Indonesia dan Diplomasi Moral Dunia

Jumat 28-11-2025,12:59 WIB
Oleh: Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph

Peran Kampus: Melahirkan Diplomat Pengetahuan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memposisikan diri sebagai bagian dari misi global ini.

Kampus bukan sekadar ruang akademik yang mencetak lulusan, tetapi laboratorium peradaban.

Di sini kita ingin melahirkan intelektual yang tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga berani membela kemanusiaan.

John Paul Lederach — tokoh rekonsiliasi internasional — menyebut bahwa modal terbesar pembangun perdamaian bukan kekuatan militer, melainkan “imagination of relationship”: kemampuan membangun hubungan antarmanusia dalam kepercayaan dan empati.

Karena itu, pendidikan kita harus menggabungkan: ketajaman analisis, kedewasaan etika, dan sensitivitas kemanusiaan. Diplomat masa depan bukan hanya orang yang mewakili negara di forum internasional.

BACA JUGA:Pahlawan Baru di Zaman Ilmu

BACA JUGA:Gelombang Suksesi: Mencari Talenta yang Tepat untuk Mencapai Keberlanjutan

Diplomat masa depan adalah siapa pun yang menebarkan keadilan, empati, dan dialog — di politik, ekonomi, sosial, agama, dan ruang digital.

Di dunia yang semakin keras, suara yang tetap “memanusiakan” menjadi sangat langka.

Indonesia memilih untuk tetap lembut — dan karena itu justru kuat.

Kita bukan negara superpower, tetapi kita punya superpower of conscience. Dan itu kekuatan yang tidak lekang oleh teknologi, perang, atau kalkulasi geopolitik.

Tugas kita adalah merawatnya melalui: diplomasi kemanusiaan, penguatan pendidikan, riset perdamaian, dan integrasi ilmu–iman–adab. Karena pada akhirnya, perdamaian global bukan hanya proyek bangsa besar.

BACA JUGA:Tiga Kelebihan Bauran BBM dengan Etanol

BACA JUGA:Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia

Ia adalah proyek umat manusia.

Kategori :