JAKARTA, DISWAY.ID-- Buku berjudul The Broken Strings yang ditulis oleh aktris cantik Aurelie Moeremans rupanya menjadi titik balik yang cermat untuk keluar dari pelaku bak topeng mentor ternyata predator.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Broken Strings menjadi cermin bagi ribuan perempuan yang baru menyadari bahwa rasa "spesial" yang mereka rasakan bertahun-tahun lalu sebenarnya adalah racun yang dikemas sebagai madu.
Psikolog Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si menilai kasus Child Grooming yang dialami oleh Aurelie Moeremans sudah terakumulasi sejak bertahun-tahun.
Sehingga, hal tersebut tidak serta merta langsung nampak secara fisik, tetapi perlahan membunuh mental.
"Child grooming itu sebuah proses. Terjadi ketika seseorang melakukan pendekatan secara pelan-pelan, penuh perhitungan," ujarnya saat diminta keterangan melalui sambungan telefon, Minggu 25 Januari 2026.
Tari menekankan bahwa kekerasan seksual barulah babak akhir. Fondasi utamanya adalah isolasi. Predator akan perlahan menjauhkan korban dari teman sebaya lewat fitnah, atau menggambarkan keluarga sebagai pihak yang "tidak mengerti" hubungan mereka.
"Ketika kepercayaan sudah ada, pelaku mulai meminta ini dan itu. Korbannya cenderung menurut karena sudah bergantung, atau malah tidak bisa keluar karena merasa sudah terkunci," tutur Tari.
"Korban sering kali terjebak dalam dilema yang menyiksa. Mereka merasa didengar dan dimengerti oleh sang pelaku sesuatu yang mungkin absen dari lingkungan rumah mereka. Inilah yang membuat grooming sulit dikenali oleh orang tua: tidak ada paksaan fisik di awal, yang ada justru "romantisme" semu yang mematikan logika," pungkasnya.
Budaya Paternalistik dan Media Sosial Jadi Faktor Risiko
Sosiolog, Ida Ruwaida, menilai child grooming tidak bisa dilepaskan dari budaya paternalistik yang masih kuat di masyarakat Indonesia.
Anak-anak dibiasakan untuk patuh dan hormat kepada yang lebih tua, sehingga relasi kuasa kerap dimanfaatkan oleh pelaku.
"Secara sosiologis, masyarakat kita masih menganut budaya paternalistik, dengan stratifikasi usia yang menempatkan orang lebih tua sebagai pihak yang harus dihormati dan dipatuhi," jelas Ida saat dihubungi disway.id pada Selasa, 20 Januari 2026.
Dalam relasi tersebut, anak-anak dikondisikan untuk selalu patuh, bahkan melayani orang yang lebih tua. Posisi ini menciptakan ketimpangan kuasa yang kerap dimanfaatkan oleh pelaku child grooming.
"Yang lebih tua dianggap memiliki power dan kewenangan. Relasi kuasa ini diperkuat oleh norma sosial, nilai budaya, bahkan tafsir keagamaan," papar dia.
Ia menambahkan, sejak lama sudah ada kecenderungan anak perempuan menjalin hubungan dengan laki-laki yang usianya jauh lebih tua. Di era media sosial, praktik manipulasi cinta semakin mudah dilakukan secara daring.