عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ : يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ١٦٨
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,
Pada momentum Hari Raya Idul Adha kali ini, marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah swt yang masih memberikan nikmat umur panjang sehingga kita bisa menjumpai bulan suci ini. Sebagai wujud syukur, mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Di antara nikmat besar yang Allah berikan kepada kita adalah nikmat kesehatan. Dengan tubuh yang sehat, kita mampu beribadah, bekerja, menuntut ilmu, dan berinteraksi dengan orang lain dengan baik. Karena itu, menjaga kesehatan termasuk bagian dari rasa syukur kepada Allah.
Momentum Idul Adha ini adalah momentum yang tepat dan mulia, yang mengajarkan kita tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial. Pada hari-hari Idul Adha, kita menikmati nikmat daging kurban yang dibagikan dan insya Allah merupakan daging yang halalan thayyiban (halal dan baik).
Perlu kita pahami, Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mendapatkan makanan yang halal, tetapi juga bagaimana mengonsumsinya dengan baik dan sehat agar membawa keberkahan bagi tubuh dan kehidupan kita.
Hal ini telah diingatkan oleh Allah swt dalam firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ١٦٨
Artinya: “Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.” (QS Al-Baqarah: 168).
Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsir Al-Qur’anil Azhim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini pernah dibaca di sisi Nabi Muhammad saw. Kemudian Saad bin Abi Waqash berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku orang yang diijabah doanya”.
Nabi Muhammad bersabda: “Wahai Sa’ad, perbaikilah makananmu, maka engkau akan menjadi orang yang doanya diijabah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, sungguh seseorang yang memasukkan satu suapan haram ke dalam perutnya, maka amal ibadahnya tidak diterima selama 40 hari, dan sungguh hamba yang dagingnya tumbuh dari sesuatu yang haram dan riba, maka api lebih utama untuknya”.
Dari kisah ini kita bisa mengambil pesan dan ajaran dari Rasulullah bahwa makanan yang halal dan thayib juga akan berpengaruh terhadap keberkahan hidup. Makanan yang halal dan thayib akan menjadi penentu apakah doa dan ibadah kita diterima oleh Allah atau tidak.
Itulah mengapa kita harus terus memperhatikan kehalalan dan kebaikan makanan yang kita konsumsi. Bukan hanya halal dan baik dari sisi dzatnya, tetapi juga halal dan baik dari sisi haliyah, yaitu cara kita memperolehnya.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Oleh karena itu, ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,