Makan Tempe Pun Nyicil, Ketika Sembako dan Pulsa Jadi Tawanan Paylater
Penggunaan paylater secara tidak tepat dapat mendorong perilaku konsumtif dalam kehidupan sehari-hari--freepik.com
SEMUA sudah tahu. Dulu orang malu kalau berutang. Apalagi kalau utangnya cuma buat beli beras. Atau minyak goreng. Rasanya jatuh martabat. Gengsi setinggi langit harus runtuh di depan meja kasir warung kelontong.
Tapi itu dulu. Sebelum layar ponsel menjadi lebih berkuasa daripada isi dompet.
Zaman sekarang, berutang itu sudah mengalami "dehumanisasi". Tidak perlu tatap muka. Tidak perlu bicara. Cukup klik. Klik. Dan klik. Barang datang, perut kenyang, bayarnya bulan depan. Namanya keren, Paylater. Beli sekarang, peningnya nanti.
BACA JUGA:Siasat Gerilya Sales QRIS dan Candu Paylater
Dulu, paylater itu kasta tinggi. Hanya dipakai untuk beli iPhone terbaru. Atau tiket pesawat ke Bali. Tapi lihatlah sekarang. Sistem ini sudah turun kasta atau mungkin naik tahta dalam urusan konsumsi. Paylater sudah masuk ke dapur. Sudah merambah ke urusan paket data. Bahkan, Anda mungkin tidak menyangka, makan tempe dan beli cabai pun sekarang bisa dicicil.
Luar biasa. Tapi juga mengerikan.
Ada hal yang anda akan terhenyak membaca data terbaru. Benar-benar terhenyak. Ternyata, slogan "Beli Saja Dulu, Bayar Kemudian" sudah bergeser arah. Tidak lagi soal gaya hidup mewah, tapi soal bagaimana menyambung hidup sehari-hari.
Anggie Ariningsih, Director SPayLater Indonesia, mengungkapkan fakta yang bikin dahi mengernyit. Berdasarkan data internal mereka, konsumsi mikro sekarang menjadi pendorong utama. "Sekitar 35 persen dari total transaksi e-commerce pada 2025 sudah menggunakan skema paylater," ujar Anggie.
Dan yang paling mengejutkan bahwa transaksi itu bukan didominasi barang mahal. Justru kebutuhan rutin sehari-hari. Sembako. Pulsa. Paket data. Bayangkan, pulsa yang habis dalam beberapa hari, dicicil pembayarannya selama 30 hari atau bahkan lebih.
Nilai transaksinya? Tidak main-main. Hingga akhir 2025, angka nasional diperkirakan menembus Rp 36,5 triliun. Itu bukan angka kecil. Itu angka yang mencerminkan betapa masyarakat kita sedang "napasnya" sangat bergantung pada fleksibilitas pembayaran jangka pendek.
Sepertinya, arus kas pribadi masyarakat sedang tidak baik-baik saja. Sampai-sampai, untuk menjaga agar dapur tetap ngebul, orang harus mengandalkan limit di aplikasi hijau atau oranye.
Generasi Z, Dewasa Sebelum Waktunya (Dalam Berutang)
Siapa pelakunya? Siapa yang paling gemar memakai skema ini?
Tentu saja kelompok usia Gen Z dan milenial. Total pengguna aktif nasional sudah mencapai 30,3 juta orang. Angka ini setara dengan populasi satu negara kecil di Eropa. Bedanya, ini adalah populasi orang yang "hobi" menunda pembayaran.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: