“Pengawasan dan penindakan yang cepat dan tegas sampai dengan ke pengadilan oleh otoritas,” tuturnya.
Peran Orangtua jadi Hal Vital
Sebagai pihak yang seharusnya memiliki kedekatan paling besar dengan anak, peran orangtua pun juga memiliki hal vital dalam memastikan tumbuh kembang anak.
Hal serupa pun juga turut diungkapkan oleh Founder komunitas Gembira Parenting, Reza Imran. Dalam hal ini, dirinya menjelaskan bahwa kejahatan child grooming sendiri pada dasarnya “masuk” ke dunia anak bukan sebagai orang jahat, tapi malah sebagai orang yang peduli dan memberikan perhatian.
"Pada dasarnya selama orang tua menjadi tempat aman anak. Atau istilahnya “tempat pulang” ketika anak lelah. Maka mau masuk dari manapun pelaku grooming akan lebih cepat diidentifikasi oleh orang tua, untuk segera dilakukan tindakan preventif demi keamanan anak," tutur Reza ketika dihubungi oleh Disway, pada Selasa (20/01).
Untuk mewaspadai tindakan kejahatan child grooming ini, Reza mengungkapkan bahwa ada beberapa tanda yang dapat diwaspadai oleh orangtua, yang terdiri dari:
● Anak menjadi lebih tertutup secara emosional, bukan hanya ingin privasi. Tapi lebih tidak mau diketahui apa perasaannya. Ketika orang tua tanya tentang perasaannya banyak dijawab “aman”,”gpp”,”baik-baik aja”.
● Lebih defensif, mudah tersinggung, atau sangat protektif terhadap ponsel. Tidak
selalu ini pertanda buruk, tapi orang tua butuh cari cara untuk kembali
membersamai tanpa terkesan mendesak.
● Menghapus chat, menggunakan akun cadangan.
"Secara umum orang tua dapat waspada ketika ada beberapa tanda ini, walau tidak selalu tapi ini bisa menjadi kewaspadaan," tegas Reza.
Pola Komunikasi dan Kepercayaan dari Anak
Selain memberikan pengawasan, Reza juga turut menambahkan bahwa membangun pola komunikasi yang melekat dengan anak pun juga perlu untuk dilakukan.
Menurutnya, membangun kepercayaan antara orangtua dan anak sendiri dapat memberikan rasa aman bagi sang anak untuk dapat memberitahukan masalah pribadinya.
Pasalnya, sering kali pelaku grooming menanamkan satu narasi utama: “Kalau orang tuamu tahu, kamu akan dimarahi.” Ketika orang tua marah, narasi pelaku terbukti benar.