Ia menegaskan bahwa cadangan hanya bisa diperoleh melalui eksplorasi. Tanpa eksplorasi, tidak ada produksi, dan tanpa produksi, kemandirian energi sulit dicapai.
Ia menambahkan bahwa karena eksplorasi membutuhkan investasi besar, pemerintah terus menyiapkan langkah-langkah untuk menjaga daya tarik Indonesia di mata investor global, termasuk:
- Kebijakan fiskal yang lebih fleksibel
- Insentif yang kompetitif
- Pembenahan data dan regulasi
BACA JUGA:Peran SUN Energy Dukung Dekarbonisasi Industri Indonesia, Energi Terbarukan Jadi Fondasi
Panel Bioenergi: DPD RI Dorong Dana Investasi Bioenergi Nasional
Pada Panel Diskusi 2 bertema “Financing Bioenergy for Sustainable Growth”, Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin hadir sebagai keynote speaker.
Ia memperkenalkan gagasan green democracy, sekaligus menekankan bahwa kebijakan energi tidak boleh hanya ditentukan oleh mekanisme pasar semata, tetapi harus memperhatikan keadilan wilayah.
DPD RI, menurutnya, mendorong pembentukan Dana Investasi Bioenergi Nasional melalui skema blended finance, agar proyek bioenergi juga bisa berjalan di wilayah yang infrastrukturnya belum matang.
Sultan menilai perlu ada insentif fiskal khusus agar investor merasa memiliki “bantalan risiko” saat berinvestasi di daerah yang masih tertinggal.
HIPMI: Transisi Energi Butuh Ekosistem Pendanaan yang Bankable
Kasatgas Energi BPP HIPMI, Jay Singgih, menegaskan bahwa transisi energi tidak sekadar menambah sumber energi baru, tetapi juga mencakup perubahan sistem, perilaku, dan pola investasi.
Jay menilai Indonesia memiliki peluang besar karena kekayaan biomassa yang melimpah, mulai dari:
- Limbah pertanian
- Residu kelapa sawit
- Bahan organik