Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti minat masyarakat terhadap pakaian bekas impor mengalami penurunan drastis.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai perubahan suasana di lapak-lapak thrifting lebih dipengaruhi pola belanja masyarakat dibanding turunnya permintaan secara langsung.
Menurut Syafruddin, menjelang Lebaran permintaan pakaian thrifting sebenarnya hampir selalu meningkat karena masyarakat mengejar pakaian rapi dengan harga yang terjangkau. Seperti: kemeja, gamis/tunis, outer dan celana bahan.
"Kesan 'tahun ini tidak seramai tahun lalu' bisa terjadi tanpa berarti permintaan runtuh: arus belanja bergeser ke kanal online dan live selling," ujarnya kepada Disway.id, Senin, 1 Maret 2026.
BACA JUGA:Gelombang PHK Picu Trauma Turun Kelas dan Krisis Identitas, Psikolog Beberkan Dampak Micro-Burnout
Dia menjelaskan, pedagang kini juga cenderung melakukan kurasi barang lebih ketat sehingga tampilan lapak terlihat lebih sepi, meskipun transaksi tetap berlangsung. Selain itu, pasokan barang berkualitas juga semakin terbatas.
Pengetatan terhadap impor ilegal pakaian bekas atau ballpress disebut menjadi faktor lain yang memengaruhi dinamika pasar.
"Pemerintah menegaskan penertiban impor ilegal tetap berjalan sampai periode Lebaran 2026, jadi pelaku pasar menghadapi suplai yang lebih berhati-hati dan biaya perolehan barang yang cenderung naik," ungkapnya.
Kondisi tersebut, berdampak langsung terhadap ekonomi pedagang thrifting. Syafruddin menyebut, setidaknya ada tiga tekanan utama yang kinu dirasakan pelaku usaha.
Pertama, margin menyempit karena biaya pasokan naik. Kedua, perputaran stok melambat karena pembeli makin sensitif harga dan makin selektif kondisi barang.
"(Ketiga) dan risiko usaha naik karena ketergantungan pada sumber barang yang rentan penindakan," lanjutnya.
BACA JUGA:PHK Menggila 2025, Kelas Menengah Terpaksa Jadi Ojol dan freelance: Pengangguran Tembus 7,3 Juta
Sebagai solusi, ia menyarankan: pedagang mulai mengurangi ketergantungan pada "barang rebutan" menjelang puncak musim dan menguatkan nilai jual produk.
"Amankan stok lebih awal, perbaiki kualitas lewat laundry–steam–repair ringan, berikan ukuran cm dan foto detail untuk menurunkan retur," sarannya.
"Lalu buat segmentasi harga yang jelas antara 'Lebaran-ready' dan 'butuh perbaikan' agar setiap item tetap menemukan pembeli," tambah Syafruddin.
Selain itu, masih kata Syafruddin, pedagang juga perlu menggeser model bisnis ke fesyen sirkular domesti, konsinyasi, preloved lokal, dan kurasi berbasis kualitas.