Makan Tempe Pun Nyicil, Ketika Sembako dan Pulsa Jadi Tawanan Paylater
Penggunaan paylater secara tidak tepat dapat mendorong perilaku konsumtif dalam kehidupan sehari-hari--freepik.com
OJK mencatat angka yang fantastis dari sektor perbankan. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut baki debet kredit BNPL perbankan per Desember 2025 tumbuh 19,32 persen menjadi Rp 26,4 triliun. Jumlah rekeningnya? 31,21 juta!
Bank-bank besar kini punya fitur paylater sendiri. Mereka menawarkan kemudahan yang nyaris sama dengan aplikasi digital. Porsinya memang masih kecil dibanding total kredit perbankan, hanya 0,32 persen. Tapi pertumbuhannya gila-gilaan.
Mengapa bank tertarik? Karena bunga BNPL jauh lebih manis dibanding kredit korporasi. Dan risiko NPL (Non-Performing Loan) atau kredit macetnya relatif terjaga di angka 2,04 persen. Masih di bawah batas aman 5 persen.
Ini menandakan perbankan sudah mulai mampu mengatasi tantangan penyaluran kredit di sektor riil. Mereka melihat bahwa masa depan perbankan bukan lagi menunggu nasabah datang ke kantor cabang, tapi masuk ke dalam dompet digital nasabah.
Ekspansi Cepat, Pengawasan Ketat
Sementara di sisi perusahaan pembiayaan (multifinance), pertumbuhannya jauh lebih ekstrem lagi. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, menyebut penyaluran BNPL mereka tumbuh 75,05 persen secara tahunan hingga mencapai Rp 11,94 triliun per Desember 2025.
Pertumbuhan 75 persen itu bukan sekadar angka. Itu adalah ledakan.
OJK kini harus bekerja ekstra keras. Agusman menegaskan bahwa pihaknya terus memperkuat pengawasan. Terutama pada aspek tata kelola dan manajemen risiko. Jangan sampai ekspansi yang cepat ini melupakan prinsip kehati-hati-an.
"Kami memastikan penerapan prinsip kehati-hatian di tengah ekspansi pembiayaan yang cepat," tegas Agusman.
OJK tidak ingin BNPL menjadi "bom waktu" bagi ekonomi nasional. Karena ketika 30 juta orang gagal bayar secara bersamaan, efek domino-nya akan merembet ke mana-mana. Ke bank, ke perusahaan pembiayaan, hingga ke stabilitas ekonomi makro kita.
Analisis Ingatkan Pergeseran Sosiologis
Melihat fenomena di atas, saya melihat ada pergeseran sosiologis yang mendalam. Kita sedang bergerak menuju masyarakat yang "meminjam" masa depannya untuk kebutuhan hari ini.
Dulu, utang adalah tanda ketidakmampuan. Sekarang, utang adalah tanda kelancaran arus kas. Kita dipaksa untuk selalu bisa bertransaksi, meskipun tidak ada uang tunai di tangan.
Digitalisasi telah membuat proses berutang menjadi terlalu mudah. Terlalu hambar. Tanpa emosi. Anda tidak perlu merasa bersalah saat mengeklik tombol "cicilan 3 bulan". Rasa bersalah itu baru muncul saat notifikasi tagihan berbunyi nyaring di tanggal jatuh tempo.

PayLater menawarkan promo spesial bagi pelanggan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: