Tol Tentara
Jalan tol di Mesir terdiri dari lima lajur dan sangat lebar. Selain itu tarifnya supermurah.-Harian Disway-
Yang paling saya kagumi selama di Mesir adalah jalan tolnya. Memang baru dua jalan tol yang saya lewati tapi saya sudah bisa mengambil kesimpulan: Mesir ini beda!
Misalnya jalan tol dari Kairo ke Alexandria: 220 km. Hampir sama dengan jarak Jakarta-Tegal. Atau Surabaya-Yogyakarta. Tarifnya membuat saya tersedak: hanya Rp 3.500. Sangat tidak masuk akal.
Bandingkan dengan Jakarta-Tegal: Rp 240.000. Atau Surabaya-Yogyakarta: sekitar Rp 420.000. Atau kalau Anda masuk tol dari Lampung, 220 km itu sudah sampai di Kayu Agung. Tarifnya: di atas Rp 160.000.
Ternyata jalan tol di Mesir ini milik perusahaan tentara Mesir. Tentara di sana punya banyak sekali badan usaha. Di bidang apa saja. Termasuk konstruksi dan properti. Maka banyak rest area di jalan tol pun milik perusahaan tentara.
Pantaslah rakyat Mesir cinta sekali ke tentara. Bisa memberikan jalan tol dengan tarif semurah itu. Di pilpres yang lalu incumbent menang sampai 90 persen.
Rakyat Mesir justru tidak mendukung partai. Bahkan Ikhwanul Muslimin, yang awalnya dielu-elukan, hanya berkuasa satu tahun. Lalu kembali ke militer lagi.
Bukan hanya murahnya. Juga lebarnya. Ampuun. Satu arah delapan lajur. Yang lima lajur untuk kendaraan pribadi --kendaraan kecil. Yang tiga lajur untuk bus, truk dan kendaraan niaga. Keduanya dipisahkan kone beton.
Ini seperti medan kemerdekaan berkendaraan. Tidak perlu ada aturan: yang berkecepatan tinggi harus di lajur yang mana. Anda banting stir ke mana pun tidak akan menyenggol siapa pun.
Bayangkan. Lima lajur hanya untuk mobil pribadi. Di Indonesia tiga lajur pun untuk rebutan semua jenis kendaraan: truk, bus, box, pikap, dan kendaraan pribadi.
Apakah perusahaan milik tentara itu tidak menghitung ROI (return on investment)? Tidak pakai itungan kapan balik modal?
Tentu ada. Tapi cara menghitungnya yang berbeda. Jalan tol di Indonesia punya cara menghitung sendiri. Begini: 100 persen biaya dianggap pinjaman dari bank. Padahal, sebenarnya hanya 70 persen. Yang 30 persen dari penggelembungan nilai proyek.
Maka harus ada biaya bunga bank dari yang 100 persen itu. Termasuk bunga saat pembangunan dan setelah pembangunan.
Biaya pembangunannya sendiri dibuat cukup untuk memberi laba untuk dibagi-bagi: kontraktor, sub kontraktor dan subnya sub kontraktor.
Kontraktor tidak mengerjakan sendiri proyeknya. Kontraktor menyerahkan bagian-bagian pekerjaan ke sub kontraktor. Berarti ada ruang laba untuk sub kontraktor.
Sub kontraktor pun masih menyerahkan pekerjaan ke pelaksana. Ada laba lagi.
Belum lagi faktor risiko. Juga sekalian dimasukkan dalam perhitungan bunga.
Pun soal pembebasan tanah. Diserahkan ke kontraktor pembebasan. Lalu ke calo. Baru ke koordinator. Semua mengandung biaya.
Dan semua semua itu dibebankan ke tarif tol. Sedang di Mesir tanah adalah tanah negara.
Di Mesir perhitungan non keuangan bisa dimasukkan ke biaya. Di Mesir dalam menghitung ROI pemerintah menghitung return yang bukan investment.
Misalnya: kalau tarif tol murah berarti kian banyak kendaraan yang tidak pakai jalan non-tol. Itu berarti biaya pemeliharaan jalan itu menurun. Dengan lancarnya jalan tol angkutan orang dan barang lancar --menurunkan inflasi.
Pokoknya yang dihitung tidak hanya ROI tapi juga RONI –return on non investment.
Dulu, waktu saya ke Piramid belum ada jalan tol jurusan Alexandria ini. Kini dengan lewat tol bisa cepat sekali ke Piramid: 30 menit. Setengah jam dari Kiro sudah bisa melihat Piramid dari jalan tol.
Tiba-tiba kang Fauzi –saudagar kum ustaz, membelokkan mobil keluar tol. Ia berkuasa penuh. Ia yang punya mobil. Ia yang mengemudikannya. Saya ikut saja.
"Biar tahu perkembangan sekitar Piramid," ujar Kang Fauzi al Bandungi.
Lingkungan Piramid itu ternyata sudah berubah. Total. Kini sudah ada Piramid keempat. Baru selesai dibangun akhir tahun lalu. Sebenarnya itu bukan Piramid. Itu museum: Grand Egyption Museum. Memang besar sekali. Desainnya dibuat sedemikian rupa seperti abstraksi Piramid. Karena itu dijuluki Piramid Keempat.
"Kita tidak usah masuk museum. Bisa lima jam sendiri di dalamnya," ujar Kang Fauzi.
Intinya turis yang ke Piramid sekarang punya objek tambahan: museum itu.
Setelah berputar di sekitar museum kami balik ke tol lagi –meneruskan perjalanan ke Alexandria. Setengah jam kemudian Kang Fauzi menunjuk ke arah timur: di sana kampungnya Mo Salah –bintang sepak bola Liverpool Mohamed Salah. Mungkin 50 km di timur sana.
Di kampung itu sering terjadi penyembelihan sapi. Setiap kali Salah bikin gol ada sapi yang disembelih. Dagingnya dibagikan ke masyarakat. Kalau dalam satu pertandingan Salah membuat dua gol, dua sapi dipotong.
Kami melupakan Salah. Terus menyusuri kemerdekaan ke barat laut. Kanan kiri jalan tol tanahnya subur. Itulah yang dulu wilayah banjir abadi. Lalu belakangan jadi lahan pertanian setelah banjir bisa dikendalikan lewat bendungan Aswan di Hulu sungai Nil.
Model jalan tol begini hanya ada di Mesir. Dia tidak berkiblat ke mana-mana. Mesir bangga dengan kejayaan masa silamnya (Dahlan Iskan)
View this post on Instagram
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 9 Maret 2026: Ziarah Ziarah
djokoLodang
-o-- Ziarah Sedih Seorang pria menaburkan bunga di makam ibunya yang tercinta dan mulai berjalan kembali ke mobilnya ketika perhatiannya teralihkan pada pria lain yang berlutut di sebuah makam. Pria itu tampak berdoa dengan sangat khusyuk dan terus mengulang, "Mengapa kau harus mati? Mengapa kau harus mati?...Mengapa?...Mengapa?... Mengapa dulu kau harus mati? ..." Pria pertama mendekatinya dan berkata, "Tuan, saya tidak ingin mengganggu kesedihan pribadi Anda, tetapi ungkapan rasa-sedih ini belum pernah saya lihat sebelumnya. Kalau boleh tahu, untuk siapa Anda berduka begitu dalam? Seorang anak? Seorang ibu? Atau ayah?" Pria yang berduka itu mengambil jeda sejenak untuk menenangkan diri, lalu menjawab, "Suami pertama istri saya." -o--
djokoLodang
-o-- Masih Persis --- "Tapi Anda masih tetap Persis kan?" tanya saya. "Masih," katanya. *) Walau pun sudah bermukim di Bandung sejak 1971 sampai sekarang saya juga juga masih tetap Persis. ~ Kalau nonton siaran Persis vs Persebaya, saya tetap menjagoi Persis. Dan bangga Persis pernah punya kiper legendaris, Maladi, walau pun hanya mengenal namanya. Maladi adalah kiper legendaris Persis Solo yang juga menjadi bintang timnas Indonesia di era 1930-an dan namanya diabadikan menjadi nama stadion di Solo, yaitu Stadion R. Maladi. --0-
Milyarder Setia
Ada makam dan ada maqom. Asal kata sama. Makam itu kuburan, Maqom itu kedudukan, posisi. Maqomnya di makam. Makamnya di maqom. Hampir sama tapi beda. Tapi bukan sudah tapi belum
Taufik Hidayat
Artikel abah DI pagi ini tentang Ziarah mengingatkan saya akan sebuah novel yang saya baca duluuuuuu sekali waktu SMA. Judulnya Ziarah karya Iwan Simatupang. Terus terang isinya tidak mudah dicerna namun sangat unik, walau dipersembahka untuk Corry, menfi ang istri pertama penulis, tokoh tokoh dalam novel ini semuanya tanpa nama , melainkan hanya ditulis sebagai profesi nua saja. Lalu apa hubungannya denga ziarah Ziarah abah di Mesut? Yah kalau kita Ziarah maka sebagian besar kita pun menjadi tanpa nama , kita akan disebut penziarah…. Lagi pula cerita tentang jalan jalan ke makam, mausoleum, kuburan atau Monumen memang menjadi passion saya jika berkelana ke pelosok dunis. Bahkan kisah itubsudah saya tulis salam buku berjudul Tamasya ke masa depan, seperti yang salah satu jilidnya saya hadiahkan buat abah waktu gathering perusuh terakhir di Pacet. Nah ziarah ke nedir memang menarik. Hampir semua tujua wisata di Mesut pada hakekatnyabadalah Ziarah , baik kota ke piramida di Giza, Sahara, atau juga ke makam para firavun di Valley of the King Di Luxor. Namun Di Kairo saya ingat kompleks makam yang Luat biasa luas yang namanya City of the Dead. Ziarah memang mengingatkan kita akan kenarına. Dan semua yang hidup suatu saat akan mati. Dan Bahkan kalau kita ke komples piramida di Teotihuacan di Meksiko kita akan berjalan di sebua jalan raya yang namanya Avenida de los Muertes atau Jalan raya orang mati. Yuk kita Ziarah !
Vikagora Prayogi
Ziarah kubur juga bertujuan untuk mendoa'akan orang yang sudah dikubur supaya selamat di alam kuburnya. Sekarang malah terbalik yang masih hidup minta do'a kepada yang di dalam kubur supaya diberi keselamatan, kesehatan, kekayaan dan lainnya. Kenapa ya kalau do'a di kubur lebih banyak yang terkabulnya daripada do'a di masjid?? Coba kita ingat ingat, kalau berdoa di kuburan sama di Masjid mana lebih khusu'/fokus? Pasti lebih khusu di kuburan.. Kok bisa ya? Apa yang salah kalau begitu? Hati kita terkadang terlalu mengagungkan tempat
Vikagora Prayogi
Penggunaan Istilah wasatiyah ini sekarang sudah keluar dari khittah awalnya sesuai ayat albaqarah ayat 143. Awalnya Islam itu wasat antara agama Yahudi yang punya Ilmu tapi tidak mau beramal dan Nasrani yang ndak punya ilmu tapi rajin beramal, islam datang dengan Ilmu dan Amal. Sejarah berikutnya mencatat munculnya istilah islam ahlussunnah yang wasat karena banyak muncul sekte sekte islam yang ekstrim kiri dan kanan, seperti khawarij dan syiah, jabariyah vs qadariyaah dan banyak lagi. Sekarang istilah wasat dipakai sebagai bentuk kompromi dari islam yang murni dengan islam tradisi. Padahal kalau dilihat sejarahnya islam tradisi ini kan dari sunan kalijaga ketika mengislamkan pulau jawa dari sebelumnya beragama Hindu menjadi Islam tapi masih ada unsur Hindunya, seperti selamatan kematian 7 hari, 9 hari dst yang menjadi tahlilan 7 hari dst. Sunan Giri sebenarnya sudah mengingatkan sunan Kalijaga untuk tidak berbuat seperti itu tapi dijawab biarkan saja dulu yang penting masuk Islam biar nanti da'i/ulama belakangan yang perbaiki kata beliau. Eh sampe sekarang malah kebablasan, coba di mesir ada ndak tahlilan, ditiongkok situ ada ndak tahlilan.. kayaknya cuman ada di Indonesia
Nimas Mumtazah
Bapak dan ibu Pak.. Kuyakin kau sudah jadi bintang Paling terang di langit benderang Walau tanganku tak mampu menggapai. Dulu, pundakmu ku jadikan tempat bersandar melihat dunia. Ibu... Dulu, kau siapkan hatimu tempatku bercerita. Aku rindu jemarimu ketika mengusap rambutku. Kidung shalawat samar² yang kau lantunkan. Masih terngiang di telingaku Kini, aku melihatmu lewat doa²indah Rinduku tak kan pernah usai..
Taufik Hidayat
Sebenarnya fenomena orang tinggal di pemakaman bukan hanya ada di Mesir, di Manila juga Ada pemakaman mewah Manila North Cemetery yang menjadi perkampungan tenpat tinggal. Kali di Jakarta Ada di Kebon Nanas. Dalam bahasa Spanyol , kompleks kuburan disebut Cementarios, karena itu kalau kita ke Santiago de Chile akan mudah Ziarah karena disana ada stasiun metro yang namanya Cementario. Di sini Bahkan sebagian makamnya bertingkat tingkat bagaikan apartemen dengan potret dan nama penghuni nya di setiap unit. Jalan jaan ke sini seru seru sereum.
Jokosp Sp
Jiwa korup tetap saja. Tidak ada pengaruhnya dengan puasa. Puasanya iya....korupnya juga iya, tetap terus jalan. Apalagi kebutuhan meningkat untuk hari rayanya, sikat terus, tambah gila dan tanpa ampun. Apalagi ada budaya lain : "harus setoran ke atasan" kirim parcel lebaran.
Er Gham 2
Bentar lagi idul fitri. Kalau budaya salam salaman, trus ada ucapan mohon maaf lahir batin di grup whatsapp, itu aliran mana. Apakah hanya ada di sini. Saling berucap mohon maaf dan bersalaman. Lalu lanjut lagi korupsi nya. Di negeri mana tuh.
IZHAR FRANDY KUSUMA
Membaca tulisan abah Dahlan Ziarah Ziarah ini mesti harus fokus. Apalagi membacanya saat jam-jam rawan puasa. Setelah Zuhur atau menjelang Asar. Karena antara tulisan makam dan makan hanya selisih 1 huruf. Bersebelahan pula. Tapi maknanya bagai bumi dan langit. Makam mengingatkan akan kehidupan langit. Makan mengingatkan kehidupan di bumi. Tapi kedua kata itu sama-sama ada dalilnya. Dalam surah Al Mulk ayat ke 15, Allah berfirman: "Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan" Inilah ayat Al-Qur'an yang dijadikan dalil oleh para pelancong. Keliling dunia, makan-makan, lalu mengingat kematian. Jangan-jangan Abah Dahlan juga menggunakan dalil ini untuk keliling dunia. hehehe... #SalamMojopahit
Jokosp Sp
Dulu. Kapan itu dua atau tiga kali pernah melewati Jln. Lintas Kalimantan Poros Tengah atau melewati Jln. P. Suryanata dan Jln. AP. Mangkunegara Samarinda. Tidak tau kalau Galuh Banjar ternyata ada di Kec. Loa Kulu Kab. Kutai Kartanegara yang perjalanannya kurang lebih memakan waktu 1 jam/ 38Km dari Samarinda. Ketika itu dapat tugas sebagai Advisor sebuah kontraktor untuk memperbaiki proses di Gudang/Logistik untuk sistem dan inventory part. Juga distribusi dan sistem BBM Solar dari Depo Pertamina Balikpapan sampai di Pelabuhan Melak. Jarak Samarinda ke Melak ternyata sampai 320 Km dan ditempuh hampir 8 jam dengan mobil Kijang Inova. Kita yang belum tahu sebelumnya, untunglah si supir sudah pesan: "Belanja makanan dan minuman yang cukup untuk ganjal perut di jalan". Jarak yang begitu jauh dengan kondisi jalan aspal yang ternyata banyak "lubang diamnya" daripada mulusnya. Delapan jam itu membuat pinggang, paha dan pantat sangat tersiksa. Supirpun paham ke penumpangnya, dan memberikan beberapa kali istirahat sekaligus untuk isi perut. Ternyata "kayanya bumi Indonesia dengan batu bara" tidak paralel dengan mulusnya jalan raya dan sejahtera penduduk sekitarnya. Di Melak dan Samarinda ada PT.Bayan Resources punya teman Abah, PT.Gunung Bara Utama, PT.Manoor Bulatn Lestari, Tambang Marimun (Tiramana Group), PT.Sinar Nirwana Sari, PT.Indo Tambang Raya (ITM). Di sekitar Samarinda ada PT.RKA Tanah Merah, PT.LHI Tanah Datar, PT.MHU, PT.IBP, PT.ABN, PT.KDC, PT.AJP. Kayanya Samarinda.?
Muh Nursalim
Mesir tidak dirudal Iran. di Mesir tak ada pangkalan militer Amerika. Walaupun sang presiden. dulu bisa kuasa atas restu Amerika. Lebih aman. Karena ternyata pangkalan militer yang diharapkan melindungi negara di mana pangkalan itu ada. Malah menjadi target rudal pertama. Mereka tidak berani membalas. Hanya kora2 akan membalas tapi tak dilakukan. Takut tambah dirudal lagi. Telanjur hidup mewah dan bergelimang kaya. Jiuka setiap hari rudal datang tentu akan mengoncang kehidupannya.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
MEMASUKI 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN.. Ramadhan pelan-pelan berjalan ke ujungnya. Seperti tamu baik yang sebentar lagi pamit pulang. Baru terasa datang. Tiba-tiba sudah memasuki sepuluh malam terakhir. Dulu, waktu kecil, malam-malam seperti ini rumah terasa berbeda. Lampu masih menyala sampai larut. Ayah belum tidur. Ibu sudah menyiapkan air hangat dan kurma di meja kecil. Kami bangun dengan mata setengah terbuka. Kadang masih mengantuk. Tapi hati terasa hangat. Ibu membangunkan dengan suara pelan. Tidak pernah keras. Kadang sambil mengusap rambut. Ayah sudah duduk lebih dulu. Tasbih di tangan. Rumah kecil itu tiba-tiba terasa sangat tenang. Sekarang malam-malam Ramadhan tetap datang. Tarawih tetap ada. Sahur tetap ada. Tapi beberapa suara yang dulu akrab itu sudah pelan menjauh. Tinggal kenangan yang sesekali datang tanpa diminta. Di sepuluh malam terakhir ini doa terasa lebih panjang. Bukan hanya meminta ampun. Tapi juga mengirim rindu. Untuk mereka yang dulu membangunkan sahur. Ramadhan selalu mengajarkan satu hal yang sama. Waktu berjalan terus. Tapi kenangan orang tua tidak pernah ikut pergi. Ia tinggal di hati. Diam-diam. Selamanya. ### (((Kalau pas ingat orang tua. Kadang saya lupa, kalau saat ini usia saya udah lebih tua dari keduanya saat tiada. Saya selalu merasa masih muda. Orang tua, selalu terasa lebih tua. Begitulah kehidupan. Saya sangat mensyukuri itu semua. Semuanya.))).
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DISERTASI S3 DARI ZIARAH, DZIKIR, DAN SELAMATAN.. Membaca CHDI hari ini, saya malah membayangkan satu hal: Bahan disertasi S3 bertebaran di mana-mana. Tinggal dipungut. Tinggal diberi judul ilmiah. 1). Pertama: metamorfosis Persis setelah kuliah di Al Azhar. Dari “tidak boleh ziarah” menjadi “boleh, asal tidak minta berkah”. Ini menarik. Bahan penelitian perubahan pemikiran keagamaan. Apalagi disebut ada sekitar 200 orang Persis di sana. Itu sudah seperti satu laboratorium sosial. 2). Kedua: ekonomi makam di Kairo. Ada jutaan orang bekerja menjaga makam. Tinggal di makam. Ini bisa jadi disertasi sosiologi agama. Bagaimana kematian justru menciptakan kehidupan ekonomi. 3). Ketiga: perbandingan budaya ziarah. Indonesia dengan tahlil, tabur bunga, selamatan. Mesir dengan doa personal. Dua-duanya sama-sama bertujuan mendoakan yang wafat dan mengingat kematian. 4). Keempat: evolusi dzikir kolektif. Dari majelis kecil di kampung sampai majelis dzikir nasional yang dihadiri pejabat negara. ### Kalau dirangkum, topiknya sederhana: ziarah, dzikir, selamatan. Tapi di dalamnya ada sejarah, budaya, ekonomi, bahkan politik. Kadang bahan disertasi tidak perlu jauh-jauh ke Harvard. Cukup membaca CHDI sambil ngopi. Sudah dapat tiga judul. Bahkan bisa empat. Kalau anda ambil ini tolong sebut kata CHDI.
Sadewa 19
Ada seorang tokoh yang belum meninggal tetapi banyak di ziarahi warga, bahkan ada yg tahlilan di depan rumahnya. Ada yg "ngalap berkah". Wow...Madzab apakah ini ? Apakah campuran empat Madzab ? Entahlah...
Vikagora Prayogi
Pembangunan Area kubur atau kubur seseorang yang di muliakan ini agak dilematis, satu sisi secara ekonomi sangat menguntungkan, banyak UMKM, ada petugas parkir dan lainnya yang mengandalkan hidup dari sana. Sisi lain juga ada akidah umat yang kadang dikorbankan karena minimnya pengajaran atau umat muslim yang kurang menelaah referensi agamanya sendiri. Sehingga banyak yang punya keyakinan yang agak jauh dari ajaran agama, misalnya banyak peziarah yang mintanya langsung ke penghuni kubur bukan kepada Tuhan. Di Saudi dulu sebelum berdiri rezim al Sa'ud kuburan yang dikultuskan dan berupa bangunan megah sangat sangat banyak, namun dalam rangka antisipasi menjaga akidah umat akhirnya di hancurkan. Bayangkan jika sekarang masih ada dan pemerintah saudi mengizinkan, pasti kuburan akan lebih rame daripada masjid Nabawi dan Masjidil Haram.
Irary Sadar
Imam As-Syafi'i kalau melihat kuburannya sekarang mungkin sedih dan murka..,
Vikagora Prayogi
Bangunan Kubur Imam Syafi'i yang dibangun di Mesir itu sejatinya tanpa persetujuan imam syafii pastinya karena Imam Syafi'i dalam kitab beliau yang terkenal Al-Umm melarang / memakruhkan pembangunan kuburan: Berikut kutipannya perkataan beliau: "Aku menyenangi agar kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur/disemen. Sebab, hal itu menyerupai perbuatan berhias dan menyombongkan diri. Sedangkan kematian bukanlah tempat untuk berhias dan bersombong. Aku juga tidak melihat kuburan Sahabat Muhajirin dan Anshar dibangun.”(Al-Umm 1/316)
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
MESIR YANG TERNYATA TAK SE-EUROPA “Bangunan tinggi di sekitar makam Imam Syafi'i banyak dikosongkan. Sebagian sudah dihancurkan. Itu menambah tebalnya debu yang harus masuk paru. Tapi itu juga memberi harapan: pembangunan ekonomi dan modernisasi terus berlangsung di Mesir. Sementara ini suasananya masih seperti dulu: jalan tanah, debu tebal, kaki lima saling bersaing, pengemis berbaris, dan terik matahari kian ngeri.” Begitu tulis Dahlan Iskan. Membaca bagian itu saya kok langsung membayangkan suasana yang tidak asing. Jalan tanah. Debu tebal. Pedagang kaki lima. Pengemis di pinggir jalan. Terik matahari. Rasanya seperti potongan suasana di negeri kita sendiri. Padahal dulu saya membayangkan Mesir sudah seperti Eropa. Kota tuanya rapi. Jalannya bersih. Wisatawan berjalan santai sambil memotret sejarah. Ternyata tidak selalu begitu. Bahkan di sekitar makam Imam Syafi'i pun suasananya masih sangat sederhana. Justru di situlah terasa Mesir yang sebenarnya. Negara tua dengan sejarah besar. Tapi tetap negara berkembang yang sedang berlari mengejar modernisasi. Pelan-pelan. Sambil tetap membawa debu masa lalu di sepatunya.
Juve Zhang
Mau ada uang jelas harus kerja atau usahawan....kalau sering minta uang ke kuburan dan sampai rambut putih masih belum ada uangnya artinya salah jalan.... untungnya ortu tak mengajarkan cari uang ke Kuburan....cari uang halal dan kerja yg bagus....jaga nama jangan korupsi....ingat ortu buat Arisan selalu banyak yg ikut artinya gak makan uang teman....arisan uangnya buat modal usaha....itu umum di tahun 70an 80an....sampai 90 an arisan modal usaha yg bebas bunga.... syarat nya Jujur jujur jujur .....
Macca Madinah
Barusan ngobrol-ngobrol siang, bahas makam, jadi nyerempet tentang pemakaman di jpg. di sana standarnya kremasi, jadi lahan pemakaman terbatas sekali. Buat wna beragama islam atau kristen (yang tetap wajib menguburkan jenazah), kali cara termudah adalah kirim jenazah balik ke negara asal, yang masalah adalah wn jpg sendiri dengan keyakinan jenazah harus dikubur. Konon bisa beribu km jarak yang harus ditempuh karena lahannya super terbatas. JAdi memang harus terencana, terdaftar di komunitas masjid/gereja yang ada, juga butuh terobosan pengelolaan pemakaman dan lobi halus, karena politikus di sana menolak dengan banyak alasan, salah satunya terkait pencemaran air tanah. Lihat di youtube, para komentatornya yg dari sini ternyata banyak yang dendam krn rumah ibadah lain di tanah air dipersulit, diskriminatiflah, dianggap karma. Di satu sisi, pemakaman alami sedang trendi juga: emisi rendah, jasad bermanfaat untuk menyuburkan tanah, jadi pupuk tanaman, eko deh pokoke. Demikian sekilas info.
Udin Salemo
inyong barusan lihat short youtuber @gascariangin, pemotor yang keliling dunia. dia beli bensin di spbu Iran hanya 500 rupiah per liter, kalau beli di eceran harganya 2500 per liter. woowww...sugoooiii. pantes preman mabok pengen buat Iran kayak Venezuela. ternyata rakyat Iran tak mendukung langkah preman mabok. orang Parsi memang beda. jiwa nasionalisnya tak bisa dibeli dengan iming-iming kekuasaan.
Liáng - βιολί ζήτα
selingan Spring in the North. Sebenarnya sudah cukup lama viral di media sosial, sebuah short video lagu berbahasa Jepang, yang menampilkan "penyanyi robot" untuk aksi panggungnya, dengan menggunakan suara "penyanyi manusia". Lagu tersebut, lagu lawas yang berjudul 北国の春 (Kitaguni No Haru) yang berarti Spring in the North. Lagu 北国の春 (Kitaguni No Haru) ditulis oleh Haku Ide, bergenre Enka. Dirilis pertama kali tahun 1977 oleh penyanyi Masao Sen. Lagu ini sangat terkenal, terutama di negara-negara Asia Timur (Jepang, Tiongkok, Taiwan, Hongkong, dan Korea), sudah diterjemahkan/diadaptasikan ke dalam berbagai bahasa. Anda dapat menemukannya di YouTube..... Kembali ke "penyanyi robot"..... Anda dapat memperhatikan kedipan matanya yang hanya beberapa gerakan saja, juga gerakan jari-jari tangan yang memainkan gitar, serta lehernya yang tanpa lipatan kulit sama sekali..... Sepertinya, kecantikan "penyanyi robot" ini melebihi gadis Jepang yang paling cantik sekalipun..... wkwkwkwkwk..... Oh..... iya, untuk suaranya, menggunakan suara penyanyi Sachiko Kobayashi, berikut ini tautan YouTube-nya : https://youtube.com/shorts/Ugu1NXZwbbA Dan..... tentu saja, electric violin covernya, oleh Si Cantiiiiiiiiiik Jo A Ram dari Korea Selatan : https://youtu.be/9BV26HrYQQI
Fauzan Samsuri
Membaca CHDI hari ini, jadi ingat seloroh teman saya, "bisnis travel/sewa armada ramai itu karena NU". Betapa tidak di kalangan warga NU dari RT, Desa hingga Kabupaten, setiap jamaah punya agenda ziarah, bisa anda bayangkan berapa armada yang mereka butuhkan, bahkan di bulan bulan tertentu di daerah basis NU anda bisa sulit mencari armada untuk disewa karena agenda yang hampir bersamaan, sebagai contoh pada saat tradisi ziarah wali songo dilaksanakan pada bulan Sya'ban, Robiul Awal dan Muharam. Maka mesti Kang Fauzi ketika ditanya Abah masih tetap Persis, bisa jadi hatinya sudah beda, NU seperti istrinya.
Udin Salemo
Preman mabok injak kaki suruh beli minyak A. Goyang gemoy tentu takut sama orang mabok. Orang mabok akal kurang mikir. Sok kaya biar tekor asal kesohor. Amsiong.
Er Gham 2
Gas menghilang, misalnya. Buat tungku batu bata. Stok arang dan kayu bakar. Pakai kompor listrik, terlalu besar watt nya. Tanam ubi jalar pakai karung di halaman rumah. Tanam juga cabe dan sayur. Tidak mungkin tanam padi. Jarak dekat bisa pakai sepeda. Kerja dan sekolah balik lagi online. Offline cukup 2 kali seminggu. MBG stop dulu lah. Negara butuh uang banyak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 95
Silahkan login untuk berkomentar