Indonesia dan Diplomasi Moral Dunia

Jumat 28-11-2025,12:59 WIB
Oleh: Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph

Di dalamnya terdapat keseimbangan: agama menjadi sumber nilai etis, sementara demokrasi memastikan perlindungan hak setiap warga.

BACA JUGA:9 Alasan Menag Nasaruddin Umar Nakhoda Ideal PBNU Mendatang

BACA JUGA:Mahasiswa Unggul, Negara Unggul

Keseimbangan itu membangun legitimasi moral yang sulit ditandingi. Indonesia memang bukan negara adidaya, tetapi kehadirannya diperhitungkan karena konsistensi pada nilai kemanusiaan.

Inilah yang menjadikan suara Indonesia di forum internasional bukan sekadar suara politik, melainkan suara nurani.

Banyak analis internasional menyebut Indonesia sebagai moral voice of the Muslim world—bukan karena kekuatan senjata, tetapi karena kekuatan teladan dalam merawat martabat kemanusiaan. 

Religious Soft Diplomacy: Jalan Damai Ala Indonesia

Di era ketika agama kerap dijadikan alat legitimasi politik, sumber polarisasi sosial, bahkan alasan kekerasan berbasis identitas, Indonesia justru menawarkan arah yang berbeda: agama sebagai penyejuk, bukan pemecah.

BACA JUGA:KESEHATAN MENTAL BANGSA

BACA JUGA:Sembilan Alasan Nusron Wahid Layak dan Berpeluang Terpilih Ketum PBNU

Di tengah lanskap global yang rawan retorika ekstrem dan nasionalisme keagamaan, Indonesia membuktikan bahwa tradisi keberagamaan dapat menjadi infrastruktur perdamaian bila dikelola dengan visi kemanusiaan.

Kepemimpinan Kementerian Agama Republik Indonesia memperkuat paradigma ini melalui pelembagaan religious soft diplomacy sebagai strategi diplomasi kebudayaan berbasis nilai-nilai luhur agama.

Dalam berbagai forum internasional, Menag Prof. Nasaruddin Umar secara konsisten mempromosikan pendekatan diplomasi agama melalui dialog lintas iman, kolaborasi antarorganisasi keagamaan dunia, kemitraan akademik, serta inisiatif track-two diplomacy yang menjembatani tokoh agama dengan pemangku kebijakan global.

Kerja sama strategis dengan Vatikan, Universitas al-Azhar Mesir, Rabithah ‘Alam Islami, dan lembaga agama internasional lainnya menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya bicara tentang toleransi, tetapi mengonsolidasikannya sebagai praktik diplomasi.

Gagasan ini sejalan dengan tesis R. Scott Appleby dalam The Ambivalence of the Sacred yang menyatakan bahwa agama dapat menjadi sumber konflik atau penyembuhan, tergantung bagaimana ia dibingkai secara sosial dan politis.

BACA JUGA:Saatnya yang Muda Kembali Memimpin PBNU

Kategori :