Kemenag Latih 305.344 Guru Lewat KBC, Jawab Tantangan Pendidikan Era Digital
Kementerian Agama (Kemenag) merilis Belajar Mandiri Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)-disway.id/Moh Purwadi-
JAKARTA, DISWAY.ID -- Kementerian Agama (Kemenag) merilis Belajar Mandiri Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Menag Nasaruddin Umar mengatakan bahwa KBC hadir sebagai ikhtiar menjawab berbagai tantangan dunia pendidikan, antara lain kekeringan batin, penurunan kualitas akhlak, bullying, kekerasan, dan kebencian.
Dijelaskan Menag, Kemenag menghadirkan KBC sebagai paradigma baru yang menekankan pendidikan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.
BACA JUGA:Konpers Dua Kali, Pemuda Katolik Sarankan Klarifikasi JK Soal Ceramah di UGM Lebih Efektif
“Kita tidak ingin melahirkan anak didik yang kering batinnya, hanya tajam pikirannya. Yang kita harapkan adalah pikirannya tajam tapi hatinya juga subur,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Rabu, 22 April 2026.
“Kami mendorong para guru, penyuluh dan ASN Kemenag menjadi agen utama dalam menyebarkan nilai-nilai cinta, empati, dan kepedulian sosial, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas,” tambahnya.
Kurikulum Berbasis Cinta juga ingin melahirkan anak-anak Indonesia yang produktif dan berkah.
Sebab, kata Menag, tidak semua produktif itu berkah dan tidak mungkin ada berkah tanpa produktif.
Kegiatan Belajar Mandiri KBC bertujuan meningkatkan kompetensi pedagogik dan kepribadian guru serta penyuluh.
BACA JUGA:Bawa Ruang Belajar Lebih Inklusif, Belajaraya Jakarta 2026 Dorong Kolaborasi Pendidikan
“Tujuan dari pelatihan ini pada dasarnya adalah ingin memberikan pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan untuk menginternalisasi pemaknaan Kurikulum Berbasis Cinta,” ujar Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Muhammad Ali Ramdhani.
Menag menjelaskan, sasaran utama dari program ini adalah terwujudnya ekosistem pendidikan dan kehidupan beragama yang harmonis, inklusif, dan berkeadaban, di mana peserta didik dan masyarakat tumbuh dengan karakter saling menghargai, toleran, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
“Para peserta diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai cinta dalam proses pembelajaran, pembinaan umat, dan pelayanan publik secara konkret dan berkelanjutan,” kata Menag.
“Sehingga mereka akan bertoleransi satu sama lain, mereka akan mencintai sesamanya bahkan sesama makhluknya, lingkungan hidupnya,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: