Siasat Gerilya Sales QRIS dan Candu Paylater
Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS--
Bagi Dessy, paylater adalah alat bantu, bukan sumber utama.
Namun bagi Fernandi, seorang karyawan swasta berusia 28 tahun, paylater justru bisa jadi bumerang. Ia skeptis. "Kalau jadi solusi utama, ya malah numpuk tagihannya. Ujung-ujungnya kita sendiri yang kena mental," tukas Fernandi.
Sutarman dan 'Zaman' yang Memaksa
Pindah ke toko kelontong milik Sutarman (54). Di Toko Agung miliknya, teknologi digital masuk bukan karena keinginan pribadi, tapi karena "ditodong" pelanggan.
"Tadinya saya nggak pakai. Terus pelanggan minta, akhirnya saya pakai karena memang sudah zamannya," kata Sutarman.
Enam bulan sejak memasang QRIS, Sutarman merasa terbantu. Tidak ada lagi drama pembeli batal beli karena tidak bawa uang tunai. Bagi penjual seperti Sutarman, paylater atau dompet digital pelanggan tidak berpengaruh buruk padanya. Yang penting, ada bukti transaksi, uang masuk ke saldo, dan dagangan laku.
Namun, yang tidak diketahui Sutarman dan mungkin banyak pemilik warung lainnya adalah bagaimana stiker-stiker itu "lahir" di kaca toko mereka.

Transaksi semakin mudah dengan layanan QRIS dan dompet digital.
Gerilya Sang Sales: Tempel Dulu, Jelasin Belakangan
Di sinilah sisi gelap itu muncul. Namanya Rian, 24 tahun. Profesinya mentereng, Sales Acquisition Officer. Tapi tugasnya sebenarnya adalah "pasukan gerilya" dompet digital.
Rian bercerita dengan nada lelah melalui sambungan telepon. Beban di pundaknya berat: target harian 15 sampai 20 merchant baru. Angka yang nyaris mustahil jika dilakukan dengan cara-cara sopan dan birokratis.
"Kalau cuma nawarin baik-baik, hampir pasti ditolak. Makanya kita nggak bisa nunggu izin lama-lama," buka Rian blak-blakan.
Strateginya? Main tempel. Rian dan kawan-kawannya sering langsung menempelkan stiker QRIS di warung tanpa tanya dulu. Begitu stiker nempel, baru dia bicara. Ini strategi psikologis. Pemilik warung biasanya merasa canggung mau mencopot atau menolak karena barangnya sudah terpasang.
Tak hanya itu, Rian dibekali "senjata" berupa gimmick. Ada celemek baru, tempat tisu, sampai rak rokok akrilik. Bagi warung kecil, barang-barang ini menarik hati. "Mereka ngerasa dapat untung langsung," ujarnya. Padahal, si pemilik warung belum tentu paham apa itu saldo digital atau bagaimana cara mencairkan uangnya.
Ancaman Halus "Uang Tunai Bakal Ditarik!"
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: