“Fenomena 'rojali' dan 'rohana' ini, merupakan jeritan rakyat yang terhimpit ekonomi,” tuturnya.
Pengusaha Ritel di Mal Keluhkan Fenomena Rojali dan Rohana, Apa Sebabnya?-Disway/Bianca Chairunisa-
BACA JUGA:Mensesneg: Istilah 'Rojali dan Rohana' Jadi Lecutan untuk Pemerintah Benahi Ekonomi
Sama halnya dengan pernyataan Anggota Komisi XI DPR Ahmad Najib Qodratullah.
Ia meminta pemerintah untuk memberikan stimulus ekonomi yang berdampak dan berefek langsung terhadap kemampuan daya beli masyarakat Indonesia.
“Saya pikir saatnya semua komponen bekerja sama untuk mengatasi daya beli masyarakat. Stimulus pemerintah perlu betul betul memberikan efek langsung terhadap kemampuan daya beli masyarakat,” ujar Najib.
Untuk mendongkrak daya beli masyarakat, Najib menilai, bantuan langsung tunai atau BLT masih menjadi opsi yang baik untuk terus digulirkan.
Meskipun, Najib menekankan, pentingnya pengawasan super ketat dalam mengawasi penyaluran bantuan langsung tunai atau BLT.
“Saya melihat bahwa BLT masih opsi yang baik untuk dilakukan dengan menambahkan pengawasan baik itu terhadap siapa yang berhak menerima BLT atau bukan,” imbuh Najib.
Dari sisi psikologis dan sosial, ternyata dapat memukul suasana kebatinan masyarakat pada umumnya dan keluarga pada khususnya.
Psikolog Klinis, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa mal selama ini berfungsi sebagai 'ruang ketiga' (third place), yaitu ruang netral di luar rumah dan tempat kerja, di mana interaksi sosial dan sense of community terbentuk.
"Ketika mal, yang menjadi salah satu ruang interaksi utama, mulai sepi atau bahkan tutup, terjadi dampak psikologis berupa hilangnya kesempatan untuk bersosialisasi secara fisik," jelas Vera saat dihubungi Disway.id, Selasa 4 November 2025.
Bagi sebagian orang, terutama lansia atau keluarga yang bergantung pada mal sebagai tempat rekreasi yang terjangkau dan aman, penutupan ini dapat menimbulkan rasa sedih, kejenuhan, atau bahkan kecemasan (anxiety) karena berkurangnya pilihan aktivitas di luar rumah.
"Mal menawarkan pengalaman multi-sensorik: mencium aroma makanan, mendengar musik latar, dan melihat langsung produk. Pengalaman ini adalah stimulus positif yang penting bagi kesehatan mental, dan ini tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh layar gawai," tutur Vera.