Tanaman Obat, Aromatik, dan Rempah: Mesin Ekonomi Baru 2026

Sabtu 17-01-2026,09:49 WIB
Oleh: Kuntoro Boga Andri, SP, MAgr, PhD

JAKARTA, DISWAY.ID - Di tengah pertumbuhan ekonomi global yang cenderung moderat serta meningkatnya tantangan ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat, Indonesia sesungguhnya tengah duduk di atas harta karun ekonomi yang kerap luput dari sorotan arus utama, yaitu  tanaman obat, aromatik, dan rempah (TOAR).

Komoditas ini bukan sekadar warisan sejarah Nusantara yang termasyhur sejak era Majapahit hingga perdagangan VOC, melainkan aset strategis masa depan.

Di tengah pergeseran preferensi konsumen dunia menuju produk alami, aman, dan fungsional, TOAR berpotensi menjadi mesin baru pertumbuhan ekspor, penggerak ekonomi perdesaan, sekaligus penopang daya saing Indonesia menuju 2026.

Permintaan global terhadap produk berbasis bahan alam terus menunjukkan tren meningkat, seiring berkembangnya industri nutraseutikal, obat tradisional terstandar, kosmetik alami, hingga essential oil premium.

Data menunjukkan Indonesia masih menjadi salah satu pemain utama TOAR di kawasan. Pada 2024, ekspor tanaman obat, aromatik, dan rempah mencapai puluhan ribu ton dengan Tiongkok sebagai tujuan utama, disusul India, Bangladesh, Pakistan, dan Amerika Serikat.

Jahe, kunyit, temulawak, hingga kapulaga menjadi komoditas unggulan yang menopang kinerja ekspor. Nilai ekspor tanaman obat pada 2023 telah melampaui USD 90 juta atau sekitar Rp1,4 triliun, sementara ekspor rempah-rempah Januari–November 2023 menembus USD 564 juta (sekitar Rp9,5 triliun) meski harga global berfluktuasi.

BACA JUGA:Jalan 5 KM Menjemput Hati Jemaah Haji, Tutup Pekan Pertama Diklat PPIH Arab Saudi 2026

BACA JUGA:Katalog Promo Superindo Akhir Pekan 17 Januari 2026, Filma Minyak Goreng 2L Cuma Rp34 Ribuan

Bahkan, ekspor essential oil Indonesia pada 2024 mencetak rekor lima tahunan dengan nilai sekitar USD 259,5 juta (sekitar Rp 4,4 triliun), menegaskan posisi Indonesia sebagai pemasok penting minyak atsiri dunia.

Fakta-fakta tersebut menegaskan bahwa TOAR bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan aset strategis pembangunan ekonomi masa depan.

Ketika dunia bergerak menuju produk natural dan berkelanjutan, Indonesia berada pada posisi yang sangat menguntungkan, asal mampu mengubah paradigma dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen global produk bernilai tambah tinggi.

Menuju 2026, momentum ini menuntut langkah cepat dan terukur, baik percepatan hilirisasi, penguatan kebijakan publik, serta integrasi ekosistem hulu–hilir. Pilihannya kini nampak nyata dan tergantung kita, dimana Indonesia dapat menjadi penonton saja dalam pasar global herbal dan rempah yang tumbuh pesat, ataukah kita akan tampil sebagai pemimpin industri di sektor ini.

Potensi Ekspor Berbasis Nilai Tambah

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan akselerasi kuat ekspor tanaman obat Indonesia. Sepanjang Januari–Oktober 2023, nilai ekspor tanaman obat melonjak hingga 151 persen, menandai pertumbuhan yang jauh melampaui banyak komoditas tradisional lainnya.

Tren ini berlanjut pada laporan 2025, ketika ekspor hortikultura, termasuk tanaman obat dan rempah, meningkat signifikan dari kisaran USD 194,9 juta menjadi sekitar USD 308 juta.

BACA JUGA:Selain PBNU, KPK Dalami Peran PWNU DKI Jakarta dalam Kasus Korupsi Kuota Haji

Kategori :