"Ini adalah pengubah permainan, tidak hanya untuk ekonomi AS tetapi juga untuk ekonomi global," kata Sonola. "Banyak negara kemungkinan akan berakhir dalam resesi," papar Kristalina Georgieva selaku Direktur Pelaksana IMF seperti dilansir reuters.
BACA JUGA:Katarak Mulai Ancam Usia Muda, Kenali 4 Faktor Penyebabnya
BACA JUGA:Jasa Marga Berikan Diskon Tarif Tol 20 Persen untuk Arus Balik Lebaran 2025
Tapi dampaknya terhadap ekonomi nasional akan sangat berbeda, mengingat spektrum tarif berkisar dari 10 persen untuk Inggris hingga 49 persen untuk Kamboja.
Jika hasilnya adalah perang dagang yang lebih luas, itu akan memiliki dampak yang lebih besar bagi produsen seperti China, yang akan mencari pasar baru dalam menghadapi konsumsi domestik yang lemah.
"Ekonomi Asia akan terpukul lebih keras daripada kebanyakan oleh tarif timbal balik AS," kata Marcel Thieliant selaku kepala Asia-Pasifik di Capital Economics.
Ekonomi Asia tidak hanya menghadapi tarif yang lebih tinggi daripada banyak negara lain, tetapi juga lebih bergantung pada permintaan barang Amerika daripada kebanyakan negara lain.
BACA JUGA:Lebaran Liburan Outdoor, Simak 4 Tips agar Perjalanan Lebih Nyaman dan Happy!
Jika tarif mendorong AS sendiri menuju resesi, hal itu akan sangat membebani negara-negara berkembang yang peruntungannya sangat bergantung pada perekonomian terbesar di dunia.
Saham anjlok dan investor berebut mencari obligasi, emas, dan yen yang aman pada hari Kamis karena meningkatnya kekhawatiran ekonomi.
Efek berantai bagi bank sentral dan pemerintah juga berpotensi besar.
Terurainya rantai pasokan yang selama bertahun-tahun menekan harga bagi konsumen dapat menyebabkan dunia di mana inflasi cenderung berjalan lebih panas daripada 2 persen.
Hanya sedikit yang dapat dilakukan negara selain mengurangi dampak ekonomi dan meminta pengecualian kepada Washington.