FDI Purbaya

FDI Purbaya

Ilustrasi Menkeu Purbaya soal pertumbuhan ekonomi dan iklim investasi Indonesia.--

Konkret saja. Saya mencoba inventarisasikan apa saja yang jadi omon-omon negatif di dunia usaha. Yakni omon-omon yang lalu berkembang menjadi rumor. Negatif: seolah iklim bisnis kurang bersahabat.

Lalu muncul pertanyaan: dengan iklim bisnis seperti itu bagaimana bisa mengundang investasi. Apalagi modal asing. Padahal tanpa investor sulit mencapai pertumbuhan delapan persen. Pun enam persen.

Pertama, isu perampasan 2,5 juta hektare lahan sawit swasta. Seolah tidak ada kepastian hukum. Bagaimana pengusaha yang sudah dapat izin lengkap, sudah investasi puluhan miliar rupiah, tiba-tiba lahan kebunnya disita negara.

Rumornya besar sekali: 2,5 juta hektare sawit yang disita. Alangkah masifnya. Betapa dramatisnya. Lalu muncul rumor: akan diapakan kebun sawit seluas itu. Mampukah pemerintah mengelolanya dengan baik. Bukankah mutu kebunnya BUMN sendiri kalah oleh swasta. Tidakkah itu nanti membuat produktivitas sawit kita merosot.

Pokoknya: negatif sekali. Sampai ke soal siapa yang akan melakukan pemeliharaan kebun itu. Bagaimana pemupukannya. Apakah pupuknya tidak dikorupsi sehingga jatah untuk pohon sawitnya berkurang.

Padahal, ternyata, jumlah riil kebun sawit yang disita tidak 2,5 juta hektare. Info yang saya dapat ''hanya'' sekitar 300.000 hektare. Selebihnya adalah tanah kosong yang telantar. Tiwas rumor negatifnya luar biasa.

Kedua, pabrik-pabrik penggilingan padi swasta dirazia polisi. Sampai ke desa-desa. Tuduhan pada mereka banyak sekali. Mulai memainkan harga gabah sampai melakukan oplos beras.

Dengan tindakan keras itu harga beras/gabah dipaksa rendah. Tujuannya: untuk mengendalikan inflasi. Konsumen beras tentu puas. Tidak perlu memikirkan kenaikan pendapatan petani.

Rumor negatifnya: mekanisme ekonomi pasar dilawan dengan razia oleh polisi. Pebisnis beras serentak tiarap. Iklim bisnis gabah begitu buruknya di mata mereka.

Dunia bisnis tentu mengeluhkan mengapa cara-cara bisnis bisa dianggap perbuatan kriminal. Narasi ''beras oplosan'' dibuat begitu negatifnya. Padahal itu praktik yang normal di dunia bisnis –untuk membuat mutu dan harga tertentu.

Ketiga, penertiban tambang batubara. Sebenarnya program ini sangat mulia. Toh hanya tambang ilegal yang ditertibkan. Tapi rumor yang berkembang menjadi seolah bisnis tambang lagi dimusuhi.

Keempat, molornya persetujuan atas rencana tahunan tambang apa saja. Sampai awal Januari rencana kerja tambang swasta tahun 2026 belum ada yang disetujui. Padahal seharusnya November sudah harus jelas.

Kegiatan tambang pun sempat terhenti. Para pengusaha di bidang pertambangan tidak berani bekerja kalau rencana tahunan itu belum disetujui.

Soal ini berkembang menjadi rumor yang sangat negatif. Terutama di kalangan pelaku bisnis nikel dan batubara. Kasak-kusuk berkembang: mengapa terjadi keterlambatan begitu parah. Kurang sogokan? Takut kriminalisasi? Bagaimana bisnis bisa jalan kalau birokrasinya begitu menghambat?

Ada juga rumor begini: itu karena yang mengeluarkan izin berada dalam ketakutan yang akut. Takut salah. Takut ditangkap APH. Itulah yang sudah dialami oleh Dirjen Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba) Ridwan Djamaluddin. Kini ia sedang diadili atau sudah masuk penjara.

Akhirnya beres. Sebagian. Sudah ada rencana penambangan yang disetujui –meski sangat telat waktunya. Sebagian lagi tetap belum ada persetujuan.

Yang sudah disetujui itu pun angkanya tidak sama dengan yang diminta. Biasanya angka persetujuan yang baru sama dengan tahu sebelumnya. Bahkan meningkat.

Tapi kali ini banyak yang hanya disetujui sebagiannya. Berarti produksi harus diturunkan.

Sebenarnya ''tidak disetujui'' atau ''disetujui sebagian'' itu ada maksud baiknya. Sangat baik. Tapi karena prosesnya lambat akhirnya jadi rumor negatif.

Maksud baiknya adalah: jangan sampai batubara dikuras dengan kekuatan penuh seperti selama ini. Apalagi itu terbukti hanya menguntungkan segelintir oligarki.

Maka kebijakan pemerintah yang baru ini justru sangat mulia: agar sumber daya alam kita tidak dikuras semau-mau pengusaha.

Dua tahun terakhir Disway mencatat drama pengurasan sumber alam ini. Seorang pengusaha tambang batubara tiba-tiba bisa untung Rp 2 triliun sebulan. Lalu mendadak jadi orang terkaya di Indonesia. Ingat: Rp 2 triliun laba sebulan. Sebulan.

Maka penataan ulang ini harus didukung. Pemerintah bisa menyeimbangkan pasar. Jangan sampai pasokan jauh lebih besar dari permintaan. Harga bisa nyungsep. Penerimaan pajak negara bisa babak belur.

Tentu, yang penting, kebutuhan batubara dalam negeri harus tercukupi. Jangan sampai produksi direm tapi kebutuhan dalam negeri dikalahkan.

Sayang, kebijakan yang begitu baik hancur oleh lambatnya pelayanan dan buruknya komunikasi. Tujuan mulianya tidak tersampaikan ke publik. Justru iklim bisnis yang menjadi sangat negatif.

Masih banyak kasus negatif lainnya: Anda bisa menambahkan sendiri. Banyak yang seperti itu. Intinya: hukum bisnis seperti kalah dari hukum kekuasaan.

Salah satunya dicerminkan dalam kian banyaknya jabatan direktur, komisaris dan pimpinan lembaga yang diserahkan ke tokoh militer. Tentu itu tidak melanggar hukum, tapi mengganggu persepsi.

Faktanya, mungkin, sebenarnya mereka pun mampu dan bisa. Tidak kalah dari yang non militer. Tapi di zaman medsos ini fakta kalah dengan persepsi.

Persepsi pada umumnya: negatif.

Lalu meledaklah krisis saham di akhir Januari 2026. Kekuatan asing ternyata begitu perkasanya: mampu mengguncang pasar modal dalam sekejap.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ditanya dalam satu forum bahasa Inggris: soal FDIforeign direct investment. Apakah dalam persepsi seperti itu bisa diharap modal asing akan mau masuk ke Indonesia.

Saya sangat setuju dengan jawaban Purbaya: "kalau ekonomi Indonesia bisa tumbuh 6,7,8 persen, modal asing akan datang sendiri ke Indonesia". Modal asing akan selalu mencari lokasi di mana pun yang bisa mendapat keuntungan.

"Saya tidak mau ngemis-ngemis ke mereka di saat ekonomi kita not good," katanya.

Itu benar sekali. Buktinya, modal asing tetap membanjir ke Tiongkok. Termasuk modal dari negara kampiun demokrasi. Padahal, Tiongkok, yang mereka sebut sebagai otoriter, harusnya mereka benci. Tetapi karena ekonomi Tiongkok baik mereka pun mengabaikan kebencian itu.

Maka Purbaya bertekad menumbuhkan ekonomi dengan kekuatan sendiri dulu. Sampai tumbuh enam persen. Ia optimistis bisa. Asal swasta digerakkan.

Di zaman Jokowi, katanya, swasta tidak bisa bergerak. Akibatnya ekonomi berhenti tumbuh di lima persen. Padahal proyek dibangun di mana-mana. Besar-besaran.

Di zaman SBY, katanya, pemerintah tidak berbuat apa-apa. Ekonomi bisa tumbuh enam persen. Itu karena swasta bergerak.

Tesis Purbaya itu tentu banyak tantangan: bagaimana swasta bisa bergerak kalau persepsi dunia bisnis begitu negatif.

Sesuatu yang baik ternyata bisa jadi negatif oleh pelaksanaan yang kurang tepat. Termasuk soal waktu.

Purbaya terlambat datang di kabinet Prabowo. Seharusnya ekonomi tumbuh enam-tujuh persen dulu. Baru penertiban sawit, batubara, gabah dan lainnya dilakukan: alangkah tepat dan baik hasilnya.

Semua sudah terjadi. Maka kita tunggu tumbuh enam persen itu. Lalu kita tunggu FDI datang.

Lebih dari itu: kita tunggu apa yang akan terjadi.(Dahlan Iskan)


Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 9 Februari 2026: Guinness Patrick

Joko Wito

Bangun tidur kaget, jam sudah setengah 5 pagi.Tergesa gesa ke kamar mandi,buru waktu subuhan dan ngopi sambil baca disway.... Alamak.. Sampai jam 5 kurang seperempat disway belum muncul.

Ima Lawaru

Saya mengajar di sekolah negeri. Bangunan beton, atap seng, plafon dari tripleks dan ada juga dari pvc atau apalah itu. Beberapa plafon koridor kelas sudah terlepas. Atap bocor di beberapa titik. Kalau musim angin kencang dan hujan deras kami harus ekstra memantau siswa. Sekitar dua tahun lalu pemerintah sudah datang menilik dua kali sekolah kami, mengambil foto, dan beberapa data yang diperlukan. Saya pikir renovasi gedung sekolah kami, terutama anak-anak belajar begitu urgen. Karena ini berhubungan dengan keselamatan anak-anak dan guru. Tapi yah. Ini mau masuk tahun ke 3, belum ada kabar apa-apa. Saya pikir mungkin kabar renovasi itu tidak akan pernah datang. Dimana anggaran MBG telah dicubit dari anggaran renovasi ini. Sekarang Wakatobi, Tomia adalah musim hujan dan angin kencang. Guru seperti saya harus ekstra waspada pada keselamatan anak-anak di sekolah. Semoga, suara kami lewat media ini bisa didengar oleh pemangku kepentingan. Salam Biru Laut Wakatobi

Gusti Mboten Sare

Kilnik Patrick Winata ELV8 adalah klinik yang mempunyai spesialisasi dalam penanganan peningkatan performansi para atlet atau orang2 yang merasa diri sebagai atlet. Nama ELV8 kemungkinan besar merupakan singkatan Eleven.8 yang berasal dari nomer 8 yang diberi nilai 11 ????

Mujiburohman Abas

Seperti di lagu Koes Plus, godaan Jakarta sulit dilawan. Cita-cita yang dibawa dari kampung Fakfak untuk mau jadi pastor perlahan terlupakan sejak kaki menjejak tanah Betawi. Si calon pastor akhirnya jadi arsitek yang membangun klinik-klinik untuk dokter-dokter yang perlu tempat praktik, Tapi ada yang tidak berubah. Semangat mengabdi kepada Tuhan kini terwujud dalam bentuk rumah singgah untuk para pasien asal daerah yang kurang mampu.

Gregorius Indiarto

CHD "...Bahlil mencapainya lewat silat –persilatan politik". Silat - politik. Lidahnya mana? Met pagi, salam sehat, damai dan bahagia.

Bahtiar HS

Saya lagi di Jakarta. Shubuh jam 4.35an. Tapi bangun msh waktu Shubuh Surabaya. Alarm berdering keras jam 3.49. Krn Shubuh di Jakarta msh lama, saya buka HP. Refresh Disway hingga pukul 4. Kali ini gak mau kalah cepat sama Pak Ra tepak pol. Tapi jam 4 tulisan baru blm muncul. Refresh terus-menerus hingga Imsya menjelang 4.30 tetap zonk. Yah, gak kesampaian jadi Pertamax. Tp niatnya smg sudah dicatat malaikat. Malaikat Disway. Balik Shubuh dari masjid buka lagi Disway. Ternyata Mas Satria tomat memimpin mencetak hattrick Pertamax. Entah brp kali dia mencet tombol biru Send. Sementara Pak Ra tepak pol hrs puas urutan berikutnya. Amsiooong tenan... Saya do'akan semua sehat walafiat berkelimpahan.

Murid SD Internasional

MINDFULNESS Di keluarga kami, ada satu aturan tidak tertulis. Jika sedang bersantap makan, tidak boleh ada distraksi apa pun. Tidak boleh sambil pegang smartphone. Tidak boleh sambil membuka laptop. Tidak boleh sambil baca koran / buku / majalah. Tidak boleh sambil menonton televisi. Harus fokus ke prosesi bersantap makan, dengan posisi duduk, di meja makan, dan berbincang dengan orang yang ikut serta bersantap makan. "Tapi Ayah! Itu pasti notifikasi WhatsApp dari para buyers aku di Alibaba!" sergah saya dengan agak panik suatu ketika usai mendengar beberapa kali dentingan notifikasi WhatsApp di kejauhan -- di keluarga kami, sebelum bersantap makan seluruh smartphone harus disimpan di dalam toples kaca besar dan diletakkan di sebuah meja di ujung ruangan. "Bukankah semua smartphone harus di-silent setiap kali kita hendak bersantap makan?" tanya Ayah, dengan nada tenang. "Maaf, Ayah... Lupa..." "Nanti lagi harus di-silent. Update status WhatsApp kalau perlu: '25 menit. Busy. Sementara tidak bisa diganggu'. Seperti itu", jawab Ayah sembari kembali menyendok nasi di piring. "Tapi, Ayah... itu notifikasi..." "Sebastian. Kamu ingin dicoret dari Kartu Keluarga?" Dan saya pun langsung diam. Tunduk. Tidak berani membantah. Kembali menyelesaikan makan -- saking sakralnya prosesi tersebut, di keluarga kami; prosesi bersantap makan. Dan memang, setelah menjadi habit, dampaknya menakjubkan. Kalau Anda, bagaimana habit kebiasaan bersantap makan Anda selama ini? _

Liam Then

Topiknya tentang tinju, tapi kalimat tentang Pak Bahlil, Patrick yang keukeuh pada identitas sebagai orang Fak-Fak yang bikin pikiran kemana-mana. Saya membayangkan banyak orang di Indonesia, identifikasi utamanya yang pertama adalah sebagai orang apa? Kemudian yang di Singkawang , Pontianak, Banda Aceh, Surabaya, Makassar, Palangkaraya, atau semua lainnya. Saya mengira-ngira bagaimana mereka mengindentifikasi diri mereka sebagai orang mana, mana yang lebih berat kecintaan mereka? Tapi yang jelas saya tahu, ada satu identitas akhir tunggal yang mengikat kita dan mereka semua, sehingga akhirnya kita tiba pada identitas yang sama, yaitu orang Indonesia. Lantas saya sibuk pula berpikir, bagaimana para pejabat yang sering dipakaikan rompi gratis berwarna terang itu? Apakah identitas utama mereka dalam keyakinannya? Kecintaan mereka ada di mana? Apakah mereka tak suka Indonesia maju? Seperti yang belakangan masuk berita lagi, punya celengan berbentuk rumah , "safe house" katanya, kerja sama masukan barang impor tanpa hambatan, dengan imbalan bayaran besar. Otomatis pajak segala macam, hitungan jadi tak benar dan akurat. Mereka mengidentifikasi sebagai orang apa?

Ciga Sama

Sama2 putra Fakfak? Ah, itu terlalu sederhana untuk ukuran drama nasional. Coba tantang Pak Bahlil. Di awasi dua kamera yang posisinya berlawanan. Menyala 24 jam, tanpa jeda iklan, dan live streaming. Bukan seperti Patrick yang disawer penonton, kita justru ingin tahu: siapa2 saja yang disawer Pak Bahlil. Sebab di negeri ini, rekor ketangkasan persilatan politik adalah siapa menyalami siapa, siapa menyawer siapa, dan siapa tiba-tiba naik gelanggang tanpa pernah ikut kaderisasi.

Sugi

Ketahanan fisik Pak Patrick Winata yang sungguh luar biasa, segalanya dipikirkan, segalanya diperhitungkan, tidak ada yang terlewat, meski juga harus menghadapi realitas fisik tubuh manusia yang memang punya keterbatasan, meski jiwanya ingin terus bangkit berjuang,, semoga setiap dari kita juga bisa melakukan sesuatu pencapaian yang paling bermakna saat akan usia 40 tahun nanti, terutama kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan, tidak harus memecahkan rekor seperti Pak Patrick Winata,, tapi saya paling salut ide membuka donasi Pak Patrick Winata untuk rumah singgah anak2 kanker, ini bukan sekedar pencapaian diri semata, tapi pencapaian rasa kemanusiaan terbaik yang pernah dilakukan oleh beliau, bahkan kalau perlu mempertaruhkan nyawa sendiri,, agar khalayak ramai ikut tergerak, ikut berubah,,

Mukidi Teguh

Ada beberapa kecerdasan yang digaung-gaungkan para ilmuwan, antara lain kecerdesan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdesan spritual. Tapi Pak Bahlil punya kecerdasan lain yang jarang dimiliki orang lain, yaitu kecerdasan politisional.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

"Dimulainya tanggal 30 Oktober 2025, pukul 13.00. Diakhirinya 1 November 2025. Pada jam yang sama." Anda sudah tahu, bulan Oktober itu sampai tanggal 31. Jadi kalau pakai tanggal di atas, Patrick itu tinjunya 2x24 jam. Ah iya, itu cuma typo. Yang benar tinjunya dimulai tanggal 31 Oktober 2025. Tapi typo kan harusnya selisih 1 tombol di keyboard. Kalau angka 0 dan 1 itu jauh sekali jarak tombolnya. Jadi itu bukan typo tapi keliru tanggal. Hehe...

riansyah harun

Yang satu ahli "silat", yang satunya ahli "tinju". Ke dua duanya orang hebat yang mengharumkan nama Indonesia, apalagi nama daerah. Tapi yang ahli tinju itu, yang ada klinik kesehatannya, sungguh bikin saya terharu. Beliau mendonasikan saweran hasil bertinjunya selama 24 jam tersebut, untuk yayasan rumah singgah bagi penderita kanker anak yang datang dari desa. Saya jadi teringat beberapa "puluh tahun" yang lalu. Ada seorang tokoh yang pernah menjadi sesuatu di negeri ini, harus mengganti hati nya di First Centre Hospital, Tianjin, China. Biayanya.....????? Perusuh Disway pasti pernah membaca buku ganti hati tersebut. Baru mengontrak apartemen yang ada di seberang Rumah Sakit (sebagai rumah singgah beliau dan keluarga) itu saja, sudah hampir mencapai nilai sekian. Belum lagi biaya Rumah Sakit, dan yang lain lainnya. Sungguh bukan nilai yang kecil. Rasanya rumah singgah model Bang Patrick Winata itu, pasti amat sangat membantu sekali bagi anak anak dari daerah yang harus melakukan kemo. Apalagi setiap kali kemo tersebut, butuh jeda waktu 21 hari setiap kali kemo. Tergantung hasil laboratorium, kemo nya bisa 6 kali atau bisa saja lebih. Dan setiap kali pelaksanaan kemo..., butuh waktu 3 hari. Hari pertama masuk Rumah Sakit, hari kedua saat kemo berlangsung, dan hari ketiga keluar rumah sakit. Berbeda dengan cuci darah, yang bisa datang sendirian saja, dan hanya butuh waktu sekian jam. Uppsss...., namun jangan keras keras nyebut cuci darah. Saat ini lagi ramai !!!

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Kecepatan Bahlil bisa jadi ketua umum partai nggak ada apa-apanya dibanding Kaesang. Bahlil jadi anggota Golkar 3 tahun sudah bisa jadi Ketum. Itu memang sangat cepat. Tapi Kaesang jauh lebih cepat. Baru daftar jadi anggota partai, 2 hari kemudian jadi ketum. Harusnya Kaesang masuk Guinnes World Records. Saya jadi ingat cerita Abah bahwa di Tiongkok menjadi anggota partai politik itu susahnya minta ampun. Daftar belum tentu diterima. Setelah diterima masih harus ikut penataran dll. Karirnya pun harus dari level paling bawah. Satu-satunya pintu masuk ke "gedung tinggi" parpol itu ada di lantai paling bawah. Sedangkan di Indonesia, di setiap lantainya ada pintu masuknya. Kalau Anda punya helikopter, Anda bisa masuk langsung ke lantai berapapun, termasuk langsung menuju lantai tertinggi: lantai ketum.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Hari Minggu tanggal 1 Februari lalu, saya maesong ke seorang teman yang papanya baru meninggal. Papanya adalah pebisnis yang lumayan besar di Surabaya. Punya mal. Abah mungkin kenal. Saat saya di Adi Jasa itu, teman saya sedang menyambut tamu besar: Pak Sudomo, pemilik Kopi Kapal Api, temannya Abah. Walhasil saya cuma sempat ngobrol sebentar sama teman saya. Teman saya bilang bahwa Pak Domo banyak bantu dia dan papanya dalam menghadapi beberapa masalah bisnis mereka. Dan malam itu tampak serius sekali mereka berdiskusi. Sejak saya datang setelah maghrib, hingga saya pulang, Pak Domo masih di situ. Teman saya pun tampak serius mendengarkan Pak Domo. Sangking seriusnya, tampaknya saya dan istri tak mungkin menunggu Pak Domo pulang dan bisa ngobrol lama dengan teman saya. Akhirnya kami memutuskan pamit dulu.

Juve Zhang

Anda duduk manis di kantor upeti datang setiap bulan 7 milyar Rupiah....kerjaan yg sangat menggiurkan.... cukup Lima tahun bertugas habis itu mundur teratur secara terhormat....nama anda harum....upeti numpuk di pebble beach.....gak habis tujuh anak cucu cicit....itu baru dari satu perusahaan....banyak PT yg mampu bayar 7 milyar sebulan....antrian yg daftar tinggal di atur saja sama anak buah....berbagai pajak hilang semua karena kontainer gak di cek....didalamnya entah isi apa mungkin Ular Sanca mungkin Buaya darat atau buaya sungai gak perlu di cek lagi sudah bayar upeti 7 milyar sebulan.....heroin boleh....fentanil boleh.....ganja gak ekonomi rugi bandar harga jual murah barang gede....jadi kelas bubuk tepung putih yg bisa menutupi 7 milyar sebulan ....jelas negara rugi besar....gak ada pajak masuk....yg ada heroin masuk....gak ada pengecekan terhadap kontainer ...

Juve Zhang

Baru satu pelabuhan upeti 7 milyar sebulan ada banyak pelabuhan di Indonesia..... barang masuk ribuan kontainer sebulan... kalau di Tiongkok kontainer bisa di pindai pake mesin XRay raksasa cukup kontainer lewat lorong dan dicek dalam nya siapa tahu isi heroin....bisa mati bawa heroin ke Tiongkok.... pelabuhan Indonesia yakin belum ada atau satu saja yg punya mesin XRay raksasa.... sudah saatnya semua pelabuhan punya mesin XRay raksasa....tapi upeti 7 milyar sebulan lebih menarik daripada beli mesin X Ray.....kata pejabat BC.

dinar melayani

Tinju Politik Mengapa harus Tinju 24 jam? Mengapa tidak ada KO? Masih ada istirahat 30 menit untuk nutrisi. Ah sang Jargon Politik pun bisa merekayasa. Saya juga bisa Was Wes bablas angine, Moncer Kursine. Ah tapi sayang ilmu klenik ga dikenal di rekor dunia. Mungkin kalo ada pasti anda ingat iklan jin sebagai berikut. "Jin saya pingin uang banyak" , "Beres" jawab jin. Cling muncul deh dihadapan pria berdasi "Jin saya pingin rumah mewah". "Mudah" kata jin. Cling muncul di hadapan emak berkonde. Ada jin nganggur, datang pria perlente, "Jin saya pingin jabatan, dan hilangkan semua kasus" Jin pun menjawab "Wani Piro".....dan setidaknya "Wushhh..." Hilang semua berkas kasus yang ada. Ah itu kan Ironi....Bisa....Bisa...ae.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

DISMorning, 8 FEBRUARI 2026 DISMorning pagi ini dibuka dengan hangat. Sapaan ringan. Tawa kecil. Seperti biasa, obrolan mengalir tanpa jarak. Ada Pak Dahlan. Ada Sasa yang ceria. Ada Pak Suko dengan napas panjang dunia penyiaran. Pendengar ikut duduk di kursi yang sama, seolah satu meja kopi. Topiknya bola. Tapi bukan sekadar skor. Dari futsal yang bikin bangga, Persebaya yang bikin dada lega, sampai nonton bareng di terminal. Bola turun dari stadion ke ruang publik. Dari layar mahal ke layar rakyat. Yang bikin mata melek: TVRI pegang hak siar Piala Dunia 2026. Gratis. Bisa ditonton desa. Bisa digelar kampus. Syaratnya sederhana. Libatkan UMKM. Hidupkan ekonomi kecil. Bola jadi pesta, bukan beban. Istilah baru lahir: “bola gembira”. Presiden disebut paham psikologi massa. Tapi diskusi tidak berhenti di euforia. Masuk ke jantung masalah: pembinaan usia dini. SSB. Disiplin. Student athlete. Prestasi harus direbut, bukan dibagikan. Naturalisasi boleh, tapi jangan mematikan mimpi anak kampung. Penutupnya pelan tapi kena. Bola bukan cuma hiburan. Bola bisa jadi jalan karakter, gizi, disiplin, dan harapan. Dari lapangan kecil, mimpi besar bisa mulai ditendang. ### Bola gembira. Gembira main bola.. Serasa minum Sogem. Soda Gembira..

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

LOMBA MAKAN KERUPUK DI JAWA, LOMBA TINJU DI AMBON.. Di Jawa, tujuhbelasan itu riuh tapi jinak. Kerupuk digigit sambil tengadah. Kelereng gemetar di sendok. Benang susah masuk botol. Yang tegang cuma rahang dan napas. Yang jatuh paling harga diri. Saya kira di mana-mana sama. Ternyata tidak. Di Ambon, saya lihat perayaan beda kelas. Bukan tarik tambang. Bukan balap karung. Tapi tinju. Ring seadanya. Warga berkerumun. Sorak bukan main. Saya baru pertama lihat tinju langsung. Bukan di layar datar TV. Bukan dengan komentator berjas. Ini dekat. Terlalu dekat. Saat pukulan mendarat, suaranya nyata. “Buk!” Kena kepala. Bukan efek suara. Bukan drama sinetron. Refleks saya ikut meringis. Aneh juga. Sama-sama merayakan kemerdekaan. Satu pakai kerupuk. Satu pakai kepalan. Tapi esensinya mirip. Sama-sama uji nyali. Sama-sama bikin orang sekampung ketawa, tegang, lalu cerita berhari-hari. Dari situ saya paham. Cara bersuka ria memang beda-beda. Budaya membentuk gaya. Ada yang pilih benang dan botol. Ada yang pilih sarung tangan dan pelipis. Indonesia itu satu. Tapi cara ketawa tiap daerah punya bunyi sendiri. Dan saya baru dengar versi “buk”-nya.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

LAHIR DI FAKFAK, MENINJU DUNIA.. Itu kalimat pembuka yang rasanya sah. Patrick ini bukan cuma otot, tapi juga niat. Dari kecil sudah akrab dengan kerasnya hidup, lalu memilih kerasnya latihan. Bedanya tipis, tapi hasilnya beda jauh. Yang satu bikin orang tumbang, yang satu bikin orang tumbuh. Rekor 24 jam mukul itu bukan sekadar pamer stamina. Itu cara elegan bilang bahwa tenaga bisa dipakai bukan cuma buat menang, tapi buat menolong. Tinju biasanya identik dengan adu kuat. Di tangan Patrick, tinju jadi bahasa empati. Pukulan demi pukulan berubah jadi harapan buat anak-anak yang lagi bertarung dengan sakitnya sendiri. Yang lebih menarik, setelah berhenti jadi petarung, dia tidak berhenti berjuang. Pindah arena. Dari ring ke ruang latihan. Dari cari medali ke bikin orang lain berprestasi. Lalu naik kelas lagi. Bukan buka kafe. Bukan jualan protein shake doang. Tapi bikin klinik sport performance. Tempat atlet dibongkar pasang ulang. Diperbaiki mesinnya. Dikuatkan rangkanya. Disetel ulang tenaganya pakai ilmu, bukan cuma feeling. Banyak mantan atlet hidup dari cerita lama. Patrick bikin masa depan orang lain. Kadang pahlawan itu tidak pakai jubah. Cukup handwrap, ilmu, dan niat baik.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 62

  • Muh Nursalim
    Muh Nursalim
  • Wilwa
    Wilwa
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
  • Tiga Pelita Berlian
    Tiga Pelita Berlian
    • Iqbal Safirul Barqi
      Iqbal Safirul Barqi
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • siti asiyah
    siti asiyah
  • Lagarenze 1301
    Lagarenze 1301
  • Gerring Obama
    Gerring Obama
  • Herry Isnurdono
    Herry Isnurdono
    • Pembaca Disway
      Pembaca Disway
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Sogia Manom
    Sogia Manom
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • alasroban
    alasroban
  • Sugi
    Sugi
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • Pryadi
    Pryadi
    • Pryadi
      Pryadi
    • Mukidi Teguh
      Mukidi Teguh
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Manado tua
      Manado tua
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Milyarder Setia
    Milyarder Setia
  • DeniK
    DeniK
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • DeniK
    DeniK
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • my Ando
    my Ando
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Joko Wito
    Joko Wito
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Ima Lawaru
    Ima Lawaru
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Pembaca Disway
    Pembaca Disway
  • Alamsta Suarjuniarta
    Alamsta Suarjuniarta
  • Alamsta Suarjuniarta
    Alamsta Suarjuniarta
  • Alamsta Suarjuniarta
    Alamsta Suarjuniarta
  • Mukidi Teguh
    Mukidi Teguh
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Mukidi Teguh
    Mukidi Teguh
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Lègég Sunda
    Lègég Sunda
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Lègég Sunda
      Lègég Sunda