Rambo Batman
--
Akhirnya terungkap berapa yang meninggal akibat demo-rusuh-represif di Iran: 3.000 orang. Begitu banyak. Wajar kalau mulai ada yang bilang itu sudah gerakan revolusi –bukan lagi demonstrasi.
Sulit memverifikasi: siapa saja mereka itu. Lalu apa penyebab meninggal mereka. Suara tembakan datang dari dua arah.
Amerika Serikat menuduh tentara pemerintah Iran-lah yang menembaki mereka. Pihak Iran secara tersamar mengakui itu: "penyebab mereka meninggal adalah Amerika Serikat".
Presiden Donald Trump sampai bilang: kalau masih terjadi penembakan, Amerika akan ambil tindakan militer.
"Amerika akan datang untuk menyelamatkan mereka. Tentara kami sudah lock and loaded. Sudah siap berangkat," ujar Trump di medsos miliknya sendiri.
Orang pun membayangkan apa yang terjadi di Venezuela akan berulang di Iran. Dengan cara yang superrahasia: tiba-tiba saja Ayatollah Ali Khamenei ditangkap. Diterbangkan ke kapal induk Amerika. Atau dilewatkan Israel. Lalu dibawa ke New York –untuk diadili di sana.
Mungkin skenario seperti itu juga yang dibayangkan gerakan oposisi di Iran: Amerika akan langsung tiba di sana begitu ada oposisi yang kuat yang berani bergerak dari dalam.
Mungkin yang diharapkan lebih dari Venezuela. Harus ada pasukan siluman lainnya yang menculik beberapa pemimpin tinggi Iran. Termasuk pemimpin tentara.
Iran bukan Venezuela yang hanya punya satu figur Nicolas Maduro. Di Iran dengan hanya menculik Khamenei hampir tidak ada artinya: masih banyak Ayatollah lainnya yang nyaris sejajar.
Bayangan skenario mirip itu pernah terjadi di tahun 1965: di Jakarta. Begitu tujuh jenderal TNI-AD diculik, revolusi partai Komunis Indonesia bisa dilakukan. Toh gagal juga. Akibatnya, justru terjadi revolusi balasan: yang meninggal bukan lagi 3.000 tapi 500.000 orang –atau jauh lebih besar dari itu.
Rencana revolusi di Iran pun gagal –setidaknya sampai hari ini. Lebih mengesalkan dari ejakulasi dini. Amerika tidak jadi datang.
Berbeda dengan di Jakarta tahun 1965. Beberapa batalyon sebenarnya sudah tiba di Monas. Misalnya dari 350 Madiun dan 544 Magelang.
Tapi lucu sekali: begitu tujuh jenderal dibunuh mereka tidak tahu harus melakukan apa. Mereka tentara profesional, bukan ideologis. Mereka hanya tahu: diperintahkan ke Jakarta sebagai persiapan HUT ABRI tanggal 5 Oktober.
Kenapa Amerika tidak jadi datang? Yang pasti Iran bukan Venezuela. Sekutu AS di sekitar Iran sendiri minta serangan itu jangan dilakukan: perang bisa meletus.
Di Venezuela tidak satu pun perlawanan dilakukan. Tidak satu pun senjata menyalak ke arah pasukan Amerika yang datang ke sana. Apalagi roket anti serangan udara. Semuanya bisu. Semuanya kelu.
Itu yang dianggap mustahil terjadi di Iran. Tapi Trump selalu punya kalimat untuk menjelaskan mengapa pasukan Amerika tidak jadi datang ke Iran.
"Sudah tidak ada pembunuhan aktivis lagi di sana. Mereka berjanji tidak akan melakukan kekerasan lagi".
Itu berarti keadaan di dalam negeri Iran sudah mulai terkendali.
Saya menduga: dari 3.000 yang tewas itu sebagian sudah lama masuk daftar hitam penguasa Iran. Yakni mereka yang dianggap ''musuh negara''. Atau dalam bahasa patriotisme mereka itu dianggap ''pengkhianat negara'' –dan hukumannya adalah mati.
Begitu banyak mata-mata yang berpihak ke Israel di Iran.
Misalnya bagaimana serangan jarak jauh yang dilakukan Israel ke ibu kota Iran yang lalu begitu akuratnya. Pastilah karena banyak orang Iran sendiri yang jadi mata-mata.
Dari merekalah diketahui di mana Ismael Haniyeh menginap. Tokoh utama Hamas dari Palestina itu sedang bertamu ke Iran. Bangunan tempatnya menginap dibom dari Israel nan jauh: hancur. Haniyeh tewas. Iran seperti ditampar di jidat: tidak bisa melindungi tamu negara.
Setelah batal datang ke Iran, kini tinggal Greenland: tapi tidak ada gerakan oposisi di dalam wilayah Greenland. Justru mereka membuat demo besar dalam suasana bersalju: menolak Amerika, tetap berada di bawah Denmark.
Tentu Trump masa bodoh dengan penolakan seperti itu. Trump punya kepentingan pribadi yang sangat besar: Pemilu di bulan November depan. Di Pemilu itu nanti diperkirakan Partai Republik kalah. Gara-gara Trump.
Kekalahan itu akan membuat mayoritas kursi di DPR dan DPD Amerika tidak lagi dipegang Partai Republik. Trump akan berantakan.
Sekarang saja, dengan hanya menang tipis, sudah mulai muncul tanda-tanda penentangan kepada Trump: resolusi yang diajukan Partai Demokrat baru saja disetujui Senat. Jumat kemarin. Empat anggota Senat dari Partai Republik berpihak ke resolusi Demokrat.
Intinya: Senat menyetujui bahwa tarif adalah masuk kategori pajak. Berarti Trump tidak bisa mengenakan tarif bea masuk begitu saja: harus mendapat persetujuan Senat.
Tapi masih ada waktu. Trump masih bisa mengusahakan mendapat simpati di dalam negeri. Penangkapan Maduro mendapat tepuk tangan luar biasa –meski ada juga yang mencibirkannya.
Siapa tahu dengan menganeksasi Greenland, Trump lebih terlihat sebagai Rambo dan Batman sekaligus –mereka tokoh kesukaan orang Amerika dan juga Anda.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 18 Januari 2026: Omon Kenyataan
Hasyim Muhammad Abdul Haq
"Selama ini pengusaha apa saja sering memungut biaya di pengetahuan konsumen." Maksudnya: "Selama ini pengusaha apa saja sering memungut biaya tanpa sepengetahuan konsumen."
sigit
Keputusan Mamdani adalah bentuk dari "menembus hijab", dimana istilah kemitraan kadang hanya jadi pemanis kata untuk menutupi kenyataan adanya eksploitasi, Pemilik aplikasi tranportasi harusnya berterima kasih , karena mereka sekedar mengandalkan tehnologi dan otak , tanpa keluar keringat banyak, dimanfaatkan jasanya oleh banyak orang, Harusnya ada simboalis mutualisme, saling menguntungkan, Keputusan Mamdani yang Pro pengemudi menyingkap tabir bahwa mereka adalah buruh yang dieksploitasi dengan adanya tarif tarif yang tidak seharusnya ada, sementara pemilik aplikasi (pengusaha) mengambil keuntungan yang terlalu berlebihan. Bahaya istibdad (kesewenang wenangan) dalam ekonomi, di mana pengusaha besar merasa bahwa tehnologi dan modal adalah segalanya, sehingga pengemudi ojek online diannggap onderdil yang bisa diperlakukan seenaknya. Jika bisnis dibangun dari keringat orang yang tidak dibayar dengan adil , maka keberkahan akan dicabut. Hak Manusia (pengemudi) tidak boleh dikalahkan oleh algoritma. Otak, Otot dan Hati haruslah serasi. Terima kasih Abah, tulisan ini mengingatkan kita agar berbuat adil.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
HARUSNYA MAMDANI MEMBELA WONG CILIK, TAPI JANGAN LUPAKAN INVESTOR.. Langkah Zohran Mamdani memang menyegarkan. Di saat banyak wali kota sibuk pencitraan, dia langsung pasang badan. Wong cilik dibela. Pengemudi aplikasi diangkat martabatnya. Junk fee dijadikan musuh bersama. Tepuk tangan pantas diberikan. Tapi kota besar seperti New York tidak hidup dari idealisme saja. Ia juga hidup dari kepercayaan investor. Dari modal yang berani masuk. Dari bisnis yang mau tumbuh. Tanpa itu, lapangan kerja juga ikut seret. Wong cilik bisa ikut terjepit. Investor dan wong cilik seharusnya bukan dua kubu yang saling berhadapan. Keduanya saling mengisi. Investor butuh tenaga kerja yang sejahtera. Wong cilik butuh bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Yang bahaya justru kalau salah satunya diperas habis. Gaji minimum USD 21 per jam terdengar heroik. Tapi kalau aplikasinya tumbang, yang hilang bukan cuma laba, tapi juga pekerjaan. Perlu keseimbangan. Perlu dialog. Bukan hanya palu godam, tapi juga kunci inggris. Mamdani sedang diuji. Apakah ia bisa jadi pembela wong cilik yang cerdas. Atau sekadar pahlawan cepat viral. Kita tunggu. Biasanya sejarah tidak ramah pada niat baik yang lupa hitung-hitungan.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PEMBELA WONG CILIK.. Zohran Mamdani ini menarik. Baru 20 hari menjabat, tapi langkahnya sudah seperti pejabat yang dikejar setoran deadline akhir tahun. Keputusan datang bertubi-tubi. Tidak pakai pemanasan. Tidak pakai basa-basi. Langsung gas. Memperkarakan CEO aplikasi ojek. Menutup perusahaan. Mewajibkan gaji tetap USD 21 per jam. Angka yang bikin pengemudi Indonesia auto senyum, dan aplikator auto pusing. Mamdani tampaknya tidak tertarik mendengar kalimat klasik: “nanti iklim usaha terganggu”. Wong cilik dulu. Urusan investor belakangan. Soal junk fee juga menarik. Ini penyakit kapitalisme modern. Biaya kecil-kecil yang kalau dijumlahkan bikin dompet mimisan. Hotel, restoran, aplikasi, langganan digital. Semua kreatif. Kreatif narik duit. Menunjuk Julie Ann Su juga sinyal kuat. Ini bukan pejabat ecek-ecek. Mantan wakil menteri. Mau turun ke level kota. Artinya ada ideologi, bukan sekadar jabatan. Apakah semua ini akan berhasil? Belum tentu. Bisa saja enam bulan lagi jadi sekadar arsip pidato. Tapi satu hal jelas: Mamdani bikin banyak orang tidak bisa tidur nyenyak. Dan itu biasanya tanda perubahan sedang dicoba.
Thamrin Dahlan YPTD
Zohran Mamdani telah membuat 3 keputusan untuk New York. Pertama terkait Apartemen, Kedua tentang sistem pengawasan keuangan. Terakhir perihal Gojek. Semua keputusan itu sebagai dasar hukum bertindak legal dan wajib dipatuhi warga dan pengusaha atau stake holders. . Tujuan utama memperbaiki / membenahi sitem pelayanan masyarakat yang lama (yang tidak memihak rakyat). Ini bukan sekedar omon omon namun tindakan nyata. Penempatan pejabat disesuaikan dengan kemampuan dan kompetensi tanpa memandang suku, agama, ras apalagi antar golong. Semua pilihan ZM adalah sosok warga profesional dijamin memiliki integritas setara Walikota New York periode sekarang. Gojek mode transportasi yang sangat dibutuhkan warga. Harus di kendalikan pemerintah. Jangan lagi diserahkan ke pemilik Aplikasi. Buktinya para pengojek sampai saat ini tidak mendapatkan imbalan setimpal atas jerih payah. Pemilik Aplikasi goyang kaki entah sampai kapan kalau tidak diubah. Padahal modal si pengendali Gojek dan sejenisnya hanya punya Aplikasi. Tidak memiliki alat transportasi, bengkel dan lain lain. New York memberi contoh pengelolaan gojek berkeadilan agar bisa di tiru oleh negara lain. Omon omon tidak ada disana. Eksekusi ZM berupa problim solving tujuan mensejahterakan rakyat. Tantangan klasik kaum Sosialis berresiko berhadapan kapitalis . Siapa yang unggul,..... Salamsalaman
mario handoko
selamat pagi bp udin. "icw beberkan bgn gelontorkan rp 423 em untuk pengadaan seragam sppg." demikian berita di suaramerdeka.com. jika dibagi dengan 32 ribu orang pegawai sppg yg diangkat jadi pppk. berarti per orang dapat seragam seharga 13.2 jt. mungkin model seragamnya segagah dan semodis pramugara pramugari garuda? ayo driver gojek dan grab. ganti jaketnya dengan seragam sppg. ganti profesinya jadi pegawai sppg.
Taufik Hidayat
Nah kalau dilihat dari upah per jam 21 USD, kelihatannya besar kalau diubah jadi rupiah, tapi melihat upah minimum di NYC yang sekitar 17 USD per ja yah lumayan. Namun jagan lupa NYC itu sangat mahal juga . Jadi kalau pakai PPP yah mereka yang berpenghasilan minimum tetap saja hanya bisa untuk sekedar bertahan hidup. Bedanya kalau kitake NYC dan bisa nabung dengan hidup ngirit, maka raungan itu akan banyak ketika diubah jadi rupiah .
Juve Zhang
Kita terbang ke Iran....ribuan agen Mossad dan vVCIA ditangkap oleh aparat di Iran demopun langsung reda....konon dana jumbo diguyur ke agen agen penggerak demo.... puluhan juta dolar amblas....niat nya menaikan Pangeran Reza Pahlevi tapi kekuatan Pemerintah Iran lebih dari cukup dalam meredam demo....
Juve Zhang
Jangankan gaji tetap yg di impikan semua pegawai di manapun ....tip dari customer pun di embat sebagian oleh pemilik aplikasi....ini jelas salah besar tips itu hak pengemudi ojol di NY....jadi kalau tips pun minta dibagi ...mana mungkin kasih gaji tetap yg gede sekali.... Mamdani dalam hal ini salah besar....ini pekerja bukan karyawan disebut nya Mitra...mana ada Mitra digaji.....
heru santoso
Alkisah.......Di ruang rapat direksi, layar besar menyala. Peta Indonesia penuh titik abu-abu. Tinggal klik satu, warnanya berubah hijau. Artinya: kota sudah takluk. “Apps siap?” “Siap. Sudah dicustom selera lokal.” “Klik ON.” Dalam hitungan jam, mitra mendaftar seperti flash sale. Konsumen bersorak: diskon! cashback! gratis ongkir! Pemerintah kota? Menonton. Atau pura-pura sibuk rapat, supaya tidak kelihatan abai. Lucu memang. Pemkot bisa menutup jalan, mengalihkan arus kendaraan, membangun jembatan, mengatur air sungai mengalir ke mana. Tapi soal arus aplikasi? Mereka cuma bisa mengalir ikut arus. //. Di balik layar, sistem menghitung dengan riang: potongan tips, service fee, member fee, platinum fee, plus beberapa fee yang namanya kreatif tapi esensinya sama — mengisap. Semua sah. Semua legal. Semua digital. Warga merasa dimanjakan. Mitra merasa dapat kerja. Pemkot merasa… ya sudahlah. Begitulah. Di kota modern sini, yang paling berkuasa bukan walikota. Tapi tombol ON di ruang rapat direksi itu.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
HITUNGAN YANG MENGGODA, SEKALIGUS MENGGANGGU.. Angka USD 21 per jam itu memang mengganggu pikiran. Bukan cuma pengusaha aplikasi. Tapi juga pengemudi ojol di Indonesia. Coba dihitung. Rp 350 ribu per jam. Sehari Rp 2,5 juta. Sebulan bisa setara harga rumah subsidi. Wajar kalau banyak yang tiba-tiba rajin buka Google Maps New York. Pertanyaannya lalu muncul. Apakah ini undangan halus untuk hijrah? Atau bensin baru buat demo? Dua-duanya menggoda. Dua-duanya juga tidak realistis. Pindah ke New York bukan pindah dari Depok ke Bekasi. Demo menuntut angka yang sama juga seperti minta hujan dolar di musim kemarau. Konteksnya beda. Biaya hidup beda. Struktur bisnis beda. Daya tahan aplikator juga beda. Tapi angka tetap punya efek psikologis. Ia membentuk rasa. Rasa “kok di sana bisa”. Dari rasa itu biasanya lahir tuntutan. Bukan angka yang sama, tapi keadilan yang sama. Mamdani mungkin tidak sedang bicara ke Indonesia. Tapi dampaknya menyeberang samudra. Minimal bikin pengemudi sini bertanya. Selama ini siapa yang sebenarnya diuntungkan? Dan siapa yang terlalu sering disuruh ikhlas.
Echa Yeni
"Apa boleh buat" ML(Mamdani lagi) Maaf,kalo boleh tau buat apa..? Sori,klo boleh mengira&menjawabnya, "Menulis yg disana tuk menyenggol yg disini". *Gpp wes,yg pnting wes nulis CHD everiDe. (Samma,yg pnting saia dah bca n dah komen) Suwunn
Denny Herbert
"Membaca tulisan Abah tentang Mamdani, rasanya iri. Ada pemimpin yang pasang badan buat sopir ojol agar dapat $21/jam. Sementara di tanah air, minggu ini kita disuguhi tangis Eva Meliani di MK. Anak wartawan Sempurna Pasaribu itu tidak minta gaji dolar. Dia cuma minta agar pembunuh keluarganya (yang diduga oknum) diadili di peradilan umum, bukan militer yang tertutup. Di New York, rakyat kecil dibela Walikota. Di sini, rakyat kecil (Eva) harus bertarung sendirian 'sebatang kara' melawan tembok tebal impunitas. Kapan kita punya Mamdani versi penegakan hukum?"
Udin Salemo
Pemilik aplikasi di wetan Maldives, - gak punya kendaraan - gak menggaji pengemudi - gak bayar cicilan kendaraan - gak bayar biaya maintenance - gak bayar biaya penggantian suku cadang - gak membelikan BBM - gak bayar asuransi Semua itu tanggung jawab pemilik kendaraan jika kendaraan punya sendiri. Rata-rata kendaraan punya driver sendiri. Lalu yang punya aplikasi potong lebih dari 25% dari biaya perjalanan yang tertera di layar hp Redmi Note 13 5G untuk perusahaan sendiri. Uuueenak tenan bagi perusahaan, bikin kesal dan stress bagi yang punya kendaraan.
yea aina
Sistem yang diterapkan transportasi online kepada driver: kemitraan. Bukan karyawan yang berhak mendapat gaji pokok, hak cuti, THR, pun tunjangan sosial. Driver ojek online: pekerjaan informal. Di sini jumlah pekerja informal sangat dominan, hingga 86 juta orang. Selebihnya pekerja formal 60 juta orang. Juga masih ada 7,4 juta orang pengangguran terbuka (TPT). Melihat komposisi itu, rasanya janji 19 juta lapangan kerja baru: Omon-omon belaka. Mungkin yang menjajikan juga bingung, kok mudah buat janji. Padahal ia bisa dapat kerjaan, karena cawe-cawe duet maut: bapak dan pamannya.
suryanto bagelen
Betapa beruntungnya warga New York dg Walikotanya yg sangat membela & mengutamakan azas keadilan bisnis para driver tadi online. Di kota saya, Batam, aplikator taxi online 'maksum' jumlah drivernya terus bertambah, mobil milik driver harus pasang sticker aplikator di kiri kanan pintu/jendela, kap depan & kaca belakang. Mirisnya iklan berjalan ini stickernya menjadi tanggungan dan harus dibeli oleh driver. Kalau driver tdk membeli dan memasangnya maka driver tidak bakal dapat prioritas order penumpang. Regulator (pemerintah cq Kementrian Perhubungan) pura-pura nggak tau. Enak kan bisnis aplikasi taxi online di Konoha...
Hendro Purba
Harus siapanya menyadarkan bahwa kita dimerdekakan agar adil dan makmur ? Hari ini kita tidak makmur karena tidak adilnya ?
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:

Komentar: 138
Silahkan login untuk berkomentar