Darah Muda, Darah Viral
Darah Muda, Darah Viral-Illustrasi-
Tetapi jangan buru-buru menyalahkan Gen Z. Sebab kalau mau jujur, penyakit “merasa paling benar” bukan milik anak muda. Orang tua pun bisa mengidapnya. Bedanya hanya satu: anak muda punya TikTok, orang tua punya WhatsApp group.
Dari Darah Muda ke Darah Viral
Hermeneutika mengajarkan bahwa teks tidak pernah benar-benar selesai berbicara. Teks lama dapat memperoleh makna baru ketika bertemu dengan pembaca dan zaman yang baru.
BACA JUGA:Judi: Menang yang Kalah
Hans-Georg Gadamer menyebutnya sebagai perjumpaan horizon. Kita membawa pengalaman zaman kita ketika membaca sebuah teks. Maka ketika “Darah Muda” dibaca pada 2026, kita tidak lagi hanya melihat anak muda yang keras kepala dan tidak mau mengalah.
Kita melihat anak muda yang hidup dalam dunia algoritma.
Dulu orang ingin dikenal satu kampung.
Sekarang ingin dikenal satu Indonesia.
Dulu kalau berbuat sesuatu, paling-paling tetangga yang tahu.
Sekarang kalau salah sedikit, satu dunia bisa tahu.
BACA JUGA:Allah Sudah Menunjukkan Tanda, Manusia Malah Sibuk Menjadi Tuhan
Dulu orang mencari pengakuan dengan berkata, “Saya hebat.”
Sekarang cukup mengunggah foto, lalu menunggu orang lain berkata, “Keren!”
Ada pergeseran yang menarik: ego tidak mati karena teknologi. Ego justru menemukan kendaraan baru.
Kalau dulu ego berjalan kaki, sekarang ia naik Wi-Fi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: