AI hingga Satelit Orbit Rendah, Rizal Mallarangeng Bicara Masa Depan Telekomunikasi

Minggu 08-02-2026,15:44 WIB
Reporter : R
Editor : Fandi Permana

Karena itu, Telkom memilih untuk tidak menunggu. Rizal menyebut perusahaan sudah menjalin kerja sama sejak tahap awal dengan berbagai pihak, termasuk penyedia layanan satelit global seperti Starlink.

“Kita harus ikut dari awal, ikut memantau, ikut belajar. Jangan nunggu semuanya jadi baru masuk,” katanya.

Dalam konteks teknologi yang lebih dekat dengan masyarakat, Rizal menyoroti pentingnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia menilai AI sebagai general purpose technology, teknologi serbaguna yang dampaknya bisa menyentuh hampir seluruh sektor kehidupan.

“AI itu seperti mesin uap atau listrik dulu. Bisa dipakai untuk produksi, pendidikan, komunikasi, konsumsi. Karena itu harus dikenalkan sejak dini,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa penguasaan teknologi AI seharusnya sudah dimulai sejak bangku sekolah dasar, dan menjadi keharusan bagi pelajar SMP, SMA hingga mahasiswa. Jika tidak, risiko ketertinggalan akan semakin besar.

“Kalau enggak, kasihan. Mereka akan ketinggalan,” ucapnya lugas.

Meski demikian, Rizal mengingatkan bahwa pemanfaatan AI tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan infrastruktur digital. Menurutnya, penetrasi jaringan harus diselesaikan lebih dulu sebelum berbicara jauh soal adopsi teknologi canggih. “Kalau akses digitalnya belum ada, mau pakai AI bagaimana? Mau belajar, mau buka aplikasi, sinyalnya enggak ada,” katanya.

Terkait jaringan, Rizal menilai teknologi 4G sejatinya sudah cukup untuk mendukung pemanfaatan AI dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa 5G bukan satu-satunya jawaban, karena teknologi tersebut lebih relevan untuk kebutuhan tertentu seperti robotik dan industri berskala besar. “Untuk AI, 4G itu cukup. Pakai ChatGPT, bikin video, bikin lagu, semua bisa dengan 4G,” ujarnya.

Soal Bali, Rizal mengakui belum memegang data detail terkait kualitas jaringan di seluruh wilayah. Namun ia meyakini, sebagai kawasan perkotaan dan destinasi utama, penetrasi 4G di Bali relatif sudah baik, meski masih ada titik-titik yang perlu diperbaiki.

Dalam dunia usaha, Rizal menegaskan pemanfaatan AI dan teknologi digital bukan semata-mata soal efisiensi biaya, melainkan strategi agar perusahaan bergerak lebih lincah dan adaptif. “Tujuannya bukan efisiensi. Itu konsekuensi. Yang utama itu supaya kita lebih gesit,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa transformasi digital harus dilakukan secara hati-hati dan manusiawi, terutama terkait dampaknya terhadap tenaga kerja. “Kita harus murah hati kepada karyawan. Metodenya harus manusiawi, bersahabat. Jangan sampai orang yang terdampak justru kecil hati,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Rizal menekankan bahwa internet kini telah berubah menjadi infrastruktur kehidupan masyarakat. Karena itu, pemadaman total jaringan dinilai sangat berisiko.

“Internet itu bukan cuma untuk komunikasi, tapi untuk hidup. Orang cari makan, jualan, semuanya bergantung di situ,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa gangguan jaringan dalam waktu lama dapat berdampak langsung pada ekonomi masyarakat. “Kalau blackout seminggu, mereka makan apa?” pungkasnya.

Kategori :