5 Khutbah Idul Adha 2026 Versi NU Singkat dan Padat, Referensi untuk Khotib

Minggu 24-05-2026,15:52 WIB
Reporter : Adinda Salsabila
Editor : Adinda Salsabila

Mari kita perhatikan konsumsi daging pada masa Idul Adha ini. Momentum Idul Adha sering menjadi saat masyarakat mengonsumsi daging dalam jumlah lebih banyak dibandingkan hari-hari biasa. Berbagai hidangan disajikan, mulai dari sate, gulai, rendang, tongseng, hingga sop. Semua itu adalah nikmat Allah yang patut disyukuri. Namun, jika tidak disikapi dengan bijak, hal ini justru dapat berdampak buruk pada kesehatan.

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah memilah bagian daging kurban yang akan dikonsumsi. Tidak semua bagian daging memiliki dampak kesehatan yang sama. Banyak orang justru lebih menyukai bagian yang tinggi lemak dan jeroan, padahal jika dikonsumsi berlebihan, hal itu dapat meningkatkan kolesterol, tekanan darah tinggi, asam urat, hingga risiko penyakit jantung.

Karena itu, pilihlah bagian daging yang lebih sehat, yaitu daging merah yang sedikit lemak. Kurangi konsumsi gajih, kulit berlemak, otak, paru, usus, dan jeroan secara berlebihan, terutama bagi orang yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau asam urat.

Selain memilih bagian daging, cara memasak juga sangat menentukan kualitas makanan untuk kesehatan. Kadang, yang membuat makanan menjadi tidak sehat bukan dagingnya, tetapi pengolahannya yang terlalu banyak santan, minyak, dan garam, serta pembakaran yang terlalu gosong. Akan lebih baik jika sebagian daging diolah menjadi sop, semur, atau dipadukan dengan sayur-sayuran agar lebih seimbang.

Islam mengajarkan keseimbangan dan melarang sikap berlebihan dalam berbagai hal, termasuk dalam urusan makan dan minum. Allah Ta’ala berfirman:

۞ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَࣖ ۝٣١

Artinya: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Ayat ini sangat relevan pada momentum Idul Adha. Nikmat Allah harus dinikmati dengan rasa syukur, tetapi tetap menjaga kesehatan dan tidak berlebihan.

Rasulullah SAW juga telah mengingatkan dalam sabdanya:

مَا ملأَ آدمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطنٍ، بِحَسْبِ ابنِ آدمَ أُكُلاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فإِنْ كَانَ لا مَحالَةَ فَثلُثٌ لطَعَامِهِ، وثُلُثٌ لِشرابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Artinya: “Tiada tempat yang manusia isi yang lebih buruk daripada perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun, jika ia harus (melebihinya), maka hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas.” (HR. Ahmad)

Kaum muslimin, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Selain memperhatikan pola konsumsi daging, ada hal yang tidak kalah penting pada momentum Idul Adha, yaitu memastikan penyembelihan hewan kurban dilakukan secara halal dan thayyib sesuai tuntunan syariat.

Hewan kurban yang baik harus disembelih dengan benar agar dagingnya halal untuk dikonsumsi dan tetap sehat. Penyembelihan yang tidak sesuai syariat dapat memengaruhi kehalalan dan kualitas daging. Oleh karena itu, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam penyembelihan syar’i.

Pertama, hewan kurban harus sehat, cukup umur, tidak cacat, dan layak disembelih. Hewan yang sakit atau terlalu kurus tentu tidak memenuhi prinsip thayyib karena kualitas dagingnya buruk dan dapat berdampak pada kesehatan.

Kedua, penyembelih harus seorang Muslim yang memahami tata cara penyembelihan yang halal. Penyembelih hendaknya memiliki ilmu dan keterampilan agar proses penyembelihan berjalan dengan benar serta tidak menyiksa hewan.

Kategori :