️⚡️

Liam Then

Terima kasih @Bang HM. Ternyata itu namanya. Ngambek-ngambekan ini biasa sekali di dunia kerja. Bedanya dengan Pak Joao, cuma levelnya. Beliau ngambek level nasional.

Hendri Ma'ruf

Kalimat penutupnya perlu mendapat catatan penting. Pak Dahlan menutup artikel pagi ini dengan kata-kata: "Maka ilmu manajemen dan bisnis harus memperbaiki teori-teorinya: mengapa selama ini tidak mengajarkan teori ngambek dalam literaturnya." "Ngambek" perse (ngambek semata-mata ngambek) memang tidak dikenal dalam teori manajemen. Tetapi "ngambek sebagai strategi" secara tidak langsung bisa ditemukan dalam pendapat Thomas Schelling dalam buku "The Strategy of Conflict" yaitu berupa "bluffing," "leverage." Di tempat lain, ada Larissa Tiedens menyodorkan cara pemanfaatan power, dalam apa yang disebut power play. Ngambeknya Joao Angelo de Sousa Mota karena ia tahu kekuatan dirinya adalah kedekatan dengan pak Prabowo dan bisa ia pakai dalam power play. Ada lagi dua pengarang buku yang berkaitan dengan office politics atau politik kantor. Khususnya tentang bagaimana mempengaruhi atasan yang orang penting. Ditulis oleh David Kipnis dan Stuart M. Schmidt, judulnya "Profiles of Organizational Influence Strategies." Kesimpulannya: "Ngambek" digunakan oleh Joao Angelo de Sousa Mota dengan satu atau kombinasi dari teori-teori di atas, meskipun bisa jadi Joao tidak membaca buku-buku itu. Ia bisa jadi melakukannya dengan intuisinya.

Juve Zhang

Perundingan Iran A di Geneva Gagal Total....perang Iran A segera menghapus cerita Komodo makan kambing guling....ganti dengan peperangan dan penutupan selat Hormuz.... Harga minyak diramal akan mencapai 500 USD per barel dari sekarang 65 USD per barel.....lupakan komodo ngambek ....ingat impor Indonesia satu juta barel sehari .....hari kedepan mobil listrik akan menari nari kegirangan melihat harga minyak 500 USD per barel

Murid SD Internasional

Saya nyaris keselek tatkala menikmati hidangan penutup sahur barusan, gara-gara baca salah satu Komentar Pilihan @Liam Then. Dua komentator time travel yang sengaja datang dari tahun 2075 -- datang dari masa depan -- di CHD kemarin, @Liam Then sebut titik koordinat keduanya tidak konsisten, dari Iran, pindah ke Sukabumi. Lalu disimpulkan, bahwa itu bukan time travel, tapi alamat Gojek yang salah input! =)))) Kalau saya setetangga kosan dengan @Liam Then, pasti sudah saya sikut, dan saya berbisik begini: "Boy, kau ini, aduh, ckkk... Tak bisakah kau melihat orang lain bahagia sikit? Bayangkan. Dua orang, time travel, dan kejeblos ke kolom komen CHD, kau sebut halusinasi mental?? Astaga. Kau ini betul-betul killjoy, ngobrak-abrik bahagia orang. Apa susahnya kau iyakan? Misal keduanya betul dari tahun 2075, bukankah itu kesempatan langka untuk kau tanya, misal: 'Bang, saham gocap yang moncer di 2026-2027, saham emiten mana saja?'. Atau kau bisa tanya: 'Bang, 2030 Indonesia jadi bubar tak? Atau di 2029, siapa yang naik jadi presiden? Tetap incumbent, ataukah mendadak Cak Imin?'. Nah, kau lihat itu, Boy? Cuba kau ini pandai manfaatkan situasi. Ada yang time travel, alih-alih kau serang dia, kau bisa tanya-tanya soal masa depan, seperti apakah nama kau di Disdukcapil Pontianak tahun 2045 masih sehat wal afiat atau tidak, atau tanya-tanya soalan lain yang spektakuler."

Jokosp Sp

Dalam managemen nemang tidak diajarkan "ilmu ngambek", tapi semacam protes bisa dilakukan oleh bawahan ke atasan. Bahkan atasan ke top managemen puncaknya. Disebut managemen biasanya klas golongan direktur, bod up. Bawahan bisa protes ke atasan lewat job kerjanya molor padahal waktunya banyak. Disebut mengulur waktu sebagai bahan negosiasi. Atasan ke managemen bisa dalam bentuk: dihubungi ngeles bilang lagi di lapangan tidak ada sinyal. Masih meeting dengan customer. Lagi dampingi customer, lagi ke pemda ada undangan bupati. Bedanya kalau klas bawahan mudah dideteksi cara ngelesnya, sedang kalau boss lebih halus cara mainnya. Kok kamu tahu?. "Saya pernah di tengah-tengah mereka sebagai penghubung di kantor pusat dan di site". Pernah ikut melakukannya?. "Pernah". Berhasil?. "Sukses". La kok?. "Atasan dan nanagemen puncak bisa abai juga karena besarnya proyek, jadi harus diingatkan lewat ngambek itu". Apalagi pemerintah ya?. "Ya yang birokrasinya lebih rumit dan mbulet". Ya paham mase. "Tapi yang salah kalau ngambeknya buat cari ceperan. Ceperan yang ember-emberan".

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KEPUTUSAN YANG LAHIR DARI HEBOH.. Di negeri yang birokratis, kadang sunyi tidak produktif. Justru riuh yang menggerakkan. Pengunduran diri jadi alarm. Bukan sekadar berita. Tapi penanda ada yang tersumbat. Lalu pintu dibuka. Cepat. Menariknya, hasilnya bukan sekadar klarifikasi. Tapi mandat baru. Skala nasional. Kantor, gudang, gerai. Dari satu kursi yang sepi kerja, berubah jadi peta kerja se-Indonesia. Ini bukan sulap. Ini respons terhadap sinyal. Ada pelajaran sederhana. Sistem butuh umpan balik. Kalau kanal resmi lambat, realitas mencari pengeras suara. Bukan untuk gaduh. Untuk didengar. Di kantor, notulen rapat sering tebal. Tapi keputusan tipis. Kali ini sebaliknya. Notulen mungkin satu paragraf. Keputusan berhalaman-halaman. Akhirnya, yang diuji bukan siapa paling keras suaranya. Tapi siapa paling siap menunaikan amanah setelah pintu terbuka. Karena setelah heboh reda, yang tersisa hanya kerja. Dan hasil yang bisa dihitung.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

ARSITEKTUR KUASA DAN SENI MENGETUK PINTU.. Yang menarik bukan ngambeknya. Tapi labirinnya. PT, yayasan, induk, cucu, penugasan. Struktur seperti gedung bertingkat tanpa papan arah. Orang baik bisa tersesat. Orang nekat menemukan tangga darurat. Cerita ini mengingatkan: desain organisasi menentukan nasib keputusan. Jika jalur resmi terlalu panjang, pesan mencari jalan pintas. Bukan melanggar. Hanya mempercepat takdir administrasi. Ada ironi manis. Negara ingin rapi. Praktiknya tetap manusiawi. Ada hubungan, ada kepercayaan, ada panggilan nurani. Birokrasi butuh prosedur. Tapi juga butuh telinga. Saya jadi teringat prinsip lama: kebijakan yang baik harus bisa dikerjakan orang biasa. Jika tidak, yang bekerja justru keberanian luar biasa. Pelajaran praktisnya sederhana. Rapikan struktur. Pendekkan jarak. Biar pesan tidak perlu drama. Biar energi dipakai untuk produksi, bukan navigasi. Kalau arsitektur jelas, ketukan pelan sudah cukup. Tidak perlu petir. Tidak perlu ngambek. Hanya kerja. Dan hasil.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 94

  • dabudiarto71
    dabudiarto71
  • Sugi
    Sugi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Gregorius Indiarto
    Gregorius Indiarto
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • yea aina
    yea aina
  • Waris Muljono
    Waris Muljono
    • Fuad Nurhadi
      Fuad Nurhadi
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • Liam Then
      Liam Then
    • Gregorius Indiarto
      Gregorius Indiarto
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Lagarenze 1301
    Lagarenze 1301
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Sumartan
    Sumartan
  • Liam Then
    Liam Then
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Komentator Spesialis
    Komentator Spesialis
    • Liam Then
      Liam Then
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Pryadi
      Pryadi
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Komentator Spesialis
      Komentator Spesialis
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Komentator Spesialis
      Komentator Spesialis
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Liam Then
      Liam Then
  • Leong Putu
    Leong Putu
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Tiga Pelita Berlian
    Tiga Pelita Berlian
  • Hendri Ma'ruf
    Hendri Ma'ruf
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Tiga Pelita Berlian
    Tiga Pelita Berlian
  • Ardi Suhamto
    Ardi Suhamto
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • DeniK
    DeniK
  • sigit
    sigit
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
  • hanya yotup
    hanya yotup
  • Ima Lawaru
    Ima Lawaru
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Sri Wasono Widodo
    Sri Wasono Widodo
  • Ima Lawaru
    Ima Lawaru
    • alasroban
      alasroban
    • Ima Lawaru
      Ima Lawaru
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • WASITH channel
    WASITH channel
  • alasroban
    alasroban
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Ima Lawaru
    Ima Lawaru
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Ima Lawaru
      Ima Lawaru
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
    • Rashad Alvarado
      Rashad Alvarado