AS mulai mengerahkan kekuatan militer besar-besaran ke kawasan Karibia dan perairan dekat Venezuela, termasuk kapal perang, jet tempur F-35, kapal selam, serta ribuan personel militer.
-
2 September 2025
AS melancarkan serangan pertama terhadap kapal yang dituding membawa narkoba dari Venezuela. Trump mengklaim seluruh awak kapal tewas.
-
September 2025
Serangkaian serangan lanjutan dilakukan terhadap kapal-kapal yang dituduh menyelundupkan narkoba. Sejumlah senator Demokrat dan kelompok HAM mempertanyakan dasar hukum operasi militer tersebut.
2 Oktober 2025
Trump menyatakan AS berada dalam “konflik bersenjata” dengan kartel narkoba dan menyebut mereka sebagai kombatan ilegal, memicu kritik soal perluasan kewenangan perang presiden.
-
Oktober 2025
Serangan militer meningkat tajam. Hingga akhir bulan, lebih dari 10 operasi dilaporkan terjadi di Karibia dan Samudra Pasifik timur. AS juga mengirim kapal induk USS Gerald R. Ford ke kawasan tersebut.
-
31 Oktober 2025
Kepala HAM PBB menyerukan penyelidikan internasional atas serangan AS, menyebut potensi pembunuhan di luar proses hukum.
-
November 2025
AS melanjutkan serangan terhadap kapal-kapal yang dituduh membawa narkoba. Pemerintah Venezuela merespons dengan mobilisasi militer besar-besaran dan latihan nasional.
-
16 November 2025
Jumlah pasukan AS di kawasan meningkat menjadi sekitar 12.000 personel dalam operasi yang disebut “Operasi Tombak Selatan”. Trump menyatakan kemungkinan dialog dengan Venezuela tetap terbuka.
-
Desember 2025
- Amerika Serikat menyita kapal tanker minyak Venezuela di perairan internasional.
- Pentagon menolak merilis video lengkap serangan awal.
- Trump memerintahkan blokade kapal tanker minyak yang dikenai sanksi.
- CIA dikonfirmasi melakukan serangan drone di area dermaga Venezuela pada 30 Desember, menjadi operasi langsung pertama di daratan Venezuela.