Alhasil, anak akan kehilangan kepercayaan kepada orang tua, beralih kepada pelaku grooming. Oleh sebab itulah, dirinya menekankan, bahwa orang tua harus menjadi tempat aman pertama, bukan hakim pertama.
"Memberikan kepercayaan dan menguji anak adalah cara untuk anak paham, bahwa orang tuanya percaya pada dirinya. Dari sana dia akan lebih memilih bercerita ke orang tua daripada orang lain," jelas Reza.
"Jangan gunakan pola interogasi, tapi dengarkan dan jangan bereaksi berlebihan. Berikan anak ruang bercerita yang seluas-luasnya ke orang tua. Jangan buru-buru di koreksi perasaan anak, tapi berikan pemahaman melalui logika," tambahnya.
Selain itu dalam mengidentifikasi masalah sendiri, orangtua juga harus dapat bersikap tenang dan tidak langsung melakukan konfrontasi.
"Ajak anak bicara dengan peran melindungi, bukan menghakimi. Jika perlu, libatkan profesional atau pihak berwenang secara bijak. Yang paling berbahaya adalah reaksi emosional orang tua yang membuat anak merasa bersalah, padahal ia adalah korban," papar Reza.
Tidak hanya itu, Reza juga turut menekankan bahwa anak yang berada di rumah juga harus diperlakukan selayaknya manusia dewasa yang didengar dan dihargai, sehingga jauh lebih sulit dimanipulasi.
"Orang tua harus hadir, tidak selalu secara fisik, namun lebih penting secara emosional. Apresiasi proses bertumbuhnya pola pikir anak, bukan sibuk dengan hasilnya. Dan yang utama jangan gunakan rasa sayang sebagai alat kontrol," tutup Reza.
Reporter: Hasyim Ashari, Anisha Aprilia, Dimas Rafi, Bianca Khairunisa