IHSG Kembali Melemah, Terperosok ke Level 5.918

Selasa 13-10-2026,16:52 WIB
IHSG Kembali Melemah, Terperosok ke Level 5.918

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan di awal pekan--istimewa

JAKARTA, DISWAY.ID – Usai mengawali sesi perdagangan Selasa (13/10) ini dengan kembali terpuruk tajam di zona merah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini turut menutup sesi I perdagangannya dengan kembali bergerak melemah ke kisaran 5.900.

Dalam hal ini, IHSG terpantau melemah drastis hingga sebanyak 17,53 poin, atau setara dengan 0,30 persen ke level 5.918,62.

Di sisi lain, hal serupa pun juga terjadi kepada kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45, yang turut kembali terpuruk di penutupan sesi I ini.

BACA JUGA:bank bjb Raih Pengakuan Top 50 Emiten MidCap dalam IICD CG Award 2026

Dalam hal ini, Indeks LQ45 terpantau bergerak melemah sebanyak 3,09 poin, atau menurun sebesar 0,52 persen ke level 587,81.

Berpeluang Technical Rebound Terbatas

Di sisi lain, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memaparkan bahwa terkini, sentimen bagi IHSG sendiri cenderung bersifat negatif dengan volatilitas tinggi.

Kendati begitu, peluang technical rebound masih dapat dicapai secara terbatas setelah indeks mengalami tekanan jual yang cukup tajam.

"Berdasarkan indikator, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif, namun RSI masih menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume," jelas Nafan kepada media secara daring, pada Selasa (13/10).

Kepercayaan Investor Jadi Faktor Penting

Di saat yang sama, apabila tekanan jual terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar, dampaknya terhadap IHSG dapat menjadi signifikan meskipun kondisi fundamental sebagian emiten masih relatif bagus.

BACA JUGA:BULOG Perluas Distribusi Pangan KDKMP, 1.985 Koperasi Terlayani untuk Akses Beras SPHP

"Oleh sebab itu, kepercayaan investor terhadap stabilitas kebijakan ekonomi dan konsistensi reformasi pasar modal masih menjadi faktor penting, terutama ketika IHSG mengalami tekanan dan investor cenderung mengurangi eksposur terhadap saham berisiko tinggi," tutup Nafan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: