JAKARTA, DISWAY.ID – Darif baru bea inpor Amerika diumumkan Trump, di mana ekspor Indoensia ke Amerika akan dikenakan 32 persen.
Adapun pengumuman tariff baru ini diumumkan pada Rabu 2 April yang akan menguras lebih banyak tenaga dari ekonomi dunia yang baru saja pulih dari lonjakan inflasi pascapandemi serta terbebani oleh rekor utang dan terganggu oleh pertikaian geopolitik.
Pengumunan tariff baru Amerika ini dikomenteri oleh Takahide Kiuchi selaku ekonom eksekutif di Nomura Research Institute.
Takahide menyampaikan jika tarif Trump mengandung risiko menghancurkan tatanan perdagangan bebas global yang telah dipelopori Amerika Serikat sendiri sejak Perang Dunia Kedua.
BACA JUGA:Awas! Ahli Gizi IPB: Kalori Kue Lebaran Bisa Lebih Tinggi dari Hidangan Utama
BACA JUGA:Liberation Day! Trump Naikkan Tarif Besar-besaran, Kebangkitan Ekonomi AS atau Bencana Global?
Akibat terif tersebut, dalam beberapa bulan mendatang, kenaikan harga yang jelas akan terjadi.
Sedangkan Antonio Fatas selaku ekonom makro di sekolah bisnis INSEAD di Prancis melihat bahwa putusan ini merupakan hal yang akan menyeret ke arah resesi global.
"Saya melihatnya sebagai pergeseran ekonomi Amerika dan global menuju kinerja yang lebih buruk, lebih banyak ketidakpastian, dan mungkin mengarah ke sesuatu yang bisa kita sebut resesi global," kata Antonio.
Trump mengatakan akan mengenakan tarif dasar 10 persen pada semua impor dan menunjukkan grafik yang menunjukkan bea masuk yang lebih tinggi pada beberapa mitra dagang terbesar negara itu, termasuk 34 persen pada Tiongkok dan 20 persen pada Uni Eropa.
BACA JUGA:Harga Emas Perhiasan Hingga Antam Hari Ini, Kamis 3 April 2025
Tarif mobil dan suku cadang mobil sebesar 25 persen telah dikonfirmasi sebelumnya.
Trump mengatakan tarif tersebut akan mengembalikan kemampuan manufaktur yang sangat penting secara strategis ke Amerika Serikat.
“Akibat hal tersebut, tarif Amerika pada semua impor melonjak menjadi 22 persen, di mana tarif yang terakhir terlihat sekitar tahun 1910 dari hanya 2,5 persen pada tahun 2024,” jelas kata Olu Sonola selaku kepala penelitian ekonomi Amerika di Fitch Ratings.