Selama 129 pertandingan, ia mencetak 40 gol, berkontribusi pada salah satu era paling makmur dalam sejarah klub.
Saat bermain di Belgia, Simon Tahamata mendapat penghargaan Pemain Terbaik Musim Ini (Divisi Pertama Belgia) serta Penghargaan Fair Play Belgia.
Pada tahun 1984, Simon Tahamata kembali ke Belanda dan bergabung dengan Feyenoord.
BACA JUGA:Fakta-fakta Temuan Bareskrim di Penyelidikan Kasus Ijazah Palsu Jokowi
Setelah tiga tahun, ia kembali ke liga Belgia dan berkompetisi untuk Beerschot dan Germinal Ekeren.
Berkat usahanya bersama Germinal, ia berhasil mencapai posisi di final Piala Belgia selama musim 1994–1995.
Ia kemudian mengakhiri kariernya sebagai pemain sepak bola pada tahun 1996.
Setelah pensiun dari permainan profesional, Simon Tahamata mengejar karier sebagai pelatih akademi dan pemuda di klub-klub ternama seperti Ajax Amsterdam, Standard Liege, Beerschot, dan Al Ahli.
BACA JUGA:Sergio Conceicao di AC Milan Segera Tamat, Ini Dia Calon Pelatih Gahar Masuk Incaran Rossoneri
BACA JUGA:Varian Ginger Ale Terbaru Diluncurkan di Ajang Polaris Master ExPOLrasi 2025
Sejak September 2015, Simon Tahamata tidak hanya bekerja di Ajax tetapi juga mendirikan akademi sepak bola yang dikenal sebagai Akademi Sepak Bola Simon Tahamata.
Selain itu, Simon Tahamata juga memiliki momen penting bersama Ajax.
Jelang laga melawan Utrecht pada Minggu, 3 Maret 2025, klub asal Amsterdam itu memberikan penghormatan khusus kepada Simon Tahamata di Stadion Johan Cruyff.