Menyelami Kedalaman Makna Puasa

Jumat 27-02-2026,13:55 WIB
Oleh: Prof Jamhari Makruf, Ph.D.

JAKARTA, DISWAY.ID - Selamat menunaikan ibadah puasa. Awal Ramadan 2026 kembali diwarnai perdebatan mengenai metode hisab dan rukyat, serta penggunaan matla’ lokal atau global.

Perbedaan ini merupakan hasil ijtihad yang telah lama hidup dalam tradisi keilmuan Islam. Hal yang lebih esensial adalah bagaimana setiap Muslim menjalankan puasa sesuai keyakinannya dengan penuh kesadaran spiritual.

Puasa tidak dapat direduksi sekadar sebagai praktik menahan makan dan minum sepanjang hari.

Ia melampaui batas ritual formal dan memasuki ranah sosial serta kultural. Survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2001–2006) menunjukkan bahwa 92–95 persen responden mengaku berpuasa selama Ramadan, angka yang melampaui pelaksanaan shalat yang berada pada kisaran 70–75 persen.

Temuan ini memperlihatkan bahwa puasa telah menjadi praktik kolektif yang mengakar dalam kehidupan masyarakat, tidak hanya sebagai kewajiban teologis, tetapi juga sebagai partisipasi dalam budaya bersama.

BACA JUGA:Puasa Bukan Alasan Rambut Lepek, Coba Ellips Hair Mist Mist Me Up Wangi Tahan Lama Seharian

BACA JUGA:Menag Nasaruddin Umar Terima Gereja Ortodoks Indonesia, Bahas Liturgi Abad Pertama dan Puasa 40 Hari

Di Jawa, puasa memiliki dimensi kultural yang kuat. Pada masa lalu, Ramadan diawali dengan rangkaian ritual seperti nyadran—ziarah makam leluhur—dan besik, membersihkan makam keluarga sebagai simbol menjaga martabat dan kesinambungan tradisi.

Padusan, yaitu mandi di sungai atau sumber air, dilakukan sebagai bentuk penyucian diri secara lahir. Ritual-ritual ini menegaskan bahwa memasuki Ramadan bukan sekadar perpindahan waktu, melainkan transisi eksistensial: dari keadaan biasa menuju keadaan spiritual yang lebih tinggi.

Selama Ramadan, kehidupan kolektif masyarakat desa terasa hidup. Peringatan Nuzulul Qur’an pada malam ke-17 dirayakan dengan slametan di musholla. Memasuki malam ke-21 (selikuran), masyarakat membawa sedekah berupa nasi gurih dan lauk-pauk, serta menyalakan lampu dan obor di sekitar rumah dan jalan kampung.

Cahaya-cahaya itu tidak hanya berfungsi sebagai penerang fisik, tetapi juga simbol pencarian cahaya batin, terutama dalam menanti Lailatul Qadar.

BACA JUGA:Tetap Bugar Selama Puasa, Ini Waktu Ideal dan Tips Olahraga yang Aman

BACA JUGA:Sosok Mahasiswa UIN Suska Riau Pembacok Mahasiswi, dari Cinta Berujung Tersangka

Puncak dari seluruh rangkaian ini adalah Idul Fitri. Setelah salat Subuh, masyarakat berkumpul di masjid membawa hidangan untuk selamatan bersama, kemudian melaksanakan salat Id berjamaah.

Tradisi saling mengunjungi dan meminta maaf—terutama dari yang muda kepada yang lebih tua—menjadi praktik sosial yang memperkuat kohesi.

Kategori :