Jakarta Hadapi Krisis Air, Transformasi PAM Jaya Tak Bisa Ditunda!

Jumat 19-09-2025,19:17 WIB
Reporter : Cahyono
Editor : Fandi Permana

BACA JUGA:Foton Indonesia Kerjasama Strategis dengan KALISTA, Hadirkan Beragam Kendaraan Listrik Komersial

Tercatat 70 persen pipa berusia 25-40 tahun, sebagian besar bukan food grade, rawan kebocoran, dan memicu tingginya non-revenue water (NRW).

Akibat kebocoran itu kerugian yang diderita PAM Jaya diperkirakan mencapai Rp1 triliun per tahun.

Untuk menutup celah itu, PAM Jaya mempercepat inovasi dengan menyiapkan empat instalasi pengolahan air (IPA) baru yakni di Semanan, Muara Karang, Condet, dan Kanal Banjir Barat 2.

Teknologi water purifier juga diluncurkan agar air perpipaan tetap layak minum meski melewati pipa lama.

"Air perpipaan PAM hanya Rp1 per liter, sangat murah dibanding air kemasan. Kami ingin masyarakat beralih," tegasnya.

Lebih lanjut, Arief menuturkan, transformasi digital juga digenjot salah satunya dengan meluncurkan super apps, dan menerapkan smart water meter digital pada 49 ribu pelanggan.

Kemudian PAM Jaya juga meluncurkan mobil laboratorium mikrobiologi untuk uji kualitas air secara cepat di lapangan.

BACA JUGA:Demi Timnas Lolos Piala Dunia, I League Tunda Pekan 8 Super League

"PAM Jaya tidak mengambil air tanah, hanya mengolah air permukaan. Kami bekerja siang malam untuk mengakhiri ketergantungan warga pada air galon dan gerobak. Target 2029 harus tercapai," pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Firdaus Ali menegaskan bahwa transformasi tata kelola air di ibu kota tidak bisa ditunda. 

"Air adalah sumber kehidupan. Hampir semua kitab suci menyebut air sebagai lambang surga. Namun ironinya, Jakarta dengan 13 sungai dan 76 anak sungai, tak satu pun yang layak jadi air baku. Semua tercemar limbah," ucap Firdaus.

Menurutnya, cakupan layanan air perpipaan di Jakarta juga masih minim yakni di bawah 50 persen. 

"Pipanya ada, tapi airnya sering tidak mengalir," katanya.

Firdaus juga mengingatkan tingginya tingkat kehilangan air atau non revenue water (NRW) di Jakarta, yang mencapai 45-47 persen.

Angka itu menurutnya sebagai salah satu yang terburuk di dunia bagi kota dengan populasi di atas lima juta jiwa. 

Kategori :