Menurut dia, kerja-kerja kemanusiaan tidak mengenal latar belakang profesi.
“Kita sama-sama warga negara Indonesia. Di sana saudara-saudara kita sedang tertimpa musibah. Relawan yang bergerak berasal dari berbagai latar belakang, ada perawat, bidan, guru, dan lainnya,” tuturnya.
Secara keseluruhan, ratusan relawan Gesit terlibat dalam penanganan banjir Aceh. Mereka tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Lhokseumawe, Aceh Tamiang, hingga sejumlah daerah di Sumatera Utara seperti Medan, Sibolga, dan Tapanuli Tengah.
BACA JUGA:149.159 Jemaah Lunasi Bipih Haji Reguler 2026 Tahap I, Tahap II Dibuka 2-9 Januari
“Relawan lokal sudah banyak yang turun. Mereka ini lokal hero yang bergerak cepat di daerah masing-masing,” kata Indra.
Melihat kondisi Aceh pascabencana, Indra mengaku diliputi rasa prihatin. Menurutnya, banjir tidak hanya merusak rumah dan harta benda, tetapi juga menyisakan ketidakpastian bagi ribuan warga terdampak.
“Sedih, karena banyak warga kehilangan rumah, harta, bahkan nyawa. Sampai sekarang juga belum jelas mereka akan tinggal di mana, karena puing-puing masih banyak dan belum dibersihkan maksimal,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat dengan menetapkan banjir Aceh sebagai bencana nasional, agar proses penanganan dan pemulihan dapat berjalan lebih optimal.
“Kalau bisa segera ditetapkan sebagai bencana nasional, supaya warga cepat mendapat kepastian tempat tinggal. Sekarang masih banyak yang tinggal di tenda darurat. Ribuan warga belum punya rumah dan butuh perhatian serius agar bisa merasa aman,” pungkas Indra.