Siasat Gerilya Sales QRIS dan Candu Paylater
Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS--
SUDAH zamannya. Begitu kata Pak Sutarman. Penjual kelontong di Reni Jaya, Depok itu mulanya emoh. Ribet, pikirnya. Tapi pelanggan memaksa. "Pak, pakai QRIS dong," katanya menirukan pembeli. Akhirnya pasang juga. Hasilnya? Omzet naik. Orang yang tidak bawa tunai jadi belanja.
Itulah wajah baru ekonomi kita hari ini. Kalau tidak digital, Anda dianggap purba. Tapi tunggu dulu. Di balik stiker kotak-kotak yang nempel di kaca warung itu, ada cerita lain. Ada cerita tentang sales yang main "tempel lari".
Ada cerita tentang ibu rumah tangga yang "napasnya" tergantung pada klik cicilan. Dan ada sosiologi yang bergeser, dari perencanaan menjadi candu belanja.
Candu di Balik Voucher Diskon
Sistem pinjam-meminjam uang kini bukan lagi urusan datang ke bank dengan map tebal berisi sertifikat tanah. Sekarang, pinjam uang itu cukup sambil rebahan. Namanya mentereng, Buy Now Pay Later (BNPL). Alias, beli sekarang bayarnya nanti saja.
Fitur ini sudah seperti bumbu penyedap di hampir semua platform e-commerce dan e-wallet. Shopee punya, OVO punya, Gojek apalagi. Iming-imignya luar biasa, seperti diskon gede, voucher gratis ongkir, atau poin melimpah kalau Anda mau mengaktifkan fitur ini.
Tapi, di balik "kebaikan" itu, ada jeratan yang sangat halus.
Banyak anak muda dan pengusaha terjebak dalam siklus yang mereka sebut "penyelamat", padahal bisa jadi itu adalah candu. Kemudahan transaksinya membuat jari ini ringan sekali untuk klik 'Beli'.
Efeknya? Pengaturan uang pribadi jadi berantakan. Dana yang harusnya buat bayar cicilan, terpakai untuk kebutuhan lain yang dianggap lebih mendesak. Begitu terus, seperti lingkaran setan.
Nasi Kuning dan Siasat Spaylater
Mari kita lihat Dessy Putri. Umurnya 49 tahun. Dia ibu rumah tangga tangguh yang juga jualan nasi kuning kotak di Depok. Dessy bukan orang yang boros, tapi kondisi ekonomi seringkali membuatnya terjepit.
"Saya pakai Shopee Paylater, Spaylater itu," ceritanya kepada tim Disway.
Dessy menggunakan paylater bukan untuk pamer gaya hidup. Baginya, fitur ini adalah katup penyelamat saat modal belanja membengkak. Namun, dia punya aturan ketat untuk dirinya sendiri. Dia tidak mau nominalnya lewat dari Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu.
"Kalau lebih dari itu, pening mikirin ganti tagihannya. Padahal uang jualan kemarin harus diputar lagi buat belanja besok," tuturnya jujur.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: