Puasa akan kehilangan makna jika hanya menjadi rutinitas biologis tanpa kesadaran spiritual, atau sekadar festival tanpa kedalaman etis.
Sebaliknya, puasa akan tetap hidup jika mampu terus menjadi ruang refleksi, solidaritas, dan transformasi diri.
Menyelami puasa berarti memasuki ruang di mana tubuh ditahan, tetapi jiwa dibebaskan; di mana lapar menjadi bahasa empati; di mana waktu menjadi saksi perjalanan batin.
Puasa bukan sekadar menahan diri dari yang halal, tetapi melatih diri untuk menjauhi yang merusak—baik dalam pikiran, perkataan, maupun tindakan.
Pada akhirnya, puasa mengajarkan satu hal mendasar: manusia tidak hidup sendiri. Ia selalu berada dalam jejaring makna—dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan tradisi yang diwariskan.
Puasa menjadi jembatan yang menghubungkan semua itu dalam satu pengalaman yang utuh: pengalaman menjadi manusia yang lebih sadar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Yang Maha Menghidupkan.
by: Prof Jamhari Makruf, Ph.D. - Rektor Univeristas Islam Internasional Indonesia (UIII)