Lalu algoritma datang menyiram bensin. Emosi keras lebih laku daripada ketenangan. Yang memancing reaksi diangkat lebih sering. Akibatnya nyinyir terasa dominan. Seolah semua orang seperti itu. Padahal sering kali itu hanya suara paling ribut, bukan suara paling banyak.
Di sinilah punchline yang sering luput kita sadari. Orang yang hidupnya penuh jarang dan tak tertarik untuk nyinyir. Orang yang nyinyir sering kali hanya sedang kosong.
Nyinyir bukan identitas moral. Ia sinyal kelelahan. Ia tanda bahwa seseorang sedang berperang dengan dirinya sendiri. Dan hampir semua orang pernah berada di fase itu.
Tidak ada yang sepenuhnya kebal. Yang membedakan hanya apakah kita mau berhenti sejenak dan jujur pada diri sendiri.
Karena itu persoalan nyinyir tidak selesai dengan imbauan sopan santun digital. Ia akan mereda ketika kita berhenti menjadikan hidup orang lain sebagai tolok ukur kebahagiaan pribadi.
Media sosial boleh terus berisik. Tapi ketenangan tidak pernah lahir dari layar. Dan di sinilah kita memilih.
Nyinyir akan selalu ada. Tapi kita tidak harus ikut tinggal di sana. Kita bisa memilih cukup. Cukup melihat tanpa membandingkan.
Cukup mengapresiasi tanpa mengecilkan. Cukup sibuk memperbaiki diri tanpa mengomentari hidup orang lain.
Sebab pada akhirnya hidup bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang tetap tenang ketika orang lain bersinar.
by: Ren Hayasaka - Cak Tun Ahmad Gazali,SH.,M.Eng.,Ph.D