“Pada titik itu, masalahnya bukan lagi Yahukimo, tetapi ketahanan nasional dan kredibilitas Indonesia di mata dunia,” kata Efatha.
Karena itu, ia menilai pendekatan keamanan konvensional tidak lagi memadai. Negara perlu menggeser strategi dari respons reaktif ke perlindungan strategis.
“Perlindungan guru dan sekolah harus diperlakukan setara dengan perlindungan objek vital nasional. Dalam bahasa politik, jika pendidikan runtuh akibat teror, negara sedang dilemahkan tanpa perang terbuka,” tegasnya.
Pemerintah menyatakan komitmen untuk menindak pelaku kekerasan dan meningkatkan perlindungan warga sipil. Akan tetapi, tragedi Yahukimo kembali menegaskan bahwa ukuran kekuatan negara di era modern bukan hanya senjata dan pasukan, melainkan kemampuannya menjaga guru, sekolah, dan masa depan generasinya.