Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mencatat, rata-rata limbah kain yang ditimbulkan dari seluruh wilayah Jakarta per harinya mencapai 68,4 ton.
Humas DLH DKI Jakarta, Yogi Ikhwan menerangkan pada tahun 2025, komposisi limbah kain di Jakarta diperkirakan tetap berada pada kisaran 0,9 persen dari total timbulan sampah harian yang seberat 7.600 ton.
Dengan rata-rata produksi sampah mencapai sekitar 7.600 ton per hari, maka potensi limbah kain yang dihasilkan mencapai kurang lebih 68,4 ton per hari.
BACA JUGA:Jelang Lebaran 2026, Momentum Obral 'Limbah' Thrifting: Untung atau Rugi?
"Jika diakumulasikan dalam satu tahun, jumlah tersebut setara dengan sekitar 24.966 ton atau mendekati 25 ribu ton limbah kain per tahun," kata Humas DLH DKI Jakarta, Yogi Ikhwan saat dikonfirmasi Disway.id.
Yogi menuturkan, setiap harinya sampah yang dihasil Jakarta dipilah terlebih dahulu untuk memsisahkan sampah organik dan non-organik sebelum dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Jika telah dipilah, limbah kain tidak seluruhnya diproses seperti sampah campuran. Pengelolaannya diarahkan pada pemanfaatan kembali atau daur ulang sesuai dengan karakteristiknya.
Limbah kain yang masih memiliki nilai guna dapat dimanfaatkan kembali melalui penggunaan ulang dan upcycling (pemanfaatan bahan bekas).
Sementara untuk limbah kain yang sudah tidak layak pakai dan sulit didaur ulang, pengelolaannya diarahkan untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif melalui fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Plant di Rorotan, Jakarta Utara.
Limbah kain yang sulit didaur ulang, biasanya pakaian berbahan campuran atau sintetis. Adapun limbah kain yang belum dapat dimanfaatkan atau belum memiliki skema pengolahan khusus di luar mekanisme tersebut, selanjutnya akan menjadi residu (ampas).
BACA JUGA:PHK Tembus 88.519 Kasus, 7,28 Juta Orang Pengangguran: DPR Targetkan UU Ketenagakerjaan Baru 2026
"Akan ditangani sesuai sistem pengelolaan sampah yang berlaku," pungkas Yogi.
Pengamat: Arus Belanja Thrifting Bergeser
Menurut pengamat, permintaan barang thrifting tetap tinggi karena terjadi pola belanja yang bergeser.-Cahyono/Disway.id-
Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 hijriah, sejumlah lapak thrifting mulai sepi peminat. Misalnya seperti di emperan Jalan Pasar Senen, Jakarta Pusat.
Tren penjualan baju thrifting menjelang lebaran tahun 2026 ini dinilai tidak seramai periode yang sama pada tahun lalu.