JAKARTA, DISWAY.ID - Dalam upayanya untuk mengantisipasi dampak dari meluasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS), Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa pihaknya akan terus hadir dalam melakukan pengawasan kepada pasar keuangan Indonesia.
Dalam hal ini, Deputy Gubernur Senior Destry Damayanti menyatakan bahwa nantinya, BI akan melakukan intervensi yang tegas dan konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
"Kami akan melakukan intervensi tegas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder," jelas Destry pada awak media dalam sesi daring, pada Rabu (04/03).
BACA JUGA:Jenderal Bintang Dua Israel Ancam Indonesia Tak Urus Perang, Connie Bakrie: Intelejen Mereka Kuat
BACA JUGA:58 Ribu Jemaah Umrah Tertahan di Arab Saudi Imbas Perang Israel-AS vs Iran, Penerbangan Ditutup
Sementara itu, Destry juga menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah sendiri masih berada dalam kondisi yang terkendali.
"Pelemahan rupiah masih aligned dengan regional, secara MTD melemah 0,51 persen, relatif lebih baik dibandingkan regional. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD 154,6 milyar akhir Januari 2026 dan arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp 25,7 triliun," tutur Destry.
Di sisi lain, sehubungan dengan volatilitas pasar di awal Maret 2026 yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menyatakan bahwa mereka akan terus memantau pergerakan pasar serta berkoordinasi dengan SRO dalam mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan.
Menurut Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari mengungkapkan bahwa OJK beserta dengan lembaga atau organisasi terkait berencana untuk memperkuat manajemen risiko, serta melakukan uji stres (stress test) dengan berbagai skenario. Selain itu, nantinya OJK juga akan melakukan reformasi struktural untuk memperkuat pasar modal Indonesia.
BACA JUGA:Begini Peta Kekuatan Perang Udara Iran, AS, dan Israel di Tengah Eskalasi Konflik
BACA JUGA:Pramono Khawatir Perang Israel-AS Vs Iran Picu Kenaikan Harga Barang dan Jasa
"Kita akan terus melanjutkan program reformasi untuk peningkatan integritas dan likuiditas di pasar," ucap Friderica.