JAKARTA, DISWAY.ID - Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah paling penting dalam Islam.
Bagi umat Muslim, ibadah ini tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta melatih ketakwaan, kesabaran, dan pengendalian diri.
Secara historis, ibadah puasa bukanlah amalan baru yang hanya dikenal pada masa Nabi Muhammad SAW.
Sejak zaman sebelum Islam, Allah telah memerintahkan puasa kepada umat-umat terdahulu, meski tidak semua menerima dan menjalankannya dengan penuh ketaatan.
Sejarah Puasa Sebelum Diwajibkannya Ramadan
Sebelum turunnya perintah wajib puasa Ramadan, Nabi Muhammad SAW telah terbiasa menjalankan puasa sunnah.
Di antaranya adalah puasa tiga hari setiap bulan, sebagaimana tradisi ibadah yang juga dilakukan oleh umat pada masa Nabi Nuh AS.
Selain itu, Rasulullah SAW juga berpuasa pada 10 Muharram (Hari Asyura).
Ibadah-ibadah tersebut menjadi bagian dari proses penyempurnaan syariat Islam sebelum puasa Ramadan diwajibkan secara penuh.
Perintah puasa Ramadan secara resmi ditetapkan pada tahun kedua Hijriah, setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah.
Hijrah ini tidak hanya bertujuan menghindari tekanan kaum Quraisy, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam penyempurnaan ajaran Islam.
BACA JUGA:Daftar Juara Indonesia Masters 2026: Alwi Farhan Akhiri Puasa Gelar, Malaysia Borong Prestasi
Dalil Puasa Ramadan dalam Al-Qur’an
Kewajiban puasa Ramadan didasarkan pada firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 183–184, yang menjelaskan bahwa puasa diwajibkan bagi orang-orang beriman sebagaimana telah diwajibkan kepada umat-umat sebelumnya, agar mereka bertakwa.
Dalam ayat tersebut juga dijelaskan keringanan bagi orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan, yaitu dengan mengganti puasa di hari lain. Sementara bagi mereka yang sangat berat menjalankannya, diwajibkan membayar fidyah, berupa memberi makan kepada orang miskin.