Sosok Tito Karnavian, Sangar Jadi Bos Densus 88, Kini Terseret Skandal 'Buku Merah' di Tengah 'Perang Bintang'

Jumat 18-11-2022,16:45 WIB
Reporter : Amanda Fanny
Editor : Amanda Fanny

Nama Tito Karnavian melambung karena dikenal dengan keberaniannya dalam menangani kasus terorisme.

Ada banyak kasus besar yang berhasil ia tangani, di antaranya, bom di Gedung DPR MPR (2003), bom di Bandara Soekarno-Hatta (2003), bom JW Marriot (2003), pembunuhan Direktur PT Asaba oleh Gunawan Santosa, bom di Cimanggis Depok (2004), bom di Kedubes Australia (2004), Bom Bali II (2005), dan bom di Pasar Tentena, Poso (2005).

Puncaknya, saat bersama Idham Aziz, kini Kabareskrim Polri, berhasil melumpuhkan gembong teroris Azhari Husin alias Dr Azhari di Batu, Jawa Timur, pada 9 November 2005.

Berkat kepiawaiannya menangani kasus-kasus terorisme, Tito Karnavian ditunjuk sebagai Kepala Densus 88 Antiteror pada 2009-2010.

BACA JUGA:Kronologi Meninggalnya Rudy Salam, Keluarga: Tatapan Matanya Kosong

BACA JUGA:Dikenal karena Buku-bukunya di Indonesia, Harun Yahya Divonis Hukuman Penjara 8.658 Tahun

Ketika menjadi Kapolda Metro Jaya, dia dipuji oleh Istana karena kecepatannya dalam menangani teror Bom Thamrin, Jakarta Pusat, pada 14 Januari 2016.

Ia kemudian menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2016.

Pangkatnya pun ikut naik dari Irjen menjadi Komjen.

Kapolri Termuda

Sepanjang 2016, bisa dibilang menjadi tahunnya Tito Jarnavian.

Dengan karier yang makin cemerlang, ia kemudian terpilih menjadi Kapolri termuda dan melompati empat angkatan di atasnya. 

Dilantik pada 3 Juli 2016, dia menggantikan Jenderal Badrodin Haiti yang memasuki masa pensiun.

Terpilihnya Tito menjadi sorotan publik Tanah Air karena usianya yang masih sangat muda, yakni 52 tahun. 

Alhasil, ia pun tercatat sebagai Kapolri termuda sepanjang sejarah Polri.

BACA JUGA:Pasar Pagi Asemka Kebakaran, Hanguskan 20 Kios Mainan Anak, Pedagang: Api Langsung Gede!

Kategori :