Ziarah pertama saya di Kairo: ke makam Imam Syafi'i. Satu dari imam empat mazhab: Syafi'i, Maliki, Hambali, dan Hanafi.
Islam di Tiongkok mazhabnya Hanafi. Indonesia Syafi'i. Rasanya saya ikut Syafi'i campur Hanafi.
Bangunan tinggi di sekitar makam Imam Syafi'i banyak dikosongkan. Sebagian sudah dihancurkan. Itu menambah tebalnya debu yang harus masuk paru. Tapi itu juga memberi harapan: pembangunan ekonomi dan modernisasi terus berlangsung di Mesir.
Sementara ini suasananya masih seperti dulu: jalan tanah, debu tebal, kaki lima saling bersaing, pengemis berbaris, dan terik matahari kian ngeri.
--
Imam Syafi'i inilah yang membuat Islam sangat moderat. Selalu memberi jalan tengah untuk urusan keagamaan. Indonesia berada di jalur ini. Al Azhar University di jalur ini. Banyak mahasiswa yang pilih kuliah di Al Azhar karena ingin belajar sikap tengahnya itu.
Tapi yang mendampingi saya selama di Kairo adalah orang Indonesia dengan latar belakang keluarga pengikut Persis –Persatuan Islam.
Anda sudah tahu seperti apa Persis: tegas. Sesuatu yang tidak ada dalam Alquran dan Hadis tidak boleh dikerjakan. Titik. Tidak ada titik koma.
Termasuk ziarah ke kuburan: tidak boleh. Tidak diajarkan. Tahlil tidak boleh. Orang itu kalau sudah mati ya sudah. Mati. Sudah terputus dengan siapa pun kecuali tiga: ilmunya, amal sedekahnya, dan doa anaknya yang saleh.
Setelah kuliah di Al Azhar sikapnya melunak. Apalagi setelah ia punya bisnis travel: harus sering mengantarkan rombongan yang ingin ziarah ke kuburannya Imam Syafi'i.
Namanya Anda sudah tahu: Fauzi Syam Latif (Disway 19 Februari 2026: Tiga Huruf). Orang Bandung. Mertuanya orang Garut. Sekeluarga Fauzi Persis semua –sedangkan keluarga istrinya NU semua.
Bersama Fauzi Syam Latif (kiri).--
Akhirnya Fauzi menciptakan istilah baru. Jalan tengah. Ziarah kubur itu ia bagi dua: ada yang bi barokiyah dan ada yang bi tarikiyah. Yang penting jangan yang pertama: ziarah ke kuburan untuk minta berkah. Kuburan tidak bisa memberi berkah.
Mendengar Fauzi sering ke kuburan, keluarganya di Bandung heboh. Termasuk ayahnya sendiri. Fauzi dianggap orang Persis yang tidak tegak lurus lagi. Fauzi pun sibuk menjelaskan teorinya tentang dua jenis ziarah ke kuburan itu.
Apalagi ketika mertuanya meninggal dunia. Ia harus mengadakan tahlil di rumahnya selama tujuh malam. Ia diejek habis oleh keluarganya.
"Tapi Anda masih tetap Persis kan?" tanya saya.
"Masih," katanya.
"Ada berapa orang Persis yang kuliah di Al Azhar?"
"Ada 200-an orang".
Tentu itu objek menarik untuk penelitian: bagaimana 200 orang itu bermetamorfosis dari ajaran Persis ke ahli sunnah yang wasatiyah.
"Bisa untuk disertasi S-3," kata saya kepada ustaz saudagar Fauzi. Apalagi ia sendiri mengalaminya.
Saya ceritakan kepadanya: waktu muda salah satu bacaan saya adalah majalah Al Muslimun. Rutin. Itu majalahnya Persis. Yang menerbitkan Persis Bangil, Pasuruan. Sudah lama majalah itu mati.
Saya juga bercerita tentang wartawan saya yang juga dari keluarga pimpinan Persis di Tasikmalaya. Wartawan hebat. Akhirnya jadi pemred harian Rakyat Merdeka.
Ia alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Meneruskan S-2 di McGill University di Kanada. Lalu ambil gelar doktor di Belanda. Disertasinya tentang tarekat NahshabandiyahQadiriyah. Sekarang ia jadi wakil mursyid aliran tarekat itu. Di Ciamis. Di Sirna Rasa. Menjadi wakilnya Abah Aos –keturunan Abah Anom Suryalaya. Namanya: Dr Budi Rahman Hakim. Dari Persis ke tarekat.
Sebenarnya saya merasa cukup ziarah ke satu makam saja: Imam Syafi'i. Tapi Fauzi-lah yang justru mengajak saya ziarah ke banyak makam lainnya. Masih pula mampir ke makam satu lagi: makam anak kecil yang di usia tiga tahun sudah hafal Quran. Ia meninggal di umur empat tahun.
Ibu sang anak kini hidup di makam anaknyi itu. Tinggal di situ. Menjanda. Suaminyi juga dimakamkan di situ.
Makam anak kecil itu harus ditunggui karena banyak peziarah yang datang ke situ. Minta berkah. Sang ibu yang bisa memberi penjelasan lengkap.
Makam di Kairo umumnya memang dijaga. Keluarga yang meninggal membayar petugas jaga. Petugas itu tinggal di makam. Ada tempatnya. Makam di sana besar-besar. Satu makam seperti satu rumah.
Ternyata tidak hanya makam orang Tionghoa yang besar-besar. Pun orang Arab Mesir.
"Ada dua juta orang di Kairo yang pekerjaannya menjadi penunggu makam. Tidur di makam," ujar Kang Fauzi.
--
Akhirnya dari hanya ingin ziarah ke satu makam menjadi ziarah ke enam makam. Termasuk ke makam orang yang membiayai pembangunan makam Imam Syafi'i. Betapa kaya orang itu. Mampu membangun makam Imam Syafi'i yang begitu megah dengan kubah yang tinggi. Ia seorang pengusaha besar di masa itu. Makamnya hampir bersebelahan dengan Imam Syafi'i.
Waktu saya ke makam itu, istri saya ternyata sudah di kampung halamannyi di Loa Kulu, Kaltim. Dia juga ke makam: makam ibu dan bapaknyi.
Waktu saya ke berbagai kabupaten di provinsi Jiangsu sekarang ini dia pun ke kabupaten Kutai lagi. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 8 Maret 2026: Aliran Boneka
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
BBM IKUT BERDOA,
AGAR PERANG SEGERA SELESAI..
Perang di Timur Tengah selalu punya satu penonton yang sangat sensitif: Harga BBM dunia.
Ia seperti anak kecil. Sedikit kaget langsung melonjak. Sedikit lega langsung turun.
Setiap kali nama Iran disebut dalam berita perang, pasar minyak langsung gelisah. Wajar. Iran bukan negara kecil di peta energi. Ia pemain penting di jalur minyak dunia. Selat Hormuz saja sudah cukup membuat para trader minyak sulit tidur. Lewat sana hampir seperlima minyak dunia lewat.
Maka ketika rudal beterbangan, grafik harga minyak juga ikut “meledak”. Bedanya, yang satu ledakan sungguhan. Yang satu ledakan di layar komputer.
Lucunya, kadang perang belum benar-benar meluas, tapi harga sudah naik duluan. Pasar memang lebih cepat panik daripada tentara.
Bagi kita di Indonesia, kabar perang jauh di sana sering terasa dekat ketika melihat angka di pompa bensin. Tiba-tiba saja dompet ikut merasakan geopolitik.
Karena itu sebenarnya bukan hanya diplomat yang berharap perang cepat selesai.
Sopir taksi, ojek online, dan pemilik motor bebek juga ikut berdoa. Diam-diam.
Mereka tidak peduli siapa yang menang perang.
Yang penting satu: Harga BBM jangan ikut perang.
Liáng - βιολί ζήτα
CHDI : "Bahkan kemarin pagi saya mengunjungi pedalaman Tiongkok yang punya proyek istimewa menjadikan tambang garam di kedalaman 1.500 meter di perut bumi sebagai gudang penyimpan listrik. Terbukti bagaimana garam bisa jadi penyimpan listrik sampai 600 MW."
Itu dikenal sebagai 压缩空气储能 (yāsuō kōngqì chǔ néng) atau Compressed Air Energy Storage (CAES), maksudnya adalah metode penyimpanan energi udara terkompresi.
Salah satu 压缩空气储能 yang baru saja beroperasi penuh awal tahun 2026 ini, di 淮安(Huái'ān), 江苏 (Jiāng sū), Tiongkok ; dengan memanfaatkan gua garam bawah tanah (1.150 - 1.500 m) untuk menyimpan energi yang dapat menghasilkan listrik berkapasitas 600 MW/2,4 GWh.
Tidak mesti selalu di dalam gua bekas tambang garam bawah tanah, tetapi secara umum di dalam gua batuan dengan kondisi tertentu.....
Abah DI dapat menelusuri informasi terkait selengkap-lengkapnya di portal-portal science and technology berbagai Perguruan Tinggi di Tiongkok sono.....
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PESAN TRUMP DI MEDSOS
7 MARET 2026..
"Iran, yang sedang dipukul habis-habisan, telah meminta maaf dan menyerah kepada negara-negara tetangganya di Timur Tengah, serta berjanji bahwa mereka tidak akan menembaki mereka lagi.
"Janji ini hanya dibuat karena serangan tanpa henti dari Amerika Serikat dan Israel. Mereka sebelumnya ingin mengambil alih dan menguasai Timur Tengah.
"Ini adalah pertama kalinya Iran kalah, dalam ribuan tahun sejarahnya, dari negara-negara di Timur Tengah di sekitarnya.
"Mereka bahkan mengatakan, “Terima kasih Presiden Trump.”
Dan saya menjawab, “Sama-sama!”
"Iran tidak lagi menjadi “pengganggu di Timur Tengah.”
Sebaliknya mereka sekarang adalah “PECUNDANG TIMUR TENGAH.”
"Dan mereka akan tetap begitu selama beberapa dekade sampai mereka menyerah atau—lebih mungkin—benar-benar runtuh.
"Hari ini Iran akan dipukul sangat keras!
"Saat ini sedang dipertimbangkan secara serius penghancuran total dan kematian yang pasti, karena perilaku buruk Iran. Beberapa wilayah dan kelompok yang sebelumnya tidak menjadi target sekarang sedang dipertimbangkan untuk diserang.
"Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini.
@Presiden DONALD J. TRUMP..
Reinhart Holim
Kata Mao Zedong "Kekuasaan datang dari laras senjata". Oleh karena itu Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok sesungguhnya adalah tentara partai alih-alih tentara negara. Oleh karena itu pula untuk berkuasa Deng Xiaoping tidak perlu menjadi ketua partai, presiden atau perdana menteri. Dia cukup menjadi ketua komisi militer dan ketua komisi penasehat. Teori ini rupanya berlaku juga di Iran.
Eko Darwiyanto
Terima kasih sudah mau mendengar nasehat Sujiwo Tejo. Semoga kata gugur menetralkan semua kata tewas sebelumnya.
Taufik Hidayat
Melihat situasi di Israel, İran dan perang yag ternyata tidak singkat ini saya jadi ingat pernah mampir ke Shiraz, ibu kota propinsi Fars, tepatnya ke makam penyair Sa’di. Nah di sini di toko suvenir, dijual karya beliau yang paling terkenal yaitu Gulistan. Gulistan senriri berarti Taman Bunga.Mawar atau Rose Garden Ada kitipan menarik yag terkenal dari buku ini yang dikenal dengan Bani Adam . bahkan di gedung PBB di New York, di salah satu ruang neetingnya diganting karpet dari İran dengan kutipan kata-kata Bijak Sadi yang terkenal yatu: “ All human beiings are members of one frame, since all, at first, from the same essence came. When time afflicts a limb with pain. The other limbs at rest cannot remain. If thou feel not for other’s misery a human being is no name for thee.
Rasanya sangat mengena sekali kutipan karya Şadi ini untuk perang yang merupakan trajedi kemanusian ini…
Juve Zhang
India dibawah Modi gila ....tiba tiba menyetop beli minyak Rusia....dan balik Patuh ke trumpet.... sekarang tiba tiba minta minyak Rusia lagi karena selat Hormuz ditutup..... akibatnya diskon hilang sekarang ini kata Putin....wkwk
WASITH channel
Akhirnya Abah DI mengganti diksi TEWAS dengan GUGUR untuk meninggalnya Ayatollah Ali Khamaeni... Kritikan Perusuh memang tajam setajam silet
Sugi
Jujur ikut jenuh Bah. Saya menunggu kisah2 lainnya saja Bah. Semoga seperti harapan Abah: tidak ada rudal balistik yang tiba2 jatuh. Meski rumput tetangga memang jauh lebih hijau, orang2 Indonesia yang punya kiprah luar biasa di luar negeri juga patut diacungi jempol. Mereka menjadi inspirasi bagi anak-anak negeri lainnya di sini, utamanya kita2 yang tidak punya kesempatan melihat dunia luar. Kami ingin punya wawasan lebih luas daripada sekadar tembok pembatas antar-bangsa.
Sadewa 19
Trump sesumbar punya hak untuk menentukan pemimpin Iran. Hal itu langsung dibalas oleh Wamenlu Iran. "Sampean nentuin walikota New York aja nggak bisa, gemana mau ikut nentuin pemimpin Iran ?". Pernyataannya disambut tawa hadirin.
Iran jelas berbeda dengan, tetangga tetangganya. Disana tidak ada MK yg bisa di setting. Untuk jadi Ayatullah begitu banyak syaratnya. Tidak bisa asal tunjuk, apalagi umur nyabelum cukup.
Ini bisa jadi pelajaran buat negeri kita. Syarat jadi pemimpin harus lebih ketat. Buat minimal level kecerdasan, moral dan intelektual tertentu. Pastikan pemimpin benar benar memgertiakan negaranya, nama suku suku didalamnya. Pastikan pemimpin tahu peta politik global, lancar berbahasa asing. Percuma tahu nama ikan tongkol, jika ....ah sudahlah
Jika masuk kerja di swasta saja ada psikotest, ada seleksi yg sulit, rumit. Sudah seharusnya menjadi pemimpin negara besar ada proses dan seleksi yg jauh lebih ketat. Agar antekantek asing tidak mudah mengambil alih negara. Tidak mudah menciptakan pemimpin boneka.
DATABANDAR
syiah itu islam, Tuhan nya Allah, Nabi nya Muhammad SAW. tak ada yg beda. syiah sunniberbeda adalah propaganda Barat, agar Umat saling perang. contoh nyata Palestine dianggap Sunni yg di bela mati matian oleh Iran. yg ngaku sunni lain nya hanya membela sekedarnya tak seperti Iran yg Totaliter membela sampai negaranya pun di serang AM-IS. perang hanya menghasilkan duka, selebihnya hanya keuntungan kaum elit. sejarah mencatat itu semua. atau dunia yg damai adalah kerugian bagi USA, karena bisnis senjata jadi mati. maka perang baru harus di ciptakan, karena ukraina tak punya uang lagi utk beli. paling lama 15 hari perang ini akan berhenti pelan pelan, USA sudah tekor, tinggal menunggu negeri teluk belanja alat perang baru. yg super mahal mahal itu. atau kirim Bambu runcing drone buatan lokal yg kadar TKDN nya hampir 100%
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
IRAN TIDAK MUDAH PUNYA
PRESIDEN “REMOTE CONTROL”..
Tulisan ini seperti membuka mesin jam Iran. Banyak roda. Banyak pegas. Dan ternyata tidak ada tombol “remote control”-nya.
Di luar sering ada imajinasi sederhana: kalau Amerika menekan Iran cukup keras, nanti akan muncul pemimpin yang “lebih ramah”. Istilah kasarnya: boneka. Masalahnya, struktur Iran tidak dirancang untuk itu.
Ada ayatollah. Ada presiden. Ada Garda Revolusi. Tiga-tiganya seperti tiga kaki kursi. Kursi itu bisa goyang. Tapi tidak mudah dijungkirkan dari luar.
Yang paling menarik justru peran Garda Revolusi. Mereka bukan sekadar tentara. Mereka juga pengusaha. Kontraktor. Pemain minyak dan gas. Kalau benar 30 persen ekonomi di bawah mereka, maka pengaruhnya bukan hanya ideologis. Tapi juga finansial. Campuran yang sangat kuat.
Dalam kondisi seperti itu, ayatollah yang terlalu lentur bisa kesulitan naik. Yang terlalu keras juga bisa menimbulkan masalah baru. Jadi Iran selalu mencari titik tengah yang aneh: keras tapi rasional. Ideologis tapi tetap berhitung.
Karena itu mencari “boneka Amerika” di Iran ibarat mencari kucing di akuarium. Teorinyabisa dibayangkan. Praktiknya… ya tenggelam duluan.
Yang mungkin berubah bukan sistemnya. Tapi alirannya. Dan di Iran, aliran kadang lebih menentukan daripada jabatan.