Berpisah Istri
--
Saya berpisah lagi dengan istri: di Makkah. Hampir selalu begitu. Setelah menemani ibadah umrah saya harus pergi ke negara lain.
Kali ini ke negara yang dekat tapi belum pernah saya kunjungi: Yaman. Tetangga selatan Saudi Arabia.
Saya berpesan kepada anggota rombongan yang akan meneruskan menemani istri. Terutama mengenai sakitnyi. Apa yang harus diperbuat kalau penyakit itu datang padanyi.
Mereka masih beberapa hari lagi di Makkah. Mereka tidak panik. Terutama kalau melihat istri saya sedang menggigil hebat. Biasanya pukul empat atau lima sore.
Itu tidak ada hubungannya dengan operasi lutut. Mungkin perasaan istri mengatakan masih ada hubungannya. Tapi saya yakinkan bahwa sakit akibat operasi lututnyi sudah sembuh.
Memang selama di Makkah dan di Madinah, dia tetap pilih pakai kursi roda. Tapi itu lebih karena agar tidak kelelahan.--
Tentu ada konsekuensinya. Pakai kursi roda di saat tawaf –ritual mengelilingi Kakbah tujuh kali– ada tempatnya tersendiri. Tidak bisa di dekat Kakbah. Harus di lantai dua Masjid Al Haram.
Berarti saya juga ikut tawaf di lantai dua. Sebenarnya saya ingin mendorong sendiri kursi roda itu. Tapi peraturan tidak mengizinkan. Yang mendorong harus petugas besertifikat. Saya hanya mengikuti di samping atau di belakang kursi roda.
"Dari mana, Mbak?" tanya saya kepada petugas.
"Dari Lombok".
"Lombok mana?"
"Lombok tengah".
"Praya?"
"Kok tahu".
Dia sudah lima tahun tinggal di Makkah. Ayahnyi bekerja sebagai petani di desa itu.
"Kursinya baru ya?" kata saya melihat kursi yang kinclong itu.
"Iya. Baru beli".
"Bagus sekali. Ini mercy-nya kursi roda. Biasanya istri saya dapat yang Avanza".
"Terima kasih. Saya dapat dari orang Singapura. Beliau beli kursi baru. Ketika pulang ditinggal untuk saya".

--
Saya beruntung dapat pendorong wanita. Jalannya cepat tapi tidak sampai seperti lari. Saya bisa mengikutinyi dengan jalan cepat yang normal.
Sebenarnya enak tawaf di dekat Kakbah. Lingkarannya kecil. Di lantai dua ini lingkarannya besar. Satu putaran terasa sangat lama. Saya pun tergoda untuk menghitungnya: satu putaran berapa langkah. Agar hitungan itu benar saya menghentikan bacaan doa di putaran kedua: konsentrasi untuk menghitung langkah.
976 langkah.
Anda tidak bisa mengoreksi angka yang saya tulis itu. Hanya saya sendiri yang tahu –mungkin kurang atau lebihnya hanya beberapa saja: terutama kalau perjalanan roda itu lagi macet saking banyaknya yang ingin ngebut.
Berarti 976 kali tujuh putaran: sekitar 7.000 langkah. Masih ditambah hilir mudik tujuh kali saat sa'i: antara Shafa dan Marwah. Sekitar itu juga. Total 15 ribu langkah sekali umrah.
Lega.
Untung kami masuk masjid sebelum waktu magrib. Bisa salat magrib di lantai dua. Bisa pilih lokasi di dekat tempat start tawaf. Istri salat di atas kursi roda. Di kelompok wanita. Saya bersama kelompok para lelaki di bagian depan.
Begitu salat magrib selesai tawaf pun dimulai. Suasananya seperti balap formula one: menyiapkan diri agar bisa start duluan di saat masih banyak orang di jalur lintasan.
Menjelang putaran keenam terdengar azan salat isya. Harus berhenti dulu. Salat isya berjamaah. Lalu berputar lagi untuk menyelesaikan lap keenam dan ketujuh.
Pukul 22.15 ibadah umrah selesai. Lalu ke hotel. Check-in. Ketika tiba dari Madinah tidak sempat check-in. Lebih baik langsung ke masjid dulu. Agar sebelum tengah malam ibadah umrah bisa selesai.
Tentu istri kelelahan –biar pun di kursi roda. Menjelang tengah malam itu saya minta izin untuk mandi sebelum dia. Selesai mandi saya harus ke bandara. Ups...belum bisa ke bandara. Harus mengisi acara live Dismorning: pukul 01.00 waktu Makkah. Atau pukul 05.00 WIB.
Maka selesai mandi saya keluar hotel. Cari lokasi podcast. Cahaya lampu di kamar kurang memadai untuk kamera Redmi termurah ini.
Kebetulan di pinggir jalan menuju masjid Al Haram itu ada tumpukan bata putih. Setinggi satu meter. Ini dia. HP saya letakkan di tumpukan bata itu. Tapi latar belakangnya terlalu terang. Terlalu banyak cahaya di sekitar masjid Al Haram.
Apa boleh buat. Mata pemirsa mungkin agak tersilau oleh cahaya kuat dari berbagai lampu halaman itu.
Kembali ke kamar, ternyata istri belum mandi. Masih kelelahan. Saya pun pamit ke bandara. Ke Yaman.
Sebelum cium keningnyi saya jelaskan sekali lagi kepadanyi: mengapa dia sering menggigil luar biasa.
Biasanya, saat menggigil seperti itu saya taruh telapak tangan saya di keningnyi: normal. Suhu badan tidak naik. Lalu saya perhatikan bahwa dia sudah makan satu jam sebelum menggigil itu: berarti tidak mungkin gula darahnya sedang drop.
"Tenang saja. Menggigil Anda ini tidak bahaya," kata saya. "Kalau di saat menggigil itu suhu badan Anda naik barulah harus minum obat atau ke dokter".
Tidak usah khawatir. Jangan minum obat apa pun –agar tidak terjadi salah obat. Itu justru lebih berbahaya. Bisa mengganggu organ lain seperti ginjal.
Lalu dari mana datangnya gigil hebat itu?
Saya sudah bertanya ke banyak dokter. Termasuk dokter saraf. Saya juga membaca banyak literatur tepercaya di internet. Gigil itu bukan atas perintah otak. Kalau gigil itu datang saat suhu badan naik barulah gigil itu atas perintah otak.
Lalu siapa yang memerintahkan gigil itu? Tidak ada. Tidak ada yang memerintahkannya. Itu sejenis gerakan reflek otot akibat kelelahan. Reflek itu datang akibat saraf istri saya yang terganggu oleh gula darah yang tinggi selama puluhan tahun.
Maka saya juga mengoreksi kebiasaan istri –yang ternyata menurut ilmu kedokteran salah: di saat menggigil hebat dia mengambil selimut tebal. Itu tidak boleh. Kalau pun berselimut yang tipis saja.
Begitulah. Teman-teman istri sudah saya beri tahu tentang semua itu. Saya khawatir mereka memberi sembarang obat. Biarkan saja menggigil. Yang terbaik hanya memberi istri minum air hangat. Jangan manis. Lalu pura-pura memijat-mijat punggungnyi. Agar tidak dibilang tidak ada perhatian. Itulah yang juga saya lakukan –biar pun itu bukan jalan keluarnya.
Ada Dewi. Ada Ali Murtadlo dan istri. Ada Bajuri. Ada mas Shodiq dan istri dan anak perempuannya. Semua satu rombongan. Satu grup senam. Semua sudah saya brifing seperti itu. Semua siap menjaga istri selama di Mekah.
"Dalam 30 sampai 60 menit gigil itu akan berhenti sendiri," kata saya kepada mereka.
Mobil yang membawa saya ke bandara pun tiba. Saatnya saya ke terminal haji Jeddah –di situlah Yemeni Airways berpangkalan. Ini kali pertama saya ke Yaman. Kali pertama naik pesawat Yemeni.
Doa saya satu: jangan ada roket nyasar di penerbangan di atas Yaman yang belum selesai perang ini. Kalau pun ada berikan saya selamat –agar bisa menulis pengalaman itu untuk Disway.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan 10 Februari 2026 Berjudul: Imron Djatmika
Ima Lawaru
Oh iya. Selamat Ultah Disway. Tulisan pertama Disway 9 Februari 2018: Lebih Menyiksa dari Sakit Jantung. Tulisan terakhir hari ini 10 Februari 2026: Imron Djatmika. Terima kasih Abah. Telah 8 tahun memberi kami kuliah tiap hari. Kuliah tanpa bayar SPP, tanpa dosennya marah-marah.Bagaimana mau marah, komentar kamipun tak dibalas-balas. Tapi kami tetap bersyukur, cara Abah merespon adalah dengan memilih komentar. Bersyukur saya yang lain, bahwa sampai hari ini Disway masih gratis. Hihi. Moga gratis seumur hidup. Soalnya Abah kan uangnya bertelur tiap hari. Panjang umur Abah dan keluarga. Panjang umur perusuh dan keluarga. Panjang umur Disway kita.
Mbah Mars
Dosen: bayare kelihatan sak dos. Namun sesungguhnyacuma sak sen. Wkwkwk.
Mbah Mars
Mengapa banyak wartawan memilih alih profesi? Karena menjadi wartawan itu kerja 24 jam, bergaji seolah 8 jam. Siang kejar narasumber, malam dikejar editor dan redaksi. Risikonya nyata: salah kutip bisa berujung somasi, salah judul bisa berujung demo.Bahkan benar pun bisa justru dimusuhi. Ironisnya, saat usia menua, kejelasan hari tua sering tak ikut matang. Idealismenya diminta tetap tegak, tapi jaminan masa depannya sering dibiarkan rapuh. Ketika profesi lain bicara pensiun, wartawan masih diminta “siap liputan mendadak”. Maka jangan heran bila sebagian wartawan memilih turun dari medan laga. Bukan menyerah, hanya sadar: heroisme tak bisa diwariskan ke rekening pensiun.
Mbah Mars
Seorang editor surat kabar meninggal dunia. Beberapa hari kemudian, penjaga makam kaget: batu nisan itu penuh coretan merah. Malamnya turun malaikat dan bertanya, “Kok Anda belum tenang juga?” Roh editor menunjuk nisannya, “Maaf, ini harus diedit dulu.” “Diedit?” “Iya. Nama saya salah tulis. Di redaksi, salah satu huruf saja bisa bikin ralat. Masa di nisan dibiarkan?” Malaikat tersenyum, “Sudah wafat pun masih editor, ya?” Roh itu menghela napas, “Namanya juga editor. Deadline boleh mati, tapi salah ketik… jangan."
Suardi Usman
Jujur.. saya rasakan sekali getarannya saat membaca tulisan ini — bukan hanya sebagai mantan jurnalis, tetapi sebagai orang yang pernah merasakan denyut sebuah profesi yang begitu kita cintai. Dimana saya pernah dikatakan "bodoh" saat lebih memilih sebagai PNS Dosen di Komunikasi UIN Suska Riau hingga saat ini. Sempat galau, tak peduli dengan kepangkatan. Namun Alhamdulillah, kini sedang menyelesaikan S3 di Komikasi USU. Tulisan Abah serasa sebagai restu dan penyemangat tersendiri bagi saya. Semoga bisa mengikuti jejak pak Imron dan Djatmika. Salam perusuh angkatan pertama. Mantan wartawan Riau Pos 2005????
Bahtiar HS
Mudah2an kalau sy bilang kenal dg Prof Imam Mawardi, Cak Mul tdk komen kok ya saya kenal sama beliau. Lha memang kenal. Jauh sblm jumpa Abah DI. Tahun 2009an. Saat sy kuliah lagi. Loncat pagar: dari IT ke Islamic Finance. Program kerjasama Dept Ekonomi Syariah Unair dengan INCEIF Malaysia. International Center of Education in Islamic Finance. Waktu itu pimpinan INCEIF Prof Datuk Othman. Dan Ketua Dept Ekis Unair Dr. Nafik (skrg sdh Prof). Wkt itu sy dpt job membangun website Dept Ekis Unair. Krnnya saya sering ke kampus. Dan bertemu Dr Nafik dkk. Termasuk Pak Imron. Sy seneng sekali ktk ditawari kuliah program Chartered Islamic Finance Professional (CIFP) kerjasama dg INCEIF itu, krn mmg pengin belajar ekonomi/keu Islam. Mau bisnis hrs tahu fikih muamalat. Maunya bs diterima di Malaysia, tp krn sy punya keluarga (besar) dan msh kerja, sy diterima program yg di Unair itu. Diajar Dosen INCEIF yg terbang dari KL ke SBY. Diajar jg dosen Unair, di antaranya Prof Imron. Ngajarnya tdk saja enak. Tapi enak sekali. Keliatan org lapangan. Dan krn dasarnya sama2 seneng nulis, sy sering mengikuti tulisan beliau di media massa. Bbrp kali beliau sy minta menulis fokus utama di majalah yg sy kelola. Yg sama Abah DI suruh tutup itu pas Gathering di Bandung wkwkwk. Maka tdk heran jika beliau akhirnya meraih Prof. Tulisannya bernas. Dan produktif. Itu yg penting. Smg meski sdh di puncak, beliau tetap produktif menulis, mencerdaskan bangsa. Khususnya syiar di bidang ekonomi Islam/syariah.
Muh Nursalim
Sukses tergantung tempat magang. Benar banget. Tapi di Jepang TKI kita disebut magang. Bukan pekerja. Hanya magang. Itu akal-akalan perusahaan jepang. Kalau magang gaji seperempat UMR pun boleh. Dan TKI kita juga sudah senang. Bisa kerja di jepang. Padahal cuma magang. Tapi ada juga perusahaan yang bagus. Namanya juga magang. Perusahaan menyediawkan pelatihan. Ada bahasa ada teknik. Silahkan pilih. Magangers yang cerdas akan ambil itu pelatihan. Gratis dan bersertifikat. Tapi jarang yang ngeh. Mereka pikir sudah menjadi pekerja beneran. Padahal cuma magang. kalau sudah punya serfikat tertentu akan dapat menjadi pekerja benaran. Asli pekerja. Sehingga gajinya UMR. Padahal UMR nya jepang begitu tingginya. Ada yang 30 juta ada yang lebih. Apa lembaga pelatihan magang Jepang tidak cerita bab ini ? Kalau ngerti mestinya tidak ada yang melarikan diri, Tapi menempuh jalan benar. Magang dulu. Pekerja kemudian.
alasroban
Imho: Tidak hanya wartawan sebenarnya. Di profesi bidang apapun sebaiknya ada yang beralih menjadi dosen setelah 5 ~ 10 tahun bekerja di bidangnya. Terutama dosen vokasi. Agar bisa menjelasken ke mahasiswanya kondisi real di lapangan nantinya. Jadi gap antara kampus dan dunia kerja bisa di persempit. Kecuali dosern sains bisa dari mahasiswa pinter yang selalu cumlaude dari S1 sampe S3-nya. Tidak harus pengalaman kerja di bidangnya.
Juve Zhang
Gagal ginjal cuci darah seminggu 3 kali semua Beaya BPJS kesehatan..... pasien' baru 60 ribu setahun pasien lama sekitaran 200 ribuan....jelas BPJS ambruk....cuci darah itu Beaya mahal dan bertahun tahun....gak akan kuat pemerintah dengan laju 60 ribu pasien cuci darah baru setahun.....solusi nya ???? Buat Gedung khusus Cuci darah dibangun banyak di tiap kota milik BPJS .... artinya gak perlu bayar ke RS..RS....ini penyakit berbeaya Tinggi berdurasi Lama....satu pasien bisa cuci darah 20 tahun atau lebih.....60 ribu pasien cuci darah baru setahun itu sekitar 0,02 % jumlah penduduk Indonesia....sekilas kecil tapi anda pake kalkulator hitung Beaya cuci darah seminggu 3 kali ambruk duit BPJS.....sumbang saran saya bangun gedung cuci darah sendiri dan beli mesin sendiri banyak banyak ....pasien membludak....konon banyak tempat Hemodialisa sudah full di booking pasien yg tumplek makin banyak.....
Liam Then
Pak Bos kasih 100jt untuk anak buah , disuruh main saham. Abis itu ndak ditanya-tanya lagi. Kali lain Pak Bos inpest 150 miliar tanam nenas, tentu bukan Pak Bos yang tanam, anak buah juga yang kerja. Saya tahu itu jenis nenas apa, yang gede na ngudubilah itu, manis sekali bahkan waktu mengkal. Terlalu manis malah jadi infeksi,diabetes, cutloss 150 miliar. Ada lagi kali lain, Pak Bos invest pabrik radiasi produk, untuk sterilisasi. Habis lagi, ndak jadi hoki. Hmmm...aneh, yang diceritakan kok nang rugi semua? Yang untung mana? Hush ..yang untung senyap-senyap saja, kalo yang lain ikut bagaimana..?
Lagarenze 1301
Sewaktu bermukim di Makassar, saya pernah mengenal wartawan senior: Adir Amin Daud. Wartawan yang juga menyandang jabatan atau posisi akademis tertinggi: guru besar atau profesor. Kalau tidak salah, waktu itu ia Pemimpin Redaksi Harian Fajar. Koran di bawah naungan Jawa Pos. Koran yang membuat Bos CHD sampai tidur di atas meja seusai jam produksi di awal-awal terbit. Aidir ini tergolong paripurna. Saat masih jadi wartawan, selain menulis buku, ia juga dosen di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Aidir meraih gelar doktor pada April 2007 dan menyandang jabatan guru besar atau profesor bidang ilmu hukum internasional pada Desember 2022. Saya mengikuti karier Aidir dari pemberitaan. Dari wartawan Harian Fajar ia "menyeberang" jadi Ketua KPU Sulsel. Kariernya kemudian melesat. Jadi Direktur Tata Negera Kemenkumham, Dirjen Administrasi Hukum Umum, Dirjen Hak Asasi Manusia, hingga Irjen Kemenkumham. Aidir sudah purnabakti. Tapi, masih terlihat muda. Ia sempat mendaki Gunung Himalaya bersama Geng Makassar Makhfud Sappe dkk. Kini Aidir tinggal di Jakarta, tapi masih rutin ke Makassar untuk mengajar di Unhas. Dan, minum kopi sambil ngobrol dengan koleganya di Warkop Daeng Anas.
yea aina
Mengganti biaya kuliah S2 wartawan setelah kerja 5 tahun nan pelit terarah itu. Ada visi mulia, untuk memikirkan masa depan anak buah (anggota tim hebat) di masa depan. Karyawan dipandang sebagai aset perusahaan. Bukan sekedar alat penghasil cuan. Skrup kecil pelengkap kemajuan "mesin" bisnis untuk memutar modal. Sebab kalau bekerja di perusahaan model bisera (bisnis nan serakah), karyawan hanya di lihat sebagai para pengangguran yang butuh penghasilan. Direkrut secara kontrak kerja, dengan waktu tertentu. Untuk diganti pengangguran lain berikutnya. Atau mendapatkan karyawan dengan cara outsourcing. Perantara pengerah tenaga kerja. Pun waktu, pikiran dan tenaga karyawan itu dibutuhkan, tapi dibayar murah. Sebatas upah minimum yang berlaku. Kadang malah diterima dalam jumlah lebih kecil, karena ada potongan jasa outsourcing juga. Ngenes. Mungkin saja, upaya menumpuk kekayaan di atas lautan keringat bawahan itu, bisa tercapai sekejap. Tapi semua yang "berlebihan", apalagi keserakahan, selalu menemukan jalan menuju keruntuhannya. Entah kapan waktunya, cuma ada satu kepastian di dunia: Semua yang hidup, akan mati pada waktunya.
Gregorius Indiarto
100 jt rupiah. "Misalkan rugi tidak apa-apa. Ludes pun tidak masalah: itu seperti uang kuliah" Jadi ingat dulu, duluuu sekali. Kerja di perkebunan, di mes karyawan. Habis gajian tengah bulanan; "Le, kono melu main 'klotok/koprok' (dadu) ki tak nei modal 10 000" "Urong tau main ki om?" "Yo ben tau!" "Nak kalah om?" "Kalah yo wes, nak menang aku tukokno rokok 34 , sam Soe" "OK, siap!!" # "Kalah om!" "Yo wes, ben. Jenenge belajar, kudu mbayar" 10 ribu rupiah, main koprok, kalah = anggap untuk biaya belajar (belajar judi?hhhh). 100 juta rupiah, untuk jual beli saham, ludes (kalah?) = anggap untuk biaya kuliah (bukan judi(?))hihihihi. Met siang, salam sehat, damai dan bahagia.
Juve Zhang
Wilwa bela BPJS kesehatan mati mati an....saya serang BPJS bangkrut....logika satu penyakit saja Gagal ginjal setiap tahun pasien baru cuci darah 60 ribu pasien kali 3 juta kali 12 bulan....padahal pasien lama masih hidup masih antrian panjang cuci darah....baru satu penyakit belum lainnya.... memberhentikan 12juta tanpa sosialisasi awal bukti nyata Robin hood sedang bangkrut....no doubt..... bangkrut ya bangkrut.... dibilang hidup lagi hanya diberi 3 bulan.... ke-dua kali anda bangkrut beneran.....
Johannes Kitono
Ancaman Jurnalis. Ketika masih jadi Humas co di Ancol . Hampir setiap minggu diskusi dan lunch dengan jurnalis.Baik yang utama maupun terbitnya hanya Senin Kamis saja. Untuk itu sekaligus harus langganan beberapa media lokal maupun LN. Tentu baca berita yang relevan dengan bisnis co. Seperti tentang Ayam, Udang dan Perikanan. Adalah Bondan Makyus Winarno ( alm ) penulis senior yang usul supaya bikin tulisan juga. Tulisan pertama tentang dampak negatip lingkungan kalau tangkap Udang pakai Pukat Harimau. Langsung bikin geger dan bermasalah. Ada yang tersinggung. Sempat di panggil dan di interogasi oleh beberapa jendral yang jadi anggota asosiasi penangkap udang di Papua. Dibentak bentak dan muka sempat ditunjuk tunjuk dengan jari. Dengan pura pura tenang langsung dijawab. Saya minta maaf kalau tulisan saya telah membuat bapa bapa tersinggung. Tapi sekali lagi maaf. Saya tidak bisa menarik kembali tulisan tsb. Kalau tulisan sudah terbit itu menjadi Hak dan tanggung jawab Redaksi. Silahkan bapa bapa protes ke Redaksi sesuai dengan UU Pers. Kali ini lolos lubang dan jadi tambah semangat menulis. Apalagi pernah dapat honor yang lumayan dari Kompas. Setiap Selasa pagi tulisan tentang Perikanan terbit di Bisnis Indonesia. Tentu berkat dorongan jurnalis Wayan dan Tis yang jadi Redpelnya. Kedepan seharusnya tidak perlu ada ancaman lagi bagi jurnalis seperti yang dinikmati oleh perusuh Disway. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.
Udin Salemo
boss tukang ngaduk semen walaupun seorang boss, tapi suka jagongan dengan karyawan saat jam istirahat kerja. tak pilih2 orang dan profesi ketika bincang-bincang santai. tak memandang status sosial. minggu lalu, sore hari sambil menunggu hujan reda kami ngariung dengan beberapa orang yang memang biasa ngumpul. jadah bakar yang dibawa seorang tukang ngaduk semen jadi cemilan. "saya bisa membedakan mana orang yang berpikir untuk masa depan dan yang berpikir hanya untuk saat ini saja." kata boss. "darimana boss, tahu." kata bidin menimpali. "begini, din. beberapa dari kalian ini kan sering saya beri uang kaget. walaupun jumlahnya gak besar. mungkin untuk kamu cukup untuk beli 5 bungkus rokok surya isi 12." "tengkiu, boss. uang itu sering menyambung rokok saya, hehe..." "disitulah bedanya din, orang yang memikir masa depan dengan kamu." "maksud, boss?" "orang yang memikir masa depan seperti pak anu orang kepercayaan saya, yang ikut saya sejak saya mulai usaha." "kenapa dia, boss?" "setiap ada uang yang dia dapat gratis, -seperti uang kaget yang sering kamu terima itu- dia selalu simpan. setelah mencapai jumlah tertentu dia belikan saham. nah, itu contoh orang yang memikirkan masa depan. gak kayak kamu itu." "lha, apa salahnya boss. kan tak ambil uang gaji untuk ngudud saya." "orang yang memikir masa depan diberi kelebihan dia gunakan untuk investasi masa depan. kalau orang seperti kamu dan kawan2mu, diberi kelebihan uang berakhir jadi angin atau di septiktank."
Wilwa
@Juve. Bicara mengenai BPJS Kesehatan, deficit tak bisa dihindari. Negara paling “ciamik” dalam “citizen healthcare” seperti Perancis mensubsidi 333 milyar Euro di tahun 2014 yang sekitar 11.5% dari GDP Perancis. Dan angka itu terus meningkat. Seiring makin menuanya rakyat Perancis. Apakah France Gov’t bisa bangkrut gegara program social security mereka di health care? Itu sama seperti pertanyaan apakah Indonesia Gov’t bisa bangkrut gegara BPJS Kesehatan yang dianggarkan jauh lebih kecil persentasenya dari GDP bila dibandingkan dengan Perancis ? Saya rasa Anda sudah tahu jawabannya.
Juve Zhang
Saya masih saran terbaik buat BPJS dirikan gedung Hemodialisa sendiri dan mesin Hemodialisa sendiri.....itu jauh menghemat anggaran....ini perawatan banyak yg kerja perawat....yg senior....
Murid SD Internasional
Bahwa... Rp1 juta bisa didapat dalam 1 bulan. Rp1 juta bisa didapat dalam 1 pekan. Rp1 juta bisa didapat dalam 1 hari. Rp1 juta bisa didapat dalam 1 jam. Rp1 juta bisa didapat dalam 1 menit. Dibuat terpapar saja dulu, rakyat Indonesia dengan informasi-informasi rahasia seperti itu. Nanti akan tercipta ripple-effect sendiri.
Murid SD Internasional
Saya membayangkan, jutaan rakyat Indonesia dari kalangan menengah ke bawah, terpapar saja dulu, dengan informasi tentang siapa itu Ken Griffin, George Soros, Ray Dalio, yang bisa menghasilkan Rp1 triliun - Rp3 triliun dalam 1 hari, dengan memanfaatkan ilmu matematika. Dibikin penasaran saja dulu. Nanti jutaan rakyat Indonesia akan dengan sendirinya sadar dan melek finansial, bahwa cari uang itu tidak harus jadi tukang aduk semen dengan upah kadang lambat dibayar, tidak harus jadi tukang kuli bangunan dengan upah kurang, tidak harus jadi pedagang UMKM kaki lima yang kadang dikejar satpol pp, tidak harus jadi pekerja honorer dengan gaji miris Rp150 ribu per bulan, tetapi cari uang dan dapat uang itu ternyata super duper ultra various, dengan nominal yang bisa lebih signifikan, dan dalam waktu yang relatif singkat, ketika ada teladan nyata yang bisa dijadikan patokan.
Murid SD Internasional
PERPUSTAKAAN INTERNASIONAL SOLUSI ASIMETRIS PERMASALAHAN BANGSA Bagaimana jika ada ilmu rahasia sehat panjang usia hingga 100 tahun? Yang mana ilmu rahasia ini ditulis langsung oleh orang-orang yang saat ini sedan menikmati usianya yang ke-100 dan masih bisa beraktivitas lincah di kebun. Apakah Anda akan tertarik membacanya? Bagaimana jika ada ilmu rahasia menghasilkan uang Rp10 juta, bahkan Rp100 juta, dalam 1 pekan? Yang mana ilmu rahasia ini ditulis langsung oleh orang-orang yang sudah rutin menghasilkan margin bersih nominal tersebut tiap pekan, selama belasan tahun. Apakah Anda akan berminat membacanya? Itulah premis utama gagasan Perpustakaan Nasional versi Murid SD Internasional. Dibangun 1 unit tiap desa, di seluruh desa di Indonesia. Tujuannya apa? Buat masyarakat penasaran dulu, dengan 2 premis di atas. Penasaran tidak? Jika penasaran -- dan secara aksiomatis semestinya penasaran -- maka tinggal wartakan: 2 ilmu rahasia tersebut, bisa dibaca, ditelaah, diakses, di sebuah perpustakaan baru di Indonesia, yang hanya berisi 2 jenis buku saja, dan hanya mengupas 2 ilmu rahasia tersebut saja. Kalau tidak tertarik, berarti ya sudah, masyarakat Indonesia tidak butuh sehat dan tidak butuh usia panjang, tidak pula butuh uang dalam nominal signifikan. Which is, yang mana artinya, Indonesia aslinya, ternyata baik-baik saja.
Wilwa
@Juve. Heboh penghapusan 11 jutaan PBI di Feb 2026 oleh BPJS Kesehatan berdasarkan data DSTEN dari BPS itu adalah sebuah upaya penghematan yang sayangnya dilakukan tanpa sosialisasi yang memadai. Mendadak dan sekitar 10% lebih PBI yang kena. Semoga ke depan BPJS Kesehatan bisa lebih bijaksana.Murid SD Internasional
Pak Guru @Juve Zhang menggagas konsep bangun gedung hemodialisa terbesar di berbagai kota di Indonesia. Murid SD Internasional menggagas konsep bangun Perpustakaan Internasional dengan 2 genre buku rahasia -- Wealth & Health -- di tiap desa di seluruh Indonesia. Silakan Pak Presiden Prabowo, dipilih. Dua-duanya viable.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:


Komentar: 24
Silahkan login untuk berkomentar