Krisis Kosakata Membatasi Kecerdasan Bangsa

Krisis Kosakata Membatasi Kecerdasan Bangsa

SMA Santa Ursula Jakarta -Dok. santaursulajakarta.sch.id-

Situasi pun menjadi berbeda bagi mereka yang terbiasa menggunakan bahasa Inggris sedari kecil.

Keterbatasan kosakata menghambat perumusan pemikiran dan kemampuan analisis.

BACA JUGA:Gibran, He Is Still the Man

Akibatnya, murid yang terbiasa berpikir dalam bahasa Indonesia harus menerjemahkan pemikiran mereka menjadi gagasan menggunakan bahasa yang belum sepenuhnya mereka kuasai.

Berangkat dari permasalahan tersebut, tak terhindari akan menimbulkan berbagai kesan buruk.

Banyak anak yang sebenarnya cerdas, namun jadi terkesan tidak kompeten hanya karena tidak memiliki kecukupan kosakata untuk mengekspresikan ide-ide kompleks di kepala mereka.

Hal ini terlihat nyata pada performa akademis murid.

Banyak murid masih mampu meraih nilai di atas 93 (A) ketika materi sains diuji dalam bahasa Indonesia.

BACA JUGA:Kesejahteraan yang Ditulis dalam Angka: Membaca Manipulasi Aturan Animal Farm pada Kebijakan MBG

Namun, nilainya terjun drastis hingga rentang 40-75 saat materi yang sama diantar dalam bahasa Inggris.

Jurang nilai yang mencolok ini membuktikan bahwa penurunan nilai bukan disebabkan oleh keterbatasan pemahaman sains, melainkan semata-mata karena hambatan mengartikulasikan jawaban mereka.

Tanpa disadari, hal ini menjadi salah satu faktor terbentuknya ketimpangan sosial.

Tidak semua anak memperoleh privilese untuk mampu mempelajari bahasa di luar bahasa ibunya.

Sebelum menginjak SMA Santa Ursula Jakarta pun, tidak sedikit murid yang belum pernah mendapatkan kurikulum A-levels sepanjang masa sekolahnya.

BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 4-Habis)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: