BI Catat Pertumbuhan Positif, Likuiditas Nasional Tembus Rp 10.000 Triliun

BI Catat Pertumbuhan Positif, Likuiditas Nasional Tembus Rp 10.000 Triliun

Gedung Bank Indonesia di Jakarta.-Dok. Harian Disway-

JAKARTA, DISWAY.ID– Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian Indonesia atau uang beredar dalam arti luas (M2) tetap tumbuh positif di tengah dinamika ketidakpastian global.

Pada Februari 2026, posisi M2 menembus angka psikologis baru sebesar Rp 10.089,9 triliun, atau tumbuh 8,7 persen secara tahunan (year-on-year/y-o-y).

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini ditopang oleh perkembangan uang beredar sempit (M1) yang tumbuh sebesar 14,4 persen (y-o-y) serta uang kuasi sebesar 3,1 persen (y-o-y).

BACA JUGA:MBG Dipangkas Jadi 5 Hari, Kepala BGN Pastikan Mengikuti Jadwal Masuk Sekolah

Selain itu, ekspansi fiskal pemerintah turut memberikan kontribusi signifikan terhadap likuiditas nasional.

"Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat tumbuh sebesar 25,6 persen (y-o-y), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang sebesar 22,6 persen (y-o-y)," ujar Ramdan dalam keterangan resminya, Jumat (27/3/2026).

Dari sisi penyaluran kredit, perbankan nasional mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,9 persen (y-o-y) pada Februari 2026. Meski sedikit melambat dibandingkan capaian Januari 2026 yang sebesar 10,2 persen, angka ini dinilai masih berada dalam tren positif untuk mendukung aktivitas dunia usaha.

Menariknya, geliat ekonomi justru terlihat sangat kontras di tingkat akar rumput menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah.

Data terbaru dari NEXT Indonesia Center menunjukkan bahwa peredaran uang kartal atau uang tunai di masyarakat mencapai rekor tertinggi dalam enam tahun terakhir. 

BACA JUGA:Alasan John Herdman Boyong 4 Kiper Jelang Timnas Vs Saint Kitts dan Nevis

Fenomena ini mencerminkan tingginya dana siap belanja yang dipegang langsung oleh masyarakat (di luar kas perbankan).

Menjelang Lebaran 2026 lalu, jumlah uang di kantong masyarakat tercatat mencapai Rp 1.241 triliun, melonjak Rp 104 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1.137 triliun.

Kenaikan permintaan uang tunai ini menjadi indikator kuat resiliensi ekonomi domestik. Aktivitas konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga di tengah tekanan inflasi global membuktikan bahwa daya beli masyarakat, khususnya dalam menyambut momentum hari raya, masih menjadi motor utama penggerak ekonomi nasional.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: