Ketika Ahli Kanker Terkena Kanker Payudara, dari Dokter Jadi Pasien

Senin 19-01-2026,00:01 WIB
Reporter : Marieska Harya Virdhani
Editor : Marieska Harya Virdhani

Kini berusia 48 tahun, ia bersiap menerbitkan memoar terbarunya berjudul “From Both Sides of the Curtain: Lessons and Reflections from an Oncologist's Breast Cancer Journey”, yang akan tersedia pada 20 Januari.

BACA JUGA:Mayoritas Terlambat! 2 dari 3 Wanita Indonesia Terdeteksi Kanker Serviks di Stadium Akhir

Menjadi seorang pasien membuatnya belajar menerima kerentanan dan, menurutnya, justru menjadikannya dokter yang lebih baik.

“Dengan lebih terbuka kepada orang lain tentang perjuangan saya, itu membantu proses penyembuhan karena saya menyadari bahwa saya tidak sendirian. Semua orang sedang berjuang, dan dengan mengakuinya, kita jadi lebih manusiawi. Pasien pun jadi bisa lebih terhubung dengan saya,” ujarnya.

BACA JUGA:Jangan Takut Lakukan USG dan Mammografi, Kanker Payudara Bisa Diobati

Dari dokter menjadi pasien

Hwang mengatakan reaksi pertamanya saat menerima diagnosis adalah ketakutan untuk menyampaikan kabar itu kepada ketiga putranya, yang saat itu berusia 15, 13, dan 11 tahun.

“Saya hanya memikirkan anak-anak saya dan berpikir, ‘Ya Tuhan, apa yang akan terjadi jika ini membunuh saya?’” katanya.

Berbeda dengan kebanyakan pasiennya, Hwang tahu apa yang bisa diharapkan dari perawatan dan bagaimana memahami prognosisnya.

Kasus kanker payudara memang meningkat, tetapi penyakit ini sangat dapat diobati, terutama jika terdeteksi sejak dini. 

BACA JUGA:Pengidap Kanker Payudara Ternyata Sering Ditemukan Tak Sengaja saat MCU, Begini Pengalaman Dokter

Hal ini sangat kontras dengan jenis kanker lain: misalnya, kanker pankreas memiliki tingkat kelangsungan hidup lima tahun sekitar 12%.

Pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa kanker Hwang lebih luas dari yang diperkirakan.

Dokter-dokternya, yang juga merupakan teman dan koleganya, memberinya peluang bertahan hidup sebesar 85%.

Secara teori, angka itu sangat menjanjikan.

Namun yang terus terbayang di benaknya justru peluang 15% bahwa sesuatu bisa berjalan salah.

BACA JUGA:Waspada! Hujan Mengandung Mikroplastik dalam Jangka Panjang Bisa Picu Peradangan Paru dan Kanker

Kategori :