Makan Tempe Pun Nyicil, Ketika Sembako dan Pulsa Jadi Tawanan Paylater
Penggunaan paylater secara tidak tepat dapat mendorong perilaku konsumtif dalam kehidupan sehari-hari--freepik.com
Yang perlu kita waspadai adalah normalisasi utang konsumtif. Kalau makan sehari-hari pun sudah harus dicicil, maka ada yang salah dengan struktur ekonomi rumah tangga kita. Atau, ada yang salah dengan gaya hidup kita yang tidak sanggup menahan godaan masifnya penawaran di layar ponsel.
Kita harus ingat bahwa paylater adalah alat bantu. Bukan oksigen. Alat bantu itu gunanya untuk membantu saat keadaan darurat atau strategis. Tapi kalau alat bantu itu dipakai untuk bernapas setiap hari, maka paru-paru finansial kita sebenarnya sudah rusak.
Ke depan, tantangannya adalah literasi. Bagaimana memberitahu anak-anak usia di bawah 19 tahun itu bahwa apa yang mereka klik hari ini akan menentukan apakah mereka bisa punya rumah 10 tahun lagi. Bagaimana memberitahu masyarakat bahwa integrasi SLIK OJK adalah "catatan amal finansial" yang tidak bisa dihapus begitu saja.
Zaman memang sudah digital. Tapi hukum ekonomi tetaplah manual: apa yang Anda pinjam, harus Anda bayar. Beserta bunganya.
Selamat datang di era "Cicilan Sembako". Era di mana tempe di piring Anda mungkin baru akan lunas bulan depan. (*)
Reporter: Dimas Rafi, Bianca Chairunnisa, Anisha Aprilia, Hasyim Ashari
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: