Jeritan Hati Rojali dan Rohana, Mal Sepi Jadi Tempat Pelesir Gratis karena Dompet Menipis

Rabu 05-11-2025,07:00 WIB
Reporter : Tim Redaksi Disway
Editor : Marieska Harya Virdhani


Belanja online. Ilustrasi Foto: shopping--

Perubahan Dramatis Menuju Toko Daring

Pergeseran masif ke toko daring atau e-commerce menjadi faktor utama 'senyapnya' mal.

Perubahan perilaku ini, meski menawarkan kemudahan dan efisiensi, juga membawa dampak psikologis tersendiri pada masyarakat:

1. Risiko Perilaku Konsumtif dan Kecanduan Belanja

Kemudahan one-click-buy dan diskon yang agresif di toko daring memicu perilaku belanja kompulsif (Compulsive Buying Disorder atau Oniomania). 

"Akses yang terlalu mudah dan tanpa batas dapat menghilangkan kontrol diri terhadap pengeluaran. Ini menciptakan siklus kepuasan instan yang diikuti oleh rasa bersalah dan tekanan finansial," tegas Vera.

2. Kesenjangan Digital dan Stres

Tidak semua lapisan masyarakat siap beradaptasi dengan toko daring. 

Kelompok usia tertentu (lansia) atau mereka yang tinggal di daerah dengan akses internet terbatas mungkin merasa terisolasi secara digital, meningkatkan stres dan rasa tidak berdaya karena kesulitan mengakses barang dan layanan esensial.

3. Reduksi Kualitas Interaksi Sosial

Belanja daring menghilangkan interaksi tatap muka yang terjadi antara pembeli dan penjual, atau antar sesama pengunjung. 

"Interaksi singkat ini sejatinya adalah 'vitamin sosial' yang berkontribusi pada kesejahteraan emosional. Hilangnya interaksi ini berpotensi meningkatkan rasa kesepian, meskipun secara teknologi kita terhubung," pungkas Vera.

BACA JUGA:Fenomena 'Rojali dan Rohana' Jadi Sorotan Karena Daya Beli Melemah, Benarkah Gara-gara Judol dan Pinjol?

Adaptasi dan Solusi Jangka Panjang

Masyarakat kini dituntut untuk beradaptasi, mencari ruang publik alternatif, dan membangun kembali koneksi sosial di luar konteks ritel.

Sementara itu, Vera menggarisbawahi pentingnya edukasi literasi finansial dan digital agar masyarakat dapat menikmati kemudahan toko daring tanpa jatuh dalam jebakan konsumtif dan isolasi sosial.

"Kuncinya adalah keseimbangan. Gunakan toko daring untuk efisiensi, tetapi tetap pertahankan interaksi sosial dan aktivitas fisik di ruang publik yang masih ada demi menjaga kesehatan mental kita," jelasnya.

Kategori :